
Benang merah yang disebut takdir akan terus mengikat kepada pemilik ceritanya masing-masing. Dua atau tiga orang sekaligus sudah menjadi ketentuan. Ada banyak cerita yang terjadi dalam setiap perjalanan. Allah penulis skenario terhebat, paling luar biasa pemilik semua kehidupan.
Canda, tawa dan air mata menjadi bumbu pelengkap yang terus berputar mengitari waktu. Seperti sebuah permainan biang lala, kala berada di bawah mengharapkan sesuatu menggapi angan serta harapan, dan ketika berada di atas kecantikan akan nampak sepanjang mata memandang. Senyum ceria pun hadir mengiringi kesempatan indah yang Allah berikan.
Selama napas masih berhembus maka kisah akan terus berlanjut.
Sama seperti yang tengah Alina jalani saat ini. Ia tidak menyangka jika akan bersanding dengan pria beristri, jauh dari harapan dan khayalan. Sang pangeran berkuda putih yang telah ia harapkan sejak lama telah dimiliki.
Tercatat dalam sejarah kehidupan bagaimana kelam nan suram perjalanan rumah tangganya. Alina pikir Azam sudah berubah menjadi suami bertanggung jawab dan adil. Namun, nyatanya pria itu berat sebelah.
Alina tahu jika Yasmin lebih membutuhkan keberadaan Azam mengingat penyakit yang tengah dideritanya. Tetapi, tidak bida dipungkiri jika Alina pun menginginkan sang suami di sisinya.
Kehamilan muda membuatnya sangat sensitif, hal sepele pun bisa membuat psikologisnya terganggu. Hingga kejadian mengerikan harus terjadi, Alina mengalami pendarahan. Sendirian tanpa didampingi sang suami. Berat nan sakit, Alina berjuang sendiri untuk buah hatinya.
Tidak lama berselang dokter yang menangani Alina keluar dari ruangan. Sarah yang setia menunggu di luar beranjak dari duduk dan berjalan mendekati pria berjas putih tersebut.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanyanya takut-takut.
"Beliau sempat mengalami pendarahan diakibatkan banyak pikiran, kelelahan dan juga stres. Saya berpesan kejadian seperti ini jangan terjadi lagi. Karena jika sampai terulang kembali maka akan berakibat fatal. Apa suaminya ada?"
Pernyataan dan pertanyaan sang dokter membekukan Sarah. Ia tidak tahu harus menjawab dan bereaksi seperti apa kala mendapatkan hal tersebut. Ada perasaan sakit yang tiba-tiba saja menyapanya perlahan.
Pria berkacamata itu menautkan kedua alis melihat reaksi Sarah. Sedikitnya ia tahu apa yang tengah terjadi.
"Lebih baik Anda segera memberitahu suaminya dan membicarakan hal ini. Karena itu yang terbaik untuk ibu dan bayi. Baiklah kalau begitu saya permisi."
Setelah itu dokter pun melangkahkan kaki meninggalkan sejuta kelumit dalam diri Sarah. Lamunan menerjangnya membuat ia masih diam di tempat. Sampai beberapa menit kemudian ia pun berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Di sana Alina tengah berbaring tak berdaya. Selang infus menancap menghiasi tangan kecilnya. Pemandangan yang tertangkap retinanya mampu memberikan embun dalam kelopak mata Sarah. Kesedihan itu timbul kala mengingat fakta yang tengah diemban oleh sosok di hadapannya.
"Jangan menangis dan melihatku dengan kasihan. Aku baik-baik saja untuk dia."
Suara lemah nan lirih terdengar ngilu mengalirkan air mata tak tertahankan. Buru-buru Sarah menghapusnya saat kepala berhijab itu menoleh. Senyum lemah dan uluran tangan di perut membuncitnya benar-benar menggetarkan perasaan Sarah. Sekuat tenaga ia menahan isak tangis yang berlomba untuk keluar.
"Ba-bagaimana dengan bayinya, Mbak?" tanya Sarah lalu duduk di samping ranjang.
Alina kembali menatap ke depan memperhatikan langit-langit ruangan. Tangan kanan tidak henti mengelus perutnya perlahan. Senyum pahit muncul mengingat kejadian mengerikan yang baru saja menghantam dirinya.
"Alhamdulillah bayinya baik-baik saja, dia sangat kuat di dalam sini. Aku juga harus kuat untuknya. Hanya aku yang dia miliki sekarang."
Sarah tahu makna tersirat dalam kata-kata yang terlontar dari balik bibir pucat Alina. "Hanya aku yang dia miliki sekarang" mengandung arti jika hanya ia seorang yang akan selalu ada untuk bayinya.
