Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 159 (Season 3)


__ADS_3

Malam semakin larut, langit semakin gelap tanpa ada satu pun bintang bermunculan. Hanya ada awan kelabu terhampar sepanjang mata memandang.


Sesekali angin berhembus menemani setiap napas yang masih terjaga. Alina beristirahat di sofa panjang menunggu hasil yang masih dikerjakan oleh Sarah dan Angga.


Zaidan menyelimutinya lalu bersimpuh di samping sang istri memberikan kecupan hangat di dahi. Ia tersenyum lembut sambil mengusap puncak kepalanya sayang.


"Kamu selalu membuatku terpesona," ujarnya pelan.


Ia kembali beranjak dan berjalan menuju dua orang di tengah-tengah ruangan. Ia meletakan dua gelas kopi hangat sebagai teman kerja mereka.


"Jadi, apa identitas kalian sebenarnya?" tanya Zaidan yang sudah duduk di tempatnya semula.


Sarah dan Angga saling pandang kemudian menikmati minuman dari Zaidan. Setelah itu keduanya melihat ke arah sang lawan bicara.


"Seperti yang Mas Zaidan lihat," kata Sarah begitu saja.


"Seperti yang aku katakan beberapa saat lalu," lanjut Angga.


Zaidan menghela napas memerhatikan dua orang di depannya. Ia melipat tangan di depan dada jika mereka bukanlah orang sembarangan.


"Aku bersyukur Teh Alina bisa mendapatkan pengganti tuan Azam yang jauh lebih baik. Saat mendengar ada orang ketiga dalam rumah tangga kalian tadi siang ... aku terkejut dan tidak menyangka. Aku pikir pernikahan kalian baik-baik saja, tapi ternyata?" Sarah menatap lekat Zaidan.


Pria itu menghela napas dan menatap ke bawah. "Aku juga tidak menyangka jika kejadian seperti ini datang pada kami. Aku pikir-"


"Kami sudah mendengar semuanya, jika tetua Zulfan menjodohkanmu dengan Zanna Zyva?" sambar Angga cepat.


Tanpa mengelak Zaidan mengangguk mengiyakan. "Begitulah yang terjadi. Aku menolak permintaannya itu untuk tetap bersama Alina. Aku sangat mencintainya dan ... aku tidak bisa kehilangannya."


Pengakuan Zaidan menarik perhatian Sarah dan Angga. Mereka kembali saling pandang berbicara lewat sorot mata masing-masing jika pria di hadapannya ini benar-benar tulus.


"Lalu, apa yang Mas lakukan pada pesta itu? Apa Mas pergi bersama Zanna? Saat ini Mas tidak bisa berbohong," kata Sarah dengan nada sedikit mengancam.


Zaidan diam beberapa saat mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada hari itu. Ia mengangkat kepalanya membalas tatapan pasangan suami istri tersebut.


"Mungkin kalian juga sudah melihatnya dalam rekaman tadi, kalau aku sama sekali tidak melakukan apa pun dengan Zanna. Saat itu aku kehilangan kesadaran dan-"

__ADS_1


"Dan kamu tidak tahu apa-apa." Angga lagi-lagi memotong ucapannya cepat. "Aku mendapatkan bukti rekaman saat dua orang pria memasukkanmu ke dalam mobil Zanna," katanya lagi dan memperlihatkan rekaman dalam laptopnya.


Zaidan pun menyaksikan dengan seksama di mana dua orang pria bertubuh tinggi, tegap mendorongnya ke mobil. Samar-samar ia bisa mengingat hal itu dan kembali menatap Angga.


"Tapi setelah pagi menjelang aku ada di rumah. Bukankah seharusnya aku ada di hotel? Rekaman Zanna yang diperlihatkan pada Alina adalah sebuah kamar seperti di hotel," jelas Zaidan menggebu.


"Bagaimana Mas tahu? Apa Mas melihatnya sendiri?" tanya Sarah curiga.


"Siang tadi aku menemukan Alina berbicara dengan Zanna dan tidak sengaja aku melihat rekaman yang disodorkannya. Aku pikir itu rekaman apa, tapi ternyata wanita itu mengaku jika ia tidur denganku, tetapi ... aku sama sekali tidak tahu hal itu," katanya jujur.


Sarah meletakan dagu di atas tautan kedua tangannya. Ia memandang lurus ke bawah mencerna perkataan Zaidan barusan.


"Hm, sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Andai saja aku punya rekaman itu pasti bisa dianalisis," ujar Sarah.


