
"Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya." _ Ali bin Abi Thalib
"Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Karena cinta hanya mengambil kesempatan atau tentang merelakan." _ Ali bin Abi Thalib
Hamparan bunga mengantarkan semerbak harum ke dalam rongga hidung. Setiap detik hanya menampilkan kebaikan demi kebaikan bagi kebaikan datang menerjang.
Tercatat dalam sejarah kehidupan seorang Alina, kata bahagia meleburkan rasa sakit yang pernah ditanggung.
Kurang lebih dua hari menginap di rumah sakit, ia pun bisa dipulangkan. Bersama keluarga dari pihak ibu mertuanya, mereka tengah mengadakan perjamuan atas kelahiran bayi cantik yang diberi nama Zenia Husna Zulfan.
Semua orang yang datang turut ikut merasakan suka cita keluarga tersebut. Keberadaan bayi mungil di tengah-tengah mereka membuat keadaan menjadi lebih harmonis.
Alina hanya menatap pemandangan di depan dengan senyum mengembang. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan keluarga yang dulu pernah diidamkannya.
Namun, sampai ia dewasa pun tidak ada orang yang mau mengadopsinya. Entahlah, Alina pun tidak tahu alasan kenapa dirinya harus tetap tinggal di panti asuhan sampai usianya siap menikah.
Semua itu hanyalah masa lalu, ia tidak ingin mengingat ataupun mengulangnya lagi. Bagi Alina, saat ini adalah waktu ternyaman baginya.
Ia juga beruntung bisa bertemu dengan mertua yang menganggapnya seperti anak sendiri. Ia pun bisa bernapas lega keberadaan putra pertama sangat diterima baik oleh keluarga suami barunya.
Seperti saat ini, Raihan tengah digendong oleh kakek sambungnya ikut mengelilingi Zenia yang tengah terlelap nyaman dalam pelukan sang nenek.
Moana dan Farraz bahagia bisa memperkenalkan kedua cucu mereka kepada keluarga besar. Di ruangan yang menyerupai aula, semua anggota keluarga Arfa maupun Zulfan saling bercengkrama menyambut keberadaan Zenia.
Alina yang tengah duduk di sofa panjang seraya selonjoran kaki hanya bisa memandangi mereka dengan senyum. Ia masih belum bisa banyak bergerak akibat proses persalinan.
"Aku senang pada akhirnya keluarga kita sudah baik-baik saja." Zaidan datang dan ikut duduk di sebelah.
Alina menoleh singkat seraya tersenyum simpul. Mereka pun menatap lurus ke depan di mana semua orang bercanda, bergurau, serta tertawa ringan menambah kemeriahan.
Zaidan merangkul pundak sempit sang istri menariknya ke dalam pelukan. Alina meletakan kepala berhijabnya di dada bidang sang suami. Merasa nyaman, kedua sudut bibir melengkung sempurna memperlihatkan pada siapa saja, jika saat ini ia benar-benar bahagia.
__ADS_1
Semua keluarga, baik Arfa maupun Zulfan sudah menerima kehadirannya serta sang putra dengan sangat baik.
Mendapatkan kebahagiaan melimpah ruah, Alina terus mengucap syukur pada Sang Pemilik Kehidupan. Allah telah menghadirkan kesenangan di balik kepedihan yang selama bertahun-tahun dideritanya.
Air mata luka berganti senyum kegembiraan, perihnya sakit ditukar kesenangan, dengan adanya kepercayaan Allah menyuguhkan kebaikan.
...***...
Jam empat sore menjadi waktu pribadi bagi Alina, Zaidan, Jasmin, dan juga Azam berkumpul. Sang mantan suami bersama keluarga kecilnya datang ke kediaman mansion keluarga Arfa.
Mereka tengah bercengkrama di salah satu ruangan sedikit jauh dari keberadaan keluarga utama. Berbagai hidangan ringan tersaji membuat Aqeela betah berlama-lama di sana.
"Mamah, selamat atas kelahiran bayi cantiknya," kata Aqeela sambil mengunyah kue kering.
Alina yang berada di samping pun mengangguk ringan lalu menepuk puncak kepalanya ringan. "Terima kasih, Sayang. Kamu mendapatkan adi bayi lagi," kekehnya membuat Aqeela tersenyum senang.
"Lihat ini kamu makannya belepotan." Alina beralih mengusap sudut bibir kemerahan putri dari mantan suami.
