
Seperti yang sudah dibicarakan dua hari lalu, kini kedatangan Azam ke panti membawa sebuah lamaran. Tidak ada dekorasi indah ataupun makna manis di dalamnya, yang ada hanyalah niat dan juga tanggung jawab.
Di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. Bu Aminah, Alina dan Azam. Sedari tadi wanita itu terus menunduk menghindari yang tidak diinginkan. Jantungnya terus berdegup kencang kala menunggu apa yang hendak di sampaikan pria beristri tersebut.
"Mungkin ibu sudah tahu niat ke datangan saya ke sini. Alina sudah mengatakannya?" Bu Aminah pun mengangguk singkat. "Saya ingin menjadikan Alina sebagai istri kedua. Saya sudah mendapatkan izin juga dari Yasmin. Bahkan beliau yang menginginkan saya menikahi Alina," jelas suara baritone itu.
Alina diam mematung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Selama dua hari ini ia terus memikirkan jawaban apa yang hendak di katakan. Ia menekan jari telunjuk menggunakan ibu jari guna menghilangkan keresahan.
"Ibu hanya bisa memasrahkan semuanya pada Alina. Karena yang akan menjalaninya anak ibu, ini. Ibu hanya akan mendukung keputusannya, tanpa memaksa." Jawaban sang ibu membuatnya mendongak.
Alina menoleh ke samping kiri melihat senyum hangat dari wajah tidak muda lagi itu. "Ibu yakin dengan keputusanmu, Nak." Lanjutnya seraya menatap ke dalam bola mata kecoklatan Alina.
"Jadi apa jawabanmu, Alina?" Azam pun menyela membuat ia kembali sadar.
Lama Alina tidak memberi jawaban dan Azam dengan setia menunggunya. Sampai, "baiklah bismillah, insyaAllah Alina akan menerima lamaran Mas Azam."
"Jawaban yang bagus. Baiklah, dua minggu lagi kita akan menikah. Kamu tidak usah melakukan apapun biar saya yang mengurus semuanya. Persiapkan dirimu. Kalau begitu, saya permisi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya.
Tatapan Alina pun jatuh ke bawah. Ia tidak menyangka akan menerima lamaran tersebut. Lamaran dari seorang pria yang sudah beristri. "Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bu Aminah melihat gelagatnya. Gelengan pun diberikan. "Kamu masih bisa membatalkan lamaran ini jika memang memberatkanmu." Lagi, Alina hanya menggeleng.
"InsyaAllah, aku siap bu. Aku ingin balas budi atas kebaikan keluarga Mas Azam untuk kita selama ini. Bertahun-tahun mereka membantu panti. Dan hanya ini yang bisa aku berikan," ungkap Alina tulus.
Bu Aminah langsung merengkuhnya hangat. "MasyaAllah, semoga ini yang terbaik untukmu."
Alina tidak kuasa membendung kesedihan. Air mata itu tumpah di balik punggung ringkih sang ibu.
...***...
Akhirnya waktu yang tidak diinginkan kehadirannya datang juga. Hari di mana seorang Alina Inayyah melepas masa lajang. Waktu terasa begitu lama berlalu. Setiap detik yang terlewat hanya menyisakan kenangan tak berarti.
__ADS_1
Sedari tadi ia terus menatap jam dinding yang berada di kamar. Ia merasa terjebak dalam masa yang sama. Seolah berada dalam sangkar yang tidak pernah melewati kurun. Terjerambab dalam jurang terjal layaknya tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkannya dari sana. Begitulah yang Alina rasakan. Pernikahan terjadi bukan karena adanya cinta, melainkan balas budi semata.
Gaun putih halus, hijab lebar membentang yang tertutup veil, mahkota kecil di atas kepala, serta bunga melati pertanda seorang pengantin wanita. Alina nampak cantik dalam balutan kebaya putih yang membalut tubuh mungilnya. Aroma bunga yang begitu menyeruak menyadarkan Alina, jika beberapa saat lagi ia akan resmi dipersunting oleh suami orang.
Setetes air mata terjatuh kala perias pengantin mengakhiri kegiatannya. Wanita berhijab lebar itu mengerutkan dahi, heran.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Ahh, pasti neng merasa sangat bahagia yah bisa menikah hari ini," pikir sang perias.
Alina memaksakan senyum lalu menyapu pelan air mata dan sedikit meninggalkan jejak di kedua pipinya. Wanita itu pun kembali memperbaiki riasannya.
"Maaf, Mbak."
"Tidak apa-apa atuh neng, namanya juga hari bahagia," masih dengan presepsi yang sama.
Alina mengangguk singkat dan menegakan kepala menyelam ke dalam bola mata kecoklatan yang terpancar dari cermin di hadapannya. Ia tersenyum miris kala kenyataan tidak seindah bayangan.
