
Raksi kebahagiaan menguar pada setiap tamu undangan yang datang. Senyum mengembang di wajah cantik kedua pengantin wanita tersebut. Langkah demi langkah mereka tapaki mendekati keberadaan pangerannya masing-masing.
Binar kelegaan tersorot dari manik jelaga mereka. Alina mengedarkan pandangan melihat sang buah hati tengah duduk di belakang seorang pria yang kini sudah menjadi suaminya.
Air mata tiba-tiba saja merengsek keluar dan siap meluncur kapan saja. Ia berusaha menahannya sampai seseorang menuntunnya mendekati Zaidan.
Aroma bunga melati seketika menyapa indera penciuman, Zaidan memandangi wajah sang istri. Ada kebanggan sendiri di dalam hatinya kala mulai sekarang Alina sudah menjadi miliknya.
Kedua pasangan pengantin itu pun kini sudah duduk saling berdampingan. Alina terus menyembunyikan wajah kala merasakan pandangan orang lain mengarah padanya.
"Mulai sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, kamu bisa mencium keningnya dan mendo'akannya," kata sang penghulu.
Zaidan merubah posisi duduknya menjadi menghadap Alina. Sang istri hanya menggeser sedikit kala masih terasa canggung.
Zaidan mengulurkan tangannya yang gemetaran, Alina tersentak dan ragu untuk menerimanya.
"Tidak apa-apa, kalian sudah sah sekarang," kata saksi yang melihat keraguan Alina.
Ia pun tersadar dan berusaha mencapai tangan tegap suami barunya. Zaidan tersenyum hangat melihat kesungguhan Alina yang selama ini menjaga diri.
Sampai tidak lama berselang tangan ramping Alina menggenggamnya erat. Zaidan terpaku dengan kelembutan dan kehengatan yang dirasakannya.
Sang istri lalu membawanya dan memberikan kecupan ringan di sana. Setelah itu Zaidan meletakan tangan kiri dan menengadahkan tangan kanan lalu mengucapkan sebait do'a untuk istrinya.
Alina pun mengangkat kedua tangan mengaamiinkan do'a sang suami. Tiba saatnya momen mendebarkan kedua datang.
Perlahan tangan tegap Zaidan terulur menangkup hangat pipi putih sang pujaan. Alina menoleh sekilas lalu memandang ke bawah menghindari tatapan.
__ADS_1
Pelan, tapi pasti Zaidan mendekatkan wajah ke dahi lebar Alina. Kecupan hangat dari benda kenyal pun mengalirkan darah ke sekujur tubuh.
Alina menegang kembali merasakan sentuhan lembut dari seorang pria. Debaran jantung terus berpacu layaknya lari marathon. Ia tidak menyangka dan menduga kejutan yang Allah berikan selepas perginya rasa sakit begitu manis.
Banyak kamera mengabadikan momen tersebut. Keluarga Zaidan khususnya sang ibu menitikan air mata menyaksikan sang putra menikah.
Sang Nyonya Besar itu pun larut dalam kebahagiaan dan terus mendo'akan yang terbaik bagi mereka. Moana bersyukur Zaidan mempersunting wanita baik seperti Alina.
...***...
Acara sakral berakhir mendamaikan, kini para tamu turut memberikan ucapan selamat bagi kedua pasangan tersebut. Satu persatu orang-orang menyalami mereka dan ikut merasakan suka cita mendera.
Namun, di balik kebahagiaan itu sepasang mata elang memandangi satu sosok di sana. Jari jemari tegasnya mengepal erat menyaksikan Alina tengah bersama pria lain di atas pelaminan.
Wajah tirusnya menahan emosi dengan dada naik turun. Ia tidak percaya jika mantan istrinya sudah bersanding dengan orang lain, terlebih bersama mantan rekan kerjanya sendiri.
Kedua hazelnut Alina seketika melebar sempurna saat melihat mantan suaminya datang. Ia tidak tahu jika keluarga Zaidan mengundang Azam ke pernikahannya.
Hingga mereka pun saling berhadapan dengan pandangan saling mengunci satu sama lain. Melihat ketegangan di manik bulan sang istri, Zaidan langsung merangkul pinggangnya posesif.
"Tuan Azam, Anda datang?" tanyanya mengalihkna perhatian.