Anak laki-laki itu menatap ibu dan anak sambung tersebut tajam. Helaan napas berat pun terdengar mengalihkan perhatian Alina serta Aqeela.
"Kamu kenapa?" tanya sang kakak acuh tak acuh sambil terus memakan makanannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu tidak senang bertemu Kak Aqeela?" tanya Alina kemudian.
Raihan lagi-lagi menghela napas sembari mengerucutkan bibir. "Aku harus menjaga dua putri sekarang," tegasnya.
Alina maupun Aqeela saling menautkan alis, tidak mengerti. "Apa maksudmu dua putri?" tanya kakaknya lagi.
"Kak Aqeela dan dede bayi Zenia. Sebagai laki-laki aku harus menjaga kalian!" ungkapnya mengejutkan mereka.
Kue yang hendak masuk ke dalam mulut Aqeela pun terjatuh dan tergeletak di atas lantai begitu saja. Alina mematung dengan manik melebar sempurna, Zaidan, Azam, dan Jasmin yang tengah berbincang-bincang menoleh padanya kompak.
__ADS_1
Hening menyambut, atmosfer di sekitar terasa begitu sepi tidak terdengar suara apa pun. Raihan melonggarkan lipatan tangan dan memandangi keempat orang tua serta kakaknya.
"Ke-kenapa kalian tiba-tiba saja bengong? Apa aku salah bicara?" tanya Raihan takut-takut.
Beberapa detik kemudian mereka saling menatap satu sama lain lalu melempar senyum. Awalnya yang hanya mengembangkan sudut bibir menjadi gelak tertahan.
"Kenapa sekarang kalian tertawa? Apa aku salah?" tanya Raihan masih tidak mengerti.
"Tidak, hanya saja kata-katamu seperti orang dewasa saja. Uh, Kakak jadi terharu mendengarnya." Aqeela memegang perutnya yang sakit. Ia pun beranjak dari duduk memperlihatkan gamis panjangnya yang menjuntai.
Ia menepuk kedua bahu sang adik dan merunduk sedikit guna menyamakan tinggi mereka. Senyum pun mengembang di wajah cantik berhijabnya.
"Terima kasih. Karena mau menjadi ksatria bagi Kakak dan Zenia. Kakak menyayangimu," ungkap Aqeela membubuhkan kecupan ringan di dahi.
"Meskipun sekarang kita sudah tidak tinggal bersama lagi, tapi Kakak akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Karena bagi Kakak kamu adalah adik terlucu, terimut, dan paling menggemaskan." Aqeela mencubit kedua pipi berisi Raihan sampai melar.
"Aw-aw-aw sakit, Kak," keluh Raihan.
Pemandangan itu pun menjadi tontonan menarik bagi orang tua mereka. Alina, Zaidan, Azam, maupun Jasmin ikut tenang dan lega dengan kehidupannya saat ini.
Dalam diam Alina mengembangkan senyum begitu lebar menatap mereka satu persatu. "Ya Allah ... rencana-Mu sangat menakjubkan. Tidak ada yang tahu jika kehidupan hamba akan seperti ini, terima kasih ya Allah atas kelimpahan rahmat serta kenikmatan yang Kau berikan. MasyaAllah, Alhamdulillah, aku sangat bahagia sekarang. Meskipun aku sadar tidak ada yang namanya keabadian di dunia, tetapi ... aku akan memanfaatkan waktu baik ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih ya Rabb, Engkau sungguh luar biasa. Alhamdulillah," monolognya dalam diam.
Semilir angin datang menemani kebersamaan kisah yang terus berlanjut. Tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa kejadian esok hari. Semuanya hanya misteri dan hanya Allah saja yang tahu.
Keberadaannya tidak bisa diprediksi maupun diketahui, tetapi kedatangannya pasti terjadi. Bersyukurlah untuk kemarin, hari ini, sebab mungkin saja besok tidak akan bisa ditemui lagi.
Kenangan itu akan tercipta kala kemarin sudah terlewat. Apa pun yang dilakukan menjadi cerita untuk hari ini. Serta esok hari bagaikan mimpi yang bisa dicapai atau tidak.
Percayalah Allah pasti sudah mengatur rencana-Nya dengan sangat baik. Tidak ada yang kekal abadi, semua mempunyai waktunya masing-masing untuk datang dan pergi.
...Bersambung......
__ADS_1