
Rindu disayangi sepenuh hati mengantarkan pada keheningan yang datang kian menerjang. Bertahun-tahun menyimpan perasaan sendirian, nyatanya hanya dibalas dusta. Air mata menjadi teman setia kala rasa sakit itu terus ditorehkan.
Namun, semua kenangan tersebut sudah berlalu. Roda kehidupan berputar mengitari masa untuk meninggalkan segala kepelikan yang telah terjadi.
Kemarin memiliki ceritanya sendiri, hari ini sejarah baru dirangkai sedemikian rupa, dan besok hanya menjadi misteri Illahi.
Layaknya seekor burung, ia mengepakan sayap putihnya begitu lebar dan terbang tinggi menuju angkasa lepas. Ia tidak lagi terkurung dalam sangkar emas dan bisa mengekspresikan apa yang dirasakannya.
Itulah yang tengah Alina rasakan. Cinta dan kasih sayang yang tidak terbalas kini diberikan oleh suami barunya.
Zaidan memperlakukannya begitu berbeda. Sikap manis yang disalurkan telah meluluhlantahkan pertahanan Alina. Ia yang berpikir untuk tidak menikah lagi, ternyata sang pengusaha mampu mendobrak pintu hatinya.
Keseriusan sudah dilakukan di hadapan Allah dengan ikatan suci pernikahan. Sudah tidak ada lagi kepedihan mengendap dalam dada. Semuanya menguap bersama kebahagiaan melingkupi sanubari.
Setelah melaksakan kewajiban, pasangan pengantin baru itu pun menikmati waktu pribadinya. Mereka duduk berdampingan di atas tempat tidur dengan di temani aroma bunga melati menyebar di kamar mereka.
Raksi tersebut menyadarkan Alina dan Zaidan jika sekarang adalah malam pengantin mereka. Degup jantung keduanya bertalu kencang seperti seseorang bermain di sana.
Di atas langit yang gelap bulan bersinar terang bersama bintang bertaburan. Kehangatan kian syahdu bersama kegelisahan menerjang cepat.
"Terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu, Sayang." Panggilan tersebut bagaikan candu.
Layaknya sebuah melodi yang menarik perhatian sang pendengar. Alina menoleh pelan menangkap kurva melengkung indah di wajah tampannya.
Tangan tegap sang suami kembali bertengger nyaman di pipi. Rona merah muda merambat sampai ke telinga mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Alina menegang kala ibu jari Zaidan mengusap lembut wajahnya. Kehangatan itu kian menyebar membuat ia tidak bisa menahan senyum.
"Terima kasih juga, karena sudah memilihku sebagai istrimu, Mas. Aku hanya wanita sederhana yang tidak pantas untuk-" ucapan Alina seketika dipotong kala kecupan ringan menyambar bibir kemerahannya.
Kedua iris Alina melebar sempurna kala tidak siap dengan serangan mendadak tersebut. Ia langsung menutup mulutnya menggunakan tangan dan memandangi sang suami lekat.
__ADS_1
Zaidan tertawa ringan dan melepaskan tangan di bibirnya. "Jangan ditutupi, mulai detik ini kamu sudah menjadi milikku. Kita sudah sah menjadi suami istri, aku adalah pasangan halalmu, Sayang."
Alina tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuatnya terus menerus terkejut. Perlakuan Zaidan lagi dan lagi tidak bisa memberikan ketangan.
"Jantungku ... aku bisa jantungan jika Mas terus mengucapkan kata-kata manis itu," kata Alina kemudian.
Zaidan terkikik pelan. "Kalau begitu ... bagaimana jika kita langsung ke intinya saja?"
Wajah Alina semakin merah padam, dirinya tahu apa yang dimaksud sang suami. Ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.
Melihat lampu hijau sudah terang benderang, Zaidan melebarkan bibir lagi memperlihatkan deretan gigi rapihnya. Ia lalu menangkup kedua bahu Alina dan membuat sang istri menghadapnya.
Tanpa ada kata bersuara mereka saling mendekatkan diri satu sama lain. Zaidan mengecup hangat nan mendalam dahi lebar pasangan halalnya.
Ia lalu beralih ke kedua mata, pipi, dagu, dan terakhir bibir semerah cery yang begitu menggoda. Penyatuan pun terjadi, bersama dengan detikan berdentang, suara syahdu kian bergejolak.
