
Semilir angin berhembus menyapa sanubari jika masih ada harapan selepas badai menerjang. Rasa sakit itu sebagai tanda jika Allah masih memperhatikan hamba-Nya. Ia ingin hamba-Nya terus dan terus berharap pada-Nya semata.
Setelah beberapa saat dalam penanganan dokter, wanita berhijab instan itu pun keluar dari ruangan. Dokter Seruni langsung dikerubungi, Zaidan, Azam, Jasmin, dan Raihan. Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada Alina.
"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Zaidan langsung.
"Alhamdulillah, istri dan anak Anda baik-baik saja. Hanya saja istri Anda sempat mengalami pendarahan, hal itu terjadi sebab tekanan akan sesuatu hingga membuat sang ibu stres."
"Stres bisa memicu terjadinya pendarahan yang berpengaruh terhadap suplai oksigen ke janin. Jika suplai oksigen berkurang, bisa memicu terjadinya kelainan pertumbuhan janin. Lebih baik sekarang Anda lebih menjaganya dan jangan sampai sang ibu mengalami stress lagi. Karena itu bisa berpengaruh dan membahayakan janin," ungkap sang dokter.
Mendengar penuturannya membuat mereka terkejut, Alina mengalami stress atas apa yang terjadi. Raihan kembali menangis, otak pintarnya merespon ucapan dokter.
Ia menyalahkan diri sendiri lagi membuat Zaidan yang masih menggendongnya kembali menangkan. "Tidak apa-apa, Sayang. Jangan menangis lagi, mamah dan adik bayi baik-baik saja. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua terjadi hanya kecelakaan." Raihan mengangguk singkat dan menyembunyikan wajah di ceruk leher sang ayah sambung.
"Alhamdulillah, syukurlah kami senang mendengarnya. Terima kasih banyak, Dok," ucap Azam mewakili.
Dokter Seruni mengangguk seraya tersenyum simpul. "Setelah ibu dipindahkan ke ruang rawat kalian bisa melihatnya. Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Baik, terima kasih banyak, Dok," ucap Zaidan kemudian.
Setelah Alina di pindahkan ke ruangan ibu dan anak, Raihan terpaku menyaksikan wanita yang selama ini sangat ia hormati, sayangi, dan cintai terbujur lemas.
Ia berjalan perlahan kala kepala berhijab sang ibu menoleh padanya. Senyum lemah pun terpancar membuat jantungnya bertalu kencang.
"Ma-Mamah?" Panggil Raihan pelan.
Tangan yang bertengger selang infus terulur ke hadapannya, "Sayang," balas Alina lemah.
Tanpa menyianyiakan waktu, Raihan berlari sekuat tenaga mendekati sang ibu. Ia menggenggam erat tangan Alina seraya menumpahkan segala kepedihan dalam dada.
"Maaf, Raihan minta maaf. Mamah, Raihan minta maaf," katanya terus mengucap maaf.
Alina mengembangkan senyum mengusap pelan puncak kepala buah hatinya. Raihan terus terisak dan mengatakan maaf berulang kali.
Pemandangan tersebut membuat Zaidan bergerak mendekat. Ia menggendong Raihan lalu memangkunya di sofa tunggal dekat ranjang.
__ADS_1
Pandangan suami istri itu pun saling beradu menyelami bahasa yang terpendam dalam dada. Keduanya lalu beralih pada Raihan yang membutuhkan perhatian.
"Bagaimana keadaan adiknya, Raihan?"
Mendengar kata adik Raihan membuat sang empunya nama terpaku. Ia menegang di tempat merasakan kasih sayang tercurah dari orang tuanya.
"Dia, baik-baik saja. Adiknya Raihan sangat kuat, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Kakaknya. Sayang, mau kan menunggu adik bayi sampai lahir ke dunia?" tanya Alina menggenggam hangat sebelah tangan sang putra.
Raihan mendongak menyaksikan ketulusan cinta kasih dan sayang ibunya. "A-ku mau. Raihan mau menunggu adik bayi. Raihan minta maaf, sudah meragukan Mamah dan Ayah ... bahkan, Raihan membuat Mamah kesakitan sepert ini," ucapnya bergiliran memandangi Alina dan Zaidan.
"Sayang, bisa kamu baringkan Raihan di sebalahku?" pinta Alina pada suaminya.
Zaidan mengangguk lalu langsung membaringkan tubuh Raihan yang bergetar di samping ibunya. Seketika Alina memeluk sang putra erat dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya.
