
Langit bertabur bintang dengan cahaya bulan menerangi malam ini. Udara begitu sejuk di penghujung tahun mengantarkan harapan baru.
Kemelut dalam dada sudah berakhir, kini berganti manisnya kebahagiaan. Tidak ada yang bisa menggantikan bagaimana nikmatnya sebuah perjuangan, selain hasil yang didapatkan setelahnya. Di balik kepedihan datang menerjang akan ada pelangi menggantikannya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Zaidan tiba di rumah setelah seharian bekerja. Hari ini ia terlambat pulang, sebab harus bertemu dengan para klien.
Selesai memarkirkan mobil, ia pun berjalan gontai mencapai pintu depan dan membukanya pelan. Ruang tamu seketika tertangkap pandangan, hawa dingin menyambut kedatangan.
Kegelapan menyelimuti membuat ia mengerutkan dahi dalam. Ia mencari-cari saklar lampu dan menyalakannya cepat.
Di atas meja tidak jauh dari keberadaannya, ia mendapati selembar kertas tergeletak. Ia berjalan mendekat, membawa, dan membacanya.
"Ikuti kelopak itu?" gumamnya membaca tulisan yang tertuang di sana. "Apa maksudnya? Dan ... ke mana Alina pergi? Kenapa sepi sekali?" racau Zaidan sembari mengitari ruangan yang tertangkap pandangan.
Sedetik kemudian bola matanya pun beralih ke bawah. Tepat di sebelah kaki kanannya ia melihat kelopak mawar merah tersebar lurus ke depan.
Kelereng cokelat susunya mengikuti ke mana kelopak itu pergi. Kedua kaki jenjang itu pun berjalan menelusuri instruksi yang diberikan.
Sampai tidak lama berselang ia tiba di taman belakang rumah. Jalan setapak yang menghubungkan ruang keluarga dan luar pun di hiasi lilin-lilin kecil sebagai penerang di kedua sisinya.
Zaidan terkejut dan terus berjalan sampai pandangannya berhenti pada satu objek. Manik jelaganya melebar sempurna menyaksikan wanita cantik bergaun putih dengan hijab yang senada tengah tersenyum manis.
Zaidan terpaku, terdiam, dengan pikiran gamang. Ia tidak bisa berpikir jernih atas apa yang dilihatnya saat ini.
Alina yang berdiri di depan meja makan itu pun senang melihat reaksi sang suami. Ia kemudian mendekat dan mendongak tepat di depan Zaidan.
"Selamat datang di rumah, aku memberikan kejutan untukmu, Sayang," jelas Alina lembut.
Zaidan masih berada diambang kesadaran. Kepala bersurai hitam legamnya menoleh menelusuri apa yang sudah diperbuat sang istri.
Tidak jauh dari keberadaannya, ia melihat sebuah meja berbentuk bulat dengan alas meja berwarna putih terdapat berbagai macam makanan mewah, di sana juga dihiasi dengan dua lilin kecil yang menambah kesan romantis. Di bawah meja pun terdapat kelopak mawar tersebar mengelilinginya.
Diner sudah dipersiapkan begitu matang oleh Alina. Ia tidak menyangka jika wanita yang tengah hidup bersamanya sampai detik ini bisa memberikan kejutan tak terduga.
"Sa-Sayang." Panggil Zaidan dan dengan gerakan patah-patah menoleh kembali pada pasangan halalnya.
__ADS_1
Gemas melihat tingkah polos sang suami, Alina terkekeh pelan dan terus memperhatikan Zaidan. Ia lalu berjinjit membubuhkan kecupan hangat di bibir menawan belahan jiwanya.
Seketika Zaidan diam membeku. Ia benar-benar tidak menyangka mendapatkan kejutan romantis seperti itu dan serangan tak terduga.
Ia terbelalak, mulutnya terbuka sedikit, dan memandangi Alina yang tengah tertawa pelan.
"Sayang, kamu lucu sekali." Alina tidak bisa menghentikan tawa sampai membuat Zaidan pun sadar.
Pria dengan dua anak itu pun menyeringai lebar lalu menarik pergelangan tangan Alina membuatnya berhenti tertawa. Sang empunya tersentak saat pandangan mereka saling bertemu lagi.
Sebelah tangan Zaidan merangkul pinggang Alina posesif tidak ingin melepaskannya barang sedetik saja. Ia terus menatap lekat sang istri membuatnya terdiam.
Wajah keduanya begitu dekat, napas mereka pun saling memburu serta bertubrukan satu sama lain dan bercampur di udara.