Azam menoleh padanya sekilas dan kembali menatap Alina. "Aku tidak percaya kamu secepat ini bisa menikah lagi. Baru beberapa bulan kita berpisah dan kamu sudah menemukan tambatan hati yang baru? Bukankah kamu tidak jauh berbeda denganku?"
"Sebelumnya apa kalian sudah saling mengenal? Kamu diam-diam bertemu dengan dia di atas pernikahan kita waktu itu? Kenapa Alina? Kenapa kamu bisa setega ini padaku? Jadi, benar kata wanita di persidangan waktu itu kamu berselingkuh? Alina, apa kamu tidak mempunyai hati?"
"Aku terpuruk, keskitan, saat ketuk palu itu diberikan, tetapi kamu? Kamu malah berdekatan dengan pria ini? Aku tahu aku salah, Alina, tapi ... sudah tidak adakah kesempatan untukku lagi? Aku mencintaimu ... dan aku tidak menduga kamu bisa semurah ini."
__ADS_1
Azam terus mengutarakan kata-kata pedas yang sudah ditahannya sedari tadi. Seketika itu juga tubuh Alina bergetar hebat. Ia tidak menduga jika akan mendengar hal tersebut dari mantan suaminya.
Ada benarnya juga apa yang dikatakan Azam. Mereka baru saja berpisah kurang lebih lima bulan lamanya, tetapi ia memutuskan untuk kembali menikah setelah masa iddahnya selesai.
Kata-kata tidak jauh berbeda dengan Azam terus berdengung dalam pendengaran. Alina menggelengkan kepala beberapa kali mencoba mengenyahkan.
Melihat kondisi sang istri memburuk Zaidan langsung memasang badan. Ia menyembunyikan Alina di balik punggung tegapnya.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya, Tuan Azam. Mulai saat ini Alina sudah sah menjadi istri saya. Jadi, Anda tidak pantas mengat-ngatai istri saya seperti itu. Masa lalu sudah berlalu, biarkan Alina membuka lembaran baru tanpa harus ada bayang-bayang Anda. Menikah dalam waktu dekat atau lama itu sudah menjadi keputusan Alina sendiri. Anda tidak ada bisa ikut campur dalam pilihannya."
"Saya memang sudah mengagumi Alina sejak kalian masih menikah. Namun, saya sadar diri karena dia masih berstatus sebagai istri orang. Melihat Anda memperlakukan Alina tidak baik mendorong saya untuk melindunginya. Jadi tidak ada alasan yang mendasar jika Anda menuduh Alina berslingkuh." Zaidan melangkahkan kaki ke depan dan bersitatap dengan Azam.
Ketegangan pun tercipta dan sorot mata berkobar memandang satu sama lain. "Anda sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Alina, selain ayah dari Raihan. Kamu pria bodoh yang pernah aku temui. Karena sudah menyianyiakan istri sebaik dan secantik Alina. Mulai sekarang nikmati waktu penyesalanmu, Azam."
Zaidan melepaskan keformalannya dan menatap nyalang pria tepat di depannya. Azam menggeram, emosinya kembali memuncak. Ia ingin memberikan peringatan pada tuan acara itu, tetapi Jasmin menceganya.
"Saya minta maaf," kata Jasmin menyesal.
Ia menundukan kepala singkat dan menarik Azam pergi dari sana. Zaidan masih memandangi kepergian pria itu dengan kemarahan berkobar dalam dirinya.
Ia tidak terima jika Alina dituduh tidak benar. "Aku bersumpah akan melindungi Alina dari pria sepertimu," gumamnya.
Kata-kata itu menarik atensi Alina yang mendongak melihat wajah sang suami dari samping. Ia bersyukur bisa di pertemukan dengan sosok rupawan bernama Zaidan.
Hal tersebut membuat perhatian para tamu menatap kejadian tadi, mereka lalu berbisik-bisik membicarakannya. Alina menatap sekitaran dan tahu jika ia sudah mengacaukan pesta pernikahannya sendiri.
Ia merasa sangat bersalah kepada orang tua, keluarga, serta Zaidan sendiri. "Aku benar-benar sudah mengacaukannya. Jika bukan aku wanita yang dinikahi Mas Zaidan, pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Aku sudah mempermalukan keluarga mereka di hadapan orang-orang besar itu," monolog Alina gelisah.
__ADS_1
...Bersambung......