"Tidak usah minta maaf, Sayang. Mamah dan adik bayi baik-baik saja. Kami juga minta maaf sudah mengabaikanmu. Namun, tidak ada sedikit pun tercetus dalam diri Mamah atau Ayah untuk mengabaikanmu, semua hanya salah paham. Mamah minta maaf jika kesannya tidak mempedulikanmu, Sayang," kata Alina menyesal.
Raihan menggeleng beberapa kali dan membalas pelukan sang ibu. Tanpa ada kata terlontar lagi ibu dan anak itu hanya memberikan gerakan impulsif sebagai tanda permintaan maaf.
Zaidan mengembangkan senyum menyaksikan hubungan mereka membaik. Di balik pintu Azam dan Jasmin pun ikut lega jika Raihan dan Alina sudah baik-baik saja.
Permasalahan yang terjadi antara ibu dan anak itu pun semakin memperkuat hubungan keduanya. Raihan lebih protektif daripada Zaidan jika berhubungan dengan Alina dan calon adik bayinya.
Setelah Alina keluar dari rumah sakit, Raihan terus stay berada di sampingnya. Sepulang sekolah ia akan langsung mencari sang ibu dan memperhatikannya dengan sangat ketat.
Melihat perubahannya, Alina senang dan bersyukur. Ia mendapatkan seorang jagoan yang benar-benar menjaga serta melindunginya.
"Mamah harus tetap hangat, agar adik bayi bisa nyaman di perut Mamah," ucap Raihan menyelimuti sang ibu.
Alina yang tengah selonjoran kaki di ruang baca terkejut mendapati sang jantung hati datang. Ia menutup buku menyambut keberadaan Raihan.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanyanya sembari memberikan ciuman singkat di dahi.
Raihan mengangguk, duduk di sebelah ibunya. "Aku cepat-cepat pulang. Karena rindu dengan adik bayi," katanya jujur. Ia mengusap pelan permukaan perut bulat di sampingnya.
"MasyaAllah, adik bayi juga merindukan Kakaknya. Jadi, Kakak yang baik yah, Sayang." Alina kembali mendaratkan kecupan di kedua pipi Raihan.
__ADS_1
"Em .... Raihan akan berusaha menjadi Kakak terbaik untuk adik bayi." Ia mendongak mengembangkan senyum membuat wajahnya semakin tampan.
Alina tidak bisa menahan gemas jika Raihan sudah seperti itu. Ia menangkup kedua pipi berisinya dan menghujami permukaan mukanya dengan kecupan.
Raihan tergelak, tertawa senang jika sang ibu semakin perhatian pada dirinya. Kejadian kemarin telah membuka mata Alina dan Zaidan untuk lebih peka terhadap putra pertama.
Mereka lebih berhati-hati lagi dalam bersikap maupun bertutur kata. Bagaimanapun Raihan masih seorang anak yang membutuhkan banyak perhatian.
Begitu pula Azam yang bekerja sama dengan Alina dan Zaidan. Raihan semakin bahagia kasih sayang mereka tercurah sangat dalam.
"Adik bayi, baik-baik yah di dalam sini," kata Raihan mendekatkan wajahnya ke depan perut sang ibu.
Lengkungan bulan sabit terpendar di bibir ranum Alina. Ia mengusap puncak kepala Raihan sayang sembari mendengarkan ucapannya.
"Aw." Alina tiba-tiba saja merintih pelan yang mengundang perhatian Raihan.
"Mamah kenapa?" tanyanya khawatir.
"Mamah tidak apa-apa, hanya saja adikmu menendang sangat kuat," ungkap Alina.
Raihan kembali merunduk dan berbicara di depan perut Alina. "Adik bayi jangan sakiti Mamah. Kamu harus menjaga Mamah, yah. Kakak di sini akan menunggumu ... Kakak sayang adik bayi," akunya jujur.
Raihan pun membubuhkan ciuman mendalam di sana. Alina tersenyum haru menyaksikan interaksi sang buah hati dengan bayi yang berada dalam perutnya.
"Adik bayi juga sayang Kakak," balasnya.
Raihan menegakan tubuh dan bersitatap dengan Alina. Ia pun menarik sang jagoan ke dalam pelukan sembari mengusap punggung kecilnya pelan.
"Mamah sangat menyayangimu," ungkapnya tulus.
"Em, Raihan juga menyayangi Mamah," timpal Raihan cepat.
Ibu dan anak itu pun menikmati waktu bersama dengan saling mengutarakan perasaan terdalam betapa mereka saling menyayangi satu sama lain.
...Bersambung......
__ADS_1