Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 151 (Season 3)


__ADS_3

"Aku minta maaf ... aku benar-benar minta maaf."


Kata maaf terus terlontar membuat Alina mendengus pelan. Ia menepuk-nepuk punggung suaminya seraya menenangkan diri.


"Sudahlah aku tidak apa-apa," balasnya.


"Aku minta maaf ... aku hanya takut tidak bisa menafkahimu."


"Apa yang Mas katakan? Rezeki itu sudah Allah atur, aku mau menikah denganmu sebab melihat kesungguhan yang Mas berikan. Harta, tahta, dan rupa hanyalah titipan yang bisa saja Allah ambil kapan pun itu."


"Harta yang kita punya bukan sepenuhnya milik kita. Kapan pun, di manapun, dan bagaimanapun Allah menginginkannya itu akan kembali pada pemilik yang sesungguhnya. Jika kita percaya, yakin, mau berusaha, dan berikhtiar Allah pasti akan memberikan rezeki," tutur Alina menasehatinya.


Zaidan termangu dan tersadar atas apa yang sudah dilakukannya. Ia semakin mengeratkan pelukan dan kembali mengatakan maaf.


Mereka terus saling mendekap satu sama lain memberikan kekuatan. Ujian di awal pernikahan datang begitu cepat. Namun, keduanya sadar dan percaya jika di balik itu ada hikmah yang sudah Allah atur sebaik mungkin.


Jam sudah menunjukan pukul setengah empat. Di tengah ketenangan sore hari, tiba-tiba saja kediaman Zaidan didatangi beberapa orang berbadan kekar.


Sang penghuni yang tengah menikmati kebersamaan bersama keluarganya pun merasa terusik. Zaidan berjalan tegap menuju pintu depan yang sedari terus digedor tanpa henti.


"Apa yang kalian lakukan di rumah saya? Kalian tidak sopan sudah mengganggu," katanya tidak ramah.


Ketiga pria berkaos hitam itu pun saling pandang lalu menunduk sekilas padanya.


"Kami minta maaf Tuan Muda, tetapi kedatangan kami ke sini untuk mengeluarkan semua barang-barang di rumah ini, termasuk ... Anda Tuan Muda," ungkap salah satu dari mereka.


Zaidan berdecak seraya menoleh ke samping sekilas. "Jadi, kakek yang sudah menyuruh kalian untuk mengusirku dari rumah ini? Kalian dengar yah rumah ini aku dapatkan dari hasil jerih payahku selama ini. Tidak ada sangkut pautnya dengan kakek."


Salah satu dari mereka kembali mencela. "Kami minta maaf Tuan Muda. Kami hanya mengikuti apa yang sudah ditugaskan saja."

__ADS_1


"Apa yang mereka katakan benar. Kamu tidak punya hak atas rumah ini, meskipun hasil dari keringatmu sendiri, tapi ... apa kamu lupa dari mana uang itu berasal?"


Suara serak menginterupsi membuat atensi keempat pria di sana menoleh ke samping. Zaidan mengepalkan kedua tangan saat tetua keluarga Zulfan hadir tepat di depan mata kepalanya sendiri.


Sang kakek tersenyum lebar sembari meletakan kedua tangan di atas tongkat. Di sebelahnya berdiri beberapa bodyguard yang salah satu dari mereka memayunginya.


"Apa yang Kakek lakukan? Tidak puas sudah melengserkanku dari jabatan CEO dan sekarang Kakek ingin mengambil rumahku juga? Apa yang Kakek pikirkan? Kenapa kekanak-kanakan sekali?" kata Zaidan tidak percaya.


Dawas mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Apa kamu lupa apa yang Kakek katakan dua hari lalu? Kalau Kakek akan mengambil semua aset yang kamu punya, termasuk rumah ini. Karena uang yang kamu dapatkan tidak lain dan tidak bukan dari pendapatan perusahaan keluarga Zulfan. Kamu akan kehilangan semuanya jika tetap bersikukuh bersama wanita itu."


Zaidan mendengus kasar seraya menyeringai lebar lalu mengangguk-anggukan kepala.


"Baik jika itu memang keinginan Kakek, silakan ambil semuanya. Karena aku akan tetap bersama Alina sampai kapan pun. Kakek atau siapa pun tidak bisa memisahkan kami."


Setelah mengatakan itu Zaidan melenggang masuk ke dalam menyisakan kekesalan dalam benak sang kakek.


...***...