"Mbak salah, ini menjadi awal dari segalanya. Pernikahan pertama, tapi tidak untuknya. Kuatkan hamba ya Allah." Monolog Alina.
Waktu terus berlalu. Acara akad pun telah tiba. Alina digandeng oleh beberapa orang keluar dari kamar rias. Di dalam masjid itu sudah banyak orang yang datang. Ternyata meskipun ini menjadi pernikahan kedua untuk Azam, pria itu mengundang sanak keluarga dan beberapa teman.
Ia pun akhirnya duduk tepat di belakang sang calon imam. Sedari tadi ia terus menunduk tidak kuasa mengangkat wajahnya. Sekilas ia bisa melihat lewat samping matanya, istri pertama Azam duduk tidak jauh dari keberadaannya. Seraya memangku sang buah hati Yasmin hadir dalam balutan gaun yang begitu menawan.
Wajah cantiknya tidak sedikitpun memperlihatkan kesakitan.
Ijab kabul pun tengah berlangsung. Azam begitu lancar mengatakannya tanpa salah sedikitpun. Kata "Sah" menjadi penanda jika sekarang Alina sudah benar-benar dipersunting olehnya. Bukan air mata kebahagiaan yang kini mengalir di pipinya melainkan, keresahan.
Setelahnya Alina pun di giring kembali untuk duduk bersebelahan dengan Azam. Sesaat ia menoleh ke samping Yasmin yang tengah menyunggingkan senyum. Ada kepedihan di balik senyuman itu, tetapi Yasmin mencoba untuk tegar. Alina tahu jika ada air mata yang berusaha di tahan.
"Wanita mana yang rela melihat suaminya menikah lagi. Setegar bagaimana pun mbak Yasmin menahannya, ini pasti terlihat sangat menyakitkan." Benak Alina seraya duduk di samping sang suami.
Azam mengulurkan tangan seraya membawa cincin berlian untuk dipakaikan kepada istri barunya. Dengan segala perasaan gundah-gulana, Alina memaksakan diri untuk menerimanya. Pertukaran cincin pun terjadi. Kini ada dua benda yang tersemat dijari-jemari besar pria itu. Miris memang, tapi Alina berusaha tegar juga.
__ADS_1
Kecupan hangat pun terasa begitu hambar. Tidak ada cinta dalam pernikahan tersebut. Atau mungkin hanya ia seorang diri yang merasakannya. Sudah bertahun-tahun Alina selalu mengagumi sosok Azam. Sejak orang tuanya selalu memberikan dana donatur untuk panti Azam sering kali datang ke sana. Sejak saat itu pula perasaan aneh yang menggerayangi hatinya berkembang cepat. Namun, saat tahu sosok yang dikaguminya hendak menikah, Alina berusaha menenyahkannya. Tetapi, siapa sangka takdir Allah tidak pernah ada yang tahu.
Ia datang dan menawarkan pernikahan. Meskipun jauh dari bayangan.
"Aku tidak boleh mengambil keuntungan dari pernikahan ini. Ingat Alina dapatkan ridho Allah. Aku percaya Allah tengah menyiapkan sesuatu yang terbaik."
Ia hanya bisa menguatkan dirinya sendiri.
Setelah ijab kobul selesai, kedua pengantin bergegas menuju pelaminan. Di sana beberapa keluarga dan tamu undangan yang datang bergantian mengucapkan selamat. Sesi foto pun berlangsung, Alina sangat canggung jika disuruh menggandeng lengan kekar sang suami.
Bagaimana pun Azam bukan milik ia seutuhnya.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, samar-samar Alina bisa mendengarkan perkataan tidak mengenakan. Ia berusaha acuh, tapi tetap saja itu sangat sulit diabaikan.
"Kamu tahu ternyata dia jadi istri kedua?"
"Benarkah? Apa dia seorang pelakor?"
"Mana mungkin. Jika dia pelakor tidak mungkin diadakan pesta semewah ini. Apalagi istri pertamanya juga datang."
"Ya Tuhan, sampai segitunya? Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan?"
"Jika bukan karena harta? Apa lagi? Mana ada wanita yang mau jadi istri kedua. Poligami memang diperbolehkan dalam agama kita, tapi harus tahu situasinya juga, kan?"
"Ahh kamu benar juga. Mungkin karena harta yang menjadi alasannya."
"Kan?!"
Sakit. sangat sakit Alina rasakan. Di hari pertama pernikahan yang seharusnya penuh dengan suka cita, ia hanya merasakan duka. Sedari tadi ia terus berusaha menahan air mata yang berkali-kali mencoba untuk keluar.
"Jangan pedulikan. Anggap saja angin lalu."
__ADS_1
Suara berat Azam seketika mengejutkan. Ia berbisik tepat di samping telinga kanannya.
Alina hanya bisa mengangguk pelan seraya menahan sakit.