Sentuhan demi sentuhan pun tengah dilayangkan. Zaidan begitu lembut memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Kehangatan berubah menjadi hawa panas bersama puncak kenikmatan kian menerjang.
Udara dingin di luar pun tidak dihiraukan, karena keduanya merasakan hangat yang begitu kuat.
...***...
Di tempat berbeda, Azam yang belum juga pergi dari acara pernikahan mantan istri dan sekertarisnya pun masih berada di luar hotel. Ia menoleh ke belakang kala berat untuk meninggalkan gedung tersebut.
Jasmin yang berada di sebelahnya sejak tadi mengikuti arah pandang sang suami. Ia tahu apa yang tengah dipikirkan Azam saat ini.
"Jangan mempermalukan diri sendiri lagi, Mas. Ayo kita pulang," ajak Jasmin seraya menggandeng lengan kokoh Azam.
Namun, sang empunya menarik pelan tanpa sekali pun memandangi sang istri. Air mukanya berubah sendu melihat para tamu undangan satu persatu turun dengan berbinar senang.
Kata-kata yang ia dengar dari mereka mengenai betapa serasi kedua pengantin membuatnya geram. Ada perasaan cemburu dalam dada yang tidak bisa ia ungkapkan.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas jangan mengganggu Alina lagi. Dia sudah bahagia bersama suami barunya. Apa yang ingin Mas lakukan-" Perkataan Jasmin terpotong melihat Azam melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam.
"Mamah, kenapa ayah bertingkah aneh? Mah, apa mamah Alina sudah melupakanku? Mamah Alina bahkan tidak menyapaku tadi," keluh sang putri yang sedari tadi menggenggam tangannya hangat.
Perhatian Jasmin pun teralihkan, kepala berhijabnya menunduk ke bawah melihat Aqeela mendongak. Ia lalu berjongkok tepat di depannya sambil menakup kedua bahu kecilnya.
"Tidak, Sayang. Mamah Alina mungkin sedang sibuk. Kamu tahu sendiri tadi banyak tamu yang hadir. Mungkin mamah Alina tidak melihatmu saja," katanya mencoba menenangkan.
"Aku ... aku takut mamah Alina membenciku. Karena bagaimanapun juga aku sempat mengatakan hal buruk padanya." Aqeela menunduk dalam menyembunyikan embun merembes di matanya.
Senyum mengembang di wajah cantik sang ibu, Jasmin menepuk-nepuk pelan puncak kepala buah hatinya dan kembali berkata. "Tidak mungkin mamah Alina membencimu, Sayang. Mamah Alina sangat menyayangimu, buktinya dari kamu bayi sampai besar seperti sekarang ... siapa yang mengurusimu? Itu mamah Alina. Beliau-"
Lagi dan lagi ucapan Jasmin harus terhenti saat Aqeela menerjang tubuhnya cepat. Gadis kecil itu menangis sesenggukan di balik punggungnya.
Jasmin mengusap lembut punggung kecil sang putri menyalurkan ketenangan. "Jangan menangis, jika ada kesempatan lagi kita bisa bertemu dengan mamah Alina. Sampai saat itu tiba maukan Aqeela bersikap menjadi gadis yang baik?"
Aqeela pun mengangguk pelan. "Aqeela sangat menyayangi mamah Alina. Aqeela ingin bertemu dengannya dan meminta maaf."
"Bagus, kita bisa bertemu dengannya lagi nanti," kata Jasmin dan Aqeela kembali mengangguk.
Di waktu bersamaan Azam sudah masuk kembali ke hotel dan melihat siluet seorang anak laki-laki yang begitu familiar. Ia berjalan cepat mengikuti ke mana anak itu pergi.
Ia tidak bisa menahan diri dan langsung mencengkram pelan bahu kanannya. "Raihan." Panggil Azam kemudian.
Raihan yang tengah berpegangan tangan dengan Moana membalikan badan dan mendongak ke atas. Ia terkejut saat melihat sang ayah memandanginya lekat.
Ia pun mundur selangkah saat Azam bersimpuh di depannya. "Raihan ... anak Ayah," ujarnya lirih.
Raihan menuatkan kedua alis tidak mengerti. Ia tercengang saat melihat air mata merembes di kedua manik sang ayah. Ia bertambah terkejut saat liquid bening itu meluncur cepat di pipi pucat ayahnya.
...Bersambung......
__ADS_1