Alina mengangguk sekilas kala teringat pertemuannya tadi siang. Ia tidak menyangka jika sore ini pria tua itu datang dan mengambil alih semuanya.


"Kalau begitu selamat tinggal, nikmati harta Kakek sendirian," kata Zaidan tegas nan lugas lalu menarik Alina untuk meninggalkan kediaman tersebut.


Namun, sebelum mereka benar-benar pergi perkataan Dawas kembali mencela.


"Puas kamu sudah membuat Zaidan menderita dan membangkang kepada Kakeknya sendiri? Alina, kamu benar-benar wanita yang tidak tahu diri."


Kata-kata itu seketika membuat langkah Alina terhenti. Ia berbalik menatap ke dalam mata sayu beberapa langkah di depannya. Alina kembali berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan Dawas.


"Saya tidak pernah membuat cucu Anda membangkang kepada kakeknya sendiri. Bukankah Anda yang membuatnya seperti ini? Kenapa Anda bisa menyalahkan orang lain? Menderita atau tidak itu biar kami yang merasakan."

__ADS_1


"Anda pasti berpikir jika cinta yang kami miliki ini naif dan sangat bodoh, tetapi Anda tahu? Jika cinta juga harus diperjuangkan. Harta tanpa cinta hanya sengsara yang didapatkan, tetapi cinta tanpa harta juga dusta. Karena kita juga butuh makan untuk bertahan, tetapi satu yang tidak Anda ketahui jika ... rezeki itu tidak datang dari tangan manusia, melainkan Allah semata."


"Hari ini Anda mengambil semua yang Mas Zaidan miliki, tetapi Anda lupa jika Allah Maha Kaya yang mampu memberikan lebih dari ini ... dan bisa saja DIa juga mengambil apa yang Anda miliki. Selamat tinggal, semoga Anda selalu sehat dan dalam lindungan Allah."


Seulas senyum mengakhiri perkataan Alina, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepala berhijab itu mengangguk pelan dan kembali menatap sekilas ke dalam manik Dawas.


Sang empunya melebarkannya singkat seraya menatap kepergian mereka. Pria tua itu tidak mengatakan apa pun dengan kata-kata Alina masih berputar dalam pendengaran.


Sebelum mereka benar-benar pergi satu sosok yang tidak terduga datang ke sana. Alina dan Zaidan terkejut menyaksikan aura ketegasan menguar dalam dirinya.


Ia berjalan melewati putra serta menantunya lalu berdiri tepat di hadapan sang mertua menggantikan posisi Alina tadi.


"Apa Ayah lupa siapa nama belakangku?" tanyanya langsung. "Ah biar aku ingatkan ... namaku adalah Moana Arfa. Ayah tahu siapa keluarga Arfa? Kami adalah satu-satunya keluarga yang memegang teguh pendirian. Seperti arti Arfa yaitu kejayaan maka ... Zaidan tidak akan pernah kehilangan apa-apa, sekali pun Anda mengusirnya tanpa memberikan sepersen pun. Karena di dalam dirinya mengalir darahku juga yaitu keluarga Arfa."


Moana hadir menjadi tameng yang berdiri paling depan untuk melindungi anak serta menantunya. Ia tidak bisa melihat Zaidan maupun Alina terus diolok-olok oleh Dawas. Ia tidak ingin kehidupan mereka menderita hanya untuk memenuhi keinginan egois sang kakek.


Dawas mencengkram tongkatnya erat menyaksikan sorot mata tegas milik menantunya.


"Bisa-bisanya kamu menentang keputusan Ayah?" geramnya.


"Aku minta maaf, tetapi menyangkut Zaidan ... aku tidak bisa terus diam dan melihatnya begitu saja. Dia anakku ... aku yang sudah menaruhkan nyawa untuk melahirkannya dan ... dia bukan boneka yang Ayah mainkan seenaknya. Dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan," tutur Moana tegas.


Dawas naik pitam dengan menghentakan tongkatnya kasar. "Berani-beraninya kamu-"


"Kalau begitu kami pergi dulu, selamat tinggal Ayah." Moana berbalik menggandeng lengan sang putra lalu berjalan beriringan.


Alina yang masih berada di sana menatap Dawas dalam diam lalu tersenyum manis. "Benarkan apa yang saya katakan tadi? Tidak lama Allah memberikan rezekinya dari pintu yang lain." Ia pun mengikuti ke mana suami dan ibu mertuanya pergi.


Dawas tidak terima dan semakin tersulut emosi. "Awas saja kalian!"

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2