
Malam menjelang, Raihan tengah berada di kamar sang ayah bersama dan juga ibu sambungnya, Jasmin. Sedari tadi bocah berusia delapan tahun itu tidak melakukan kegiatan apa pun.
Hal tersebut mengundang kekhawatiran kepada Azam. Tidak biasanya sang anak terus diam tidak mengatakan sepatah kata.
"Sayang," panggilnya mendekati buah hati.
Raihan yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang mendongak pelan lalu kembali menunduk dalam. Azam menautkan kedua alis, tidak mengerti dan merangkulnya hangat.
Jasmin yang tengah duduk di sofa tunggal menghadap mereka pun memerhatikannya dalam diam. Ia menyadari jika anak dari mantan madunya itu memikirkan sang ibu. Itu terlihat begitu kuat dari sorot matanya yang sendu.
"Alina sangat beruntung dianugerahi putra sebaik dan sepintar, Raihan," benaknya tersenyum hangat.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan, hm? Kamu belum makan dari tadi. Kita makan dulu, yah," ajak Azam membuka komunikasi lagi.
Raihan menggeleng pelan sambil memilin ujung kemeja putihnya pelan. Tidak lama setelah itu Azam melihat tubuh putra keduanya bergetar. Ia pun terkejut dan terlonjak menegakan tubuh sambil menangkup kedua bahu Raihan.
"Hei, Sayang kenapa kamu menangis?" tanya Azam khawatir.
Melihat itu Jasmin pun berjalan mendekat dan duduk tepat di depan Raihan. Ia mengambil kedua tangan kecil dan menggenggamnya lembut.
"Apa kamu mengkhawatirkan mamah, Sayang?" tanya Jasmin kemudian.
Raihan mengangguk beberapa kali seraya terus terisak. Jasmin menoleh pada Azam yang juga membalas tatapannya.
"Peluk dia," kata Jasmin tanpa bersuara.
Tanpa disuruh dua kali Azam langsung memeluk Raihan lalu mengusap lembut punggungnya.
"Syut, jagoan Ayah jangan menangis. Mamah baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa pun," kata Azam menanangkan.
"Raihan ... Raihan takut mamah menangis lagi. Karena sebelum pergi dari rumah nenek, mamah seperti bertengkar dengan kakek buyut dan ... dan ayah Zaidan tidak menyusul kami," jelas anak tersebut sembari sesenggukan.
Azam menoleh ke samping menatap manik sang istri. Ia lalu menghela napas bangga sekaligus takjub pada kepekaan buah hatinya. Ia tercengang ternyata Raihan sedikit tahu apa yang terjadi pada orang tuanya, khususnya sang ibu.
"Sayang, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh yah. Mamah dan ayah Zaidan baik-baik saja, mereka sekarang sedang bersama di kamar sebelah," jelas Azam.
Raihan pun langsung melepaskan pelukan ayahnya kemudian mendongak mencari pembenaran di iris Azam.
__ADS_1
"Benarkah itu Ayah?" tanyanya memastikan.
Azam mengangguk yakin sambil mengulas senyum jika semua akan baik-baik saja.
"Itu benar, Sayang."
"Apa yang dikatakan Ayah benar, Sayang. Saat ini mamah dan ayah Zaidan sedang bersama-sama," kata Jasmin menegaskan kembali.
Raihan menoleh padanya dengan lengkungan bulan sabit hadir. Kepala bulat bersurai hitam legam itu pun mengangguk sekilas.
"Em, kalau begitu Raihan tenang. Terima kasih, Ibu." Raihan melemparkan diri kepelukan sang ibu sambung.
Jasmin terperangah, sedetik kemudian mengusap punggung putra keduanya sayang. "Sama-sama, Sayang, tapi untuk saat ini Raihan tidur bersama Ibu dan Ayah dulu yah."
"Eung, Raihan akan tidur di sini," katanya patuh.
Azam dan Jasmin pun saling pandang seraya tersenyum hangat. Mereka bersyukur keluarganya sudah baik-baik saja.
Tanpa mempedulikan masa lalu, baik Alina maupun Azam dan Jasmin, hubungan mereka sudah kembali membaik. Seolah tidak ada permasalahan yang terjadi, mereka menjadi keluarga besar serta memulainya dari awal.
...***...
Meskipun saat ini statusnya hanya menjadi ibu dari Raihan, tetapi Alina tidak merasa canggung berada di kediaman sang mantan. Ia senang bisa berguna bagi keluarganya, walaupun hanya menghidangkan makanan sederhana.