Aroma maskulin dan vanilla menjadi satu, keduanya saling menyelami keindahan bola mata masing-masing disertai debaran jantung yang kian menggila.
Sesekali angin datang menemani sepasang suami istri di sana. Hal tersebut membaut keduanya saling mendekat dan memiringkan kepala.
Sedetik kemudian penyatuan terjadi, Alina menarik pergelangannya dan mengalungkannya di leher jenjang sang pria.
Zaidan pun semakin menekan pinggang sang pujaan membuat tubuh mereka saling menempel. Hawa dingin tidak begitu terasa kala kehangatan menyebar di sana.
Kurang lebih tiga menit berlalu, kedua insan itu pun mengakhiri kegiatannya. Kedua dahi mereka masih saling menempel dengan mulut merah padam.
Lengkungan bulan sabit tercipta kala keharuan menyeruak dalam dada. Alina masih berjinjit menyamakan tinggi badannya dengan sang suami.
Tangannya pun bergerak mengukung kepala bulat Zaidan. Jari jemari lentik itu memainkan surai lembut membuat prianya tersenyum semakin lebar.
"I love you."
"I love you too more, Honey."
Kata cinta terungkap jua, angin menerbangkannya ke angkasa lepas sebagai tanda kisah keduanya akan terus berjalan.
Manisnya kehidupan rumah tangga tengah dikecap. Harmonis menjadi satu kata penyatuan mereka.
__ADS_1
Cinta bisa datang kepada siapa saja tanpa diduga dan tanpa disangka-sangka. Kehadirannya bagaikan sebuah misteri, mengandung magic mendatangkan sebuah perasaan asing yang mendebarkan bagi seseorang.
Cinta sejati hanya bisa didapatkan setelah akad berdengung, sebagai tanda jika seseorang itu benar-benar tulus dan serius.
Kegagalan bukanlah sebuah akhir, justru di baliknya terdapat sebuah keberhasilan yang tertunda. Meskipun banyak air mata yang terbuang, yakinlah jika setelahnya akan ada tawa sebagai bentuk rasa syukur.
...***...
Zaidan masih membelenggu sang istri tercinta di dalam pelukan. Mereka masih melempar senyum mengungkapkan kebahagiaan.
Ia kemudian memberikan kecupan ringan di seluruh wajahnya. Alina terkekeh pelan merasakan begitu dicintai dan didambakan sang suami.
"Terima kasih untuk kejutannya, aku benar-benar tidak menduganya," kata Zaidan kemudian.
"Em, tidak masalah, Sayang. Sebenarnya ... aku sudah lama ingin memberikan kejutan ini padamu, tetapi ada saja halangannya," keluh Alina.
Zaidan pun melepaskan pelukan dan beralih menggendong istrinya. Alina pun terpekik, terkejut atas tindakan tiba-tiba sang suami.
Tanpa mengatakan sepatah kata Zaidan berjalan ke arah meja dan mendudukkan Alina di sana. Ia meletakan kedua tangan di sisi kanan dan kiri pasangan hidupnya.
Alina pun kembali meletakan tangan di bahu lebar Zaidan. Mereka saling bertatap-tatapan menyelami pesona masing-masing.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku sangat senang kamu sudah menyiapkan semua ini untukku, itu artinya ... kamu sangat memikirkan ku," kata Zaidan membalas ucapan Alina tadi.
Kepala berhijab itu mengangguk beberapa kali lalu mengusap puncak kepala Zaidan. "Alhamdulillah, syukurlah. Aku senang mendengarnya dan ... aku memang selalu memikirkan mu, Sayang."
Zaidan pun tersenyum lebar dan kembali mendekatkan wajahnya. Melihat itu Alina langsung menangkup kedua pipi sang suami membuat pria itu merengut.
"Ada apa?"
Bukan jawaban yang diterima, melainkan sebuah benda kenyal nan hangat menubruk bibir menawannya. Zaidan senang bukan main, di dalam hatinya ia tengah berteriak, berjingkrak-jingkrak atas inisiatif yang dilakukan Alina.
Ia mengikuti permainan yang dilakukannya, membuat mereka kembali terlena atas ciuman membara. Tidak ada siapa pun di sana, hanya pasangan itu yang tengah dimabuk asmara.
Perasaan keduanya tersampaikan lewat gerakan impulsif sebagai tanda kasih sayang. Cinta melebur menjadi satu membentuk ikatan yang semakin kuat.
__ADS_1
Keberadaan satu sama lain bagaikan candu yang tidak bisa terbantahkan. Romantis, menjadi satu kata menggambarkan kebersamaan mereka.
...Bersambung......