"Kalau kamu mau aku bisa meminta padanya," sambar Zaidan cepat.


"Tidak usah, nanti dia akan curiga," balas Sarah tidak setuju.


"Atau mungkin wanita itu memanipulasi video tersebut? Apa dia pikir pria yang bersamanya malam itu adalah kamu? Apa dalam pesta ada orang yang mirip kamu?" tanya Angga beruntun.


"Ah, bagaimana jika kita mendengarkan penjelasan Dimas? Karena aku yakin malam itu dia masih sadar sepenuhnya," lanjut Zaidan mendapatkan secercah harapan.


Sarah dan Angga mengangguk menyetujuinya. Tidak lama setelah itu Zaidan pun langsung menghubungi sang pengawal.


...***...


Pria berkacamata itu sudah duduk di sebelah Zaidan memandang datar ketiganya dengan kesal. Ia tidak menyangka menerima panggilan mendadak dari sang tuan untuk datang malam itu juga.


Ia merenggut kala kebersamaannya bersama keluarga diusik begitu saja.


"Kalian mengganggu waktu tidur," ujarnya dingin.


"Apa yang kamu bicarakan? Kamu ingin mengatakan jika kami mengganggu kebersamaanmu dengan Zara? Ini keadaan darurat kamu harus membantuku," kata Zaidan langsung.


Dimas menggulirkan bola mata ke samping tanpa ada niatan membalas ucapan sang tuan. Ia terlalu mengantuk untuk meladeninya.

__ADS_1


"Baiklah langsung saja, apa Mas Dimas ada di pesta ini?" Sarah menjulurkan laptop kehadapannya.


Seketika kedua manik yang terbingkai kaca itu terbelalak lebar. Dengan gerakan patah-patah ia menoleh pada Zaidan yang tengah menahan senyum.


"Kamu pasti terkejut, kan? Yah, dua orang itu bukan orang sembarangan. Kamu tahu? Alina juga dipenuhi misteri yang tidak bisa aku duga." Zaidan pun tertawa pelan melihat wajah konyol pengawalnya.


"Teh Alina wanita tangguh yang berjuang untuk kedamaian keluarganya. Kami hanya membantunya saja," lanjut Sarah.


Dimas masih tidak mengerti apa yang terjadi di sana. Ia datang tanpa dijelaskan tujuan keberadaannya, tapi otak pintarnya merespon ada sesuatu hal yang harus dikatakan.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Dimas kembali ke dirinya sendiri.


"Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu, terutama pesta Zanna. Apa Zanna dan Zaidna tidur bersama?" Angga memberikan penjelasan.


Dimas membetulkan letak kacamatanya lalu memandang mereka bergantian. "Malam itu..." Ia pun menceritakan kejadian satu tahun lalu.


12 Desember 20xx


Zanna Zyva merupakan sosok panutan bagi pianis pemula. Ia berhasil menyandang gelar tersebut diusianya yang masih belia. Terlahir dari keluarga berada membuat ia harus tampil sebaik mungkin sebagai contoh yang baik.


Apa pun yang keluarganya tuntun dari darinya, ia harus melaksanakan sebaik mungkin. Hingga pada akhirnya ia berhasil masuk ke dalam agensi musik terbaik di negara tetangga. Di mana di negara tersebut sudah banyak melahirkan musisi-musisi terbaik.


Setelah mendapatkan kontrak, teman-teman terdekat pun mengadakan pesta merayakan keberhasilannya. Pesta pora terjadi di tengah-tengah ibu kota mengundang kesenangan semu.


Mereka menggunakan salah satu kediaman megah keluarga Zyva yang sudah diberikan kepada Zanna untuk melangsungkan acara tersebut.


Banyak orang-orang penting berdatangan guna mengucapkan selamat, termasuk Zaidan dan Dimas.


"Sudah aku bilang aku tidak mau datang ke tempat ini," keluh Zaidan setelah Dimas memarkirkan mobil mewahnya di parkiran.


Sepanjang mata memandang Dimas melihat mobil mewah berjajar begitu rapih. Ia tidak menatap sang majikan yang memasukan tangan ke dalam saku celana sembari mengerucutkan bibir.


"Tuan tidak bisa mengeluh bagaimanapun juga ini permintaan tuan dan nyonya besar," jelasnya.


Zaidan menggendikan bahu acuh tak acuh lalu melangkahkan kaki ke dalam. Namun, Dimas tidak langsung mengikutinya dan diam beberapa saat di sana. Dahinya mengerut dalam kala menatap sesuatu hal yang mencurigakan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2