Aroma penggugah selera tersebut menyadarkan sang putri. Kamar yang berada tepat di depannya itu pun terbuka menampilkan kepala bersurai sebahu menyembul keluar. Alina mendongak melihat putri pertamanya membelalakan mata lebar.
"Assalamu'alaikum ... selamat pagi, Sayang," sapa Alina dengan senyum lebar.
"Wa-wa'alaikumsalam ... Ma-Mamah? Kenapa Mamah ada di sini?" Aqeela terkejut dan berjalan mendekat lalu duduk di kursi meja makan.
"Oh iya, kamu pulang larut malam yah habis dari study tour? Sebenarnya semalam Mamah dan Raihan menginap di sini," jelas Alina masih berkutat dengan pekerjaannya memotong-motong sayuran.
"Benarkah? Kenapa ayah tidak memberitahuku?" keluh gadis berusia hampir sepuluh tahun tersebut.
Alina terkekeh mendengarnya, "mungkin ayah ingin memberimu kejutan."
Aqeela mengangguk-anggukan kepala mengerti. Ia menopang dagu menyaksikan Alina begitu nyaman dengan kegiatannya. Bibir semerah cery itu melengkung sempurna teringat akan masa lalu saat mereka masih tinggal satu atap.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa Aqeela bantu, Mah?" tanyanya kemudian.
"Tidak apa-apa, kamu duduk saja sarapannya hampir selesai."
Namun, Aqeela tidak mengindahkan perkataannya. Ia turun dari kursi dan mengitari meja lalu berdiri tepat di samping Alina.
"Tidak, Aqeela mau membantu Mamah," katanya sambil menyambar daging yang belum dicuci.
"Baiklah, kamu bisa membantu mencuci beberapa bahan makanan," balas Alina. Aqeela mengangguk dan tersenyum senang.
Ibu dan anak sambung itu pun bekerja bersama-sama. Sesekali gelak tawa terdengar begitu renyah berdengung menarik perhatian penghuni lain.
Di tengah kesenangan memasak, keempat orang yang ada di sana mendekat ke arah dapur. Mereka menyaksikan kegiatan Alina dan Aqeela.
"Kalian sedang apa?" tanya Jasmin menginstrupsi.
Kedua orang itu pun berhenti dan memandang lurus ke depan menatap keempat orang di sana bergantian.
Aqeela melihat jika adik kecilnya sedang digendong oleh sang ayah. Ia mendongak pada Alina yang juga tengah menunduk menatapnya. Mereka tersenyum lebar lalu mengangguk kompak.
"Aqeela dan Mamah sedang menyiapkan sarapan," jelas Aqeela.
"Kenapa Mamah dan Kakak bangunnya pagi-pagi sekali? Raihan masih mengantuk." Raihan menguap lebar dan semakin menyamankan posisi kepalanya di bahu lebar sang ayah.
"Sayang, bangun waktunya sarapan, Nak," kata Alina mencela.
"Tidak apa-apa, Alina. Raihan masih mengantuk." Azam membela putranya.
Zaidan hanya berdiri menyaksikan keharmonisan yang tersaji di sana. Ia senang hubungan Alina dan mantan suaminya sudah baik-baik saja.
Tidak ada dendam ataupun kekesalan yang terlihat di kedua mata itu. Alina begitu menikmati kehidupannya saat ini meskipun rumah tangga mereka sedang diuji.
"Wanita baik itu milikku sekarang. Aku senang pada akhirnya mereka bisa menjadi keluarga bahagia yang akur, dan ... aku pun termasuk di dalamnya. Terima kasih ya Allah, dan hamba tidak ingin kehilangan Alina. Dia istri yang sangat luar biasa, aku benar-benar mencintainya," monolog Zaidan dalam diam.
Tidak lama berselang masakan Alina dan Aqeela pun sudah jadi. Mereka menikmatinya bersama-sama dengan obrolan ringan sebagai peneman.
Gelak tawa kembali berdengung menyaksikan kelakuan Raihan yang mencoba membuka mata dari rasa kantuk. Alina dan Azam sebagai orang tua kandungnya pun harus bekerja ekstra agar sang buah hati mau terjaga.
__ADS_1
Tidak ada yang menyangka jika kehidupan harmonis mereka pernah ditimpa bencana hebat. Namun, semua itu sudah menjadi masa lalu dan mereka akan memulai semuanya dari awal melupakan apa yang telah terjadi.
...Bersambung......