Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 190 (Season 3)


__ADS_3

Detik demi detik jam terus berjalan, aroma sabun segar seketika menusuk indera penciuman. Di tengah ruangan berbentuk kotak dengan nuansa putih bersih, Zaidan duduk merenung di tepi tempat tidur.


Tetes demi tetes air dari rambutnya yang basah mengenai lengan memberikan sensasi dingin. Tidak ia sadari sang istri berjalan mendekat.


Ia tercengang saat gerakan pelan di kepalanya mengejutkan. Alina tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk dengan telaten.


"Apa yang Mas lakukan? Kenapa tidak mengeringkan rambut dengan benar? Nanti bisa masuk angin," katanya masih melakukan hal sama.


Zaidan terpaku, terdiam, dan membiarkan sang istri mengeringkan rambutnya. Degup jantung bertalu kencang saat raksi dalam tubuh separuh napasnya berhembus.


Zaidan tidak bisa menahan diri dan langsung menerjang sang istri. Wajahnya teredam di perut Alina menyembunyikan kegelisahan.


"Aku minta maaf sudah berkata tidak-tidak, padahal Mas-"


"Tidak." Zaidan memotong ucapan Alina cepat, kepala bulat itu mendongak memandangi manik kelam di atasnya.


"Kamu tidak salah apa-apa, Sayang. Aku yang sudah bersikap kekanak-kanakan dan tidak mau menjalankan tugas sebagai suami. Seharusnya aku-"


Giliran Alina yang memutus ucapan Zaidan, suaminya terkejut membelalakkan kedua mata sempurna dengan jantung berdegup kencang.


Ia tidak menyangka Alina mengambil inisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Terbuai akan kenikmatan yang kian mendera, Zaidan membalas dengan menekan kepala sang istri.


Beberapa saat kemudian, penyatuan mereka berakhir. Alina menangkup pipi Zaidan hangat dan mengusapnya lembut.


Dahi mereka pun menempel menyelami keindahan bola mata masing-masing dalam jarak dekat. Hembusan napas saling beradu mengembangkan bulan sabit di wajah ayu Alina.