Alina kembali menoleh membalas tatapan Sarah lalu mengitari ruang inap. Tidak ada siapa pun di sana selain mereka bertiga. Aqeela yang tertidur pulas dalam gendongan Sarah menjadi pusat perhatian. Tangan berhiaskan selang infus itu terulur mengusap lembut kepala mungilnya.
"Aku panik dan tidak sempat menitipkannya pada orang lain. Aku takut sesuatu hal terjadi pada kalian, jadinya Aqeela dibawa ke sini. Aku minta maaf, Mbak. Aku benar-benar minta maaf tidak berhasil menghubungi tuan Azam."
Penjelasan Sarah membuka luka lama, pergerakan tangan Alina terhenti dengan wajah memucat. Seketika aura dingin menguar melingkupi kepedihan yang mendera. Tidak ada satu kata pun terucap setelahnya.
Detik demi detik waktu berlalu. Keheningan menyapa menyadarkan kembali pada keadaan. Semilir angin berhembus mengitari ilusi tak bertepi. Imajinasi tengah bermain mengantarkan pada kenyataan pahit jika seseorang yang ia cintai tak kunjung datang.
"Sudah kuduga, mas Azam tidak mungkin menerima panggilan dari siapa pun. Dia tidak akan pergi sebelum mbak Yasmin baik-baik saja. Aku tidak berharap lebih untuknya ada di sini, tapi bisakah sedikit saja dia meluangkan waktunya untuk anak ini?" monolog Alina dalam diam. "Ya Allah, kuatkan hamba melalui semua ini," lanjutnya lagi.
Sarah hanya diam memperhatikan majikannya yang tengah tenggelam dalam pikiran. Ia tahu apa yang sedang dirasakannya. Sebagai sesama wanita Sarah mengerti dengan perasaan Alina. Terlebih wanita itu tengah mengandung sekarang dan kejadian mengerikan seperti ini sudah sepatutnya didampingi oleh sang suami. Namun, Alina tidak mendapatkan hal tersebut.
"Ya Allah kuatkanlah Mbak Alina," batin Sarah.
__ADS_1
...***...
Pagi menjelang, langit terlihat kelabu hari ini. Udara dingin menerpa ibu kota mengantarkan rintik hujan yang perlahan turun. Tetes demi tetes air membasahi bumi mengantarkan bau tanah yang menyengat. Aroma yang mendominasi tersebut mengantarkan pada fakta sebenarnya.
Setelah mendapatkan perawatan intensif Alina pun diperbolehkan pulang. Sepanjang perjalanan hanya ada deru mesin taksi yang terdengar. Diam-diam Sarah memperhatikan berusaha untuk mengatakan semua akan baik-baik saja. Tetapi, ia takut mengganggu ketenangan Alina dan hanya membiarkannya.
Tidak lama berselang mereka pun tiba di rumah. Baru saja Alina membuka gerbang depan dahinya mengerut dalam saat menangkap mobil hitam mewah terparkir di pekarangan. Rasanya begitu berat untuk melangkah masuk.
Sarah yang tengah memapahnya sambil menggendong Aqeela pun menyadari kendaraan siapa itu. Perasaan takut sekaligus cemas tiba-tiba saja menghampiri.
Beberapa saat kemudian pintu ruang depan terbuka. Di sana, di ruang tamu sang tuan besar tengah duduk bersilang kaki menatap kedatangan mereka.
"Dari mana saja kamu?"
Suara berat nan tegas menyapa. Alina melepaskan tangan Sarah dan menyuruhnya untuk pergi. "Aku baik-baik saja, kembali ke kamar Aqeela."
Setelah mendapatkan anggukan kepala, Sarah pun berlalu membiarkan urusan rumah tangga mereka. Berkali-kali ia menoleh ke belakang melihat sorot mata keduanya. Ia enggan meninggalkan Alina hanya berdua saja dengan suaminya dalam keadaan seperti itu. Namun, Sarah tidak mau ikut campur terlalu jauh.
"Mbak kuat, Mbak Alina jangan menangis untuk bayi," batinnya kemudian menghilang dalam pintu jati di sana.
"Aku tanya, kamu dari mana? Kenapa tidak memberitahuku jika kamu pergi keluar? Aku masih suamimu, Alina!!" tegas Azam lagi.
"Jadi Mas ingat pulang?" tanya balik Alina seraya mendongak menatap ke dalam sorot mata serius itu.
"Apa yang kamu katakan, hah?! Apa aku tidak boleh pulang ke rumah sendiri?"
Nada suara Azam meninggi membuat Alina melebarkan kedua matanya. Ia tidak menyangka jika keadaan sepetri ini akan kembali terulang. Seperti de javu hari itu datang lagi.
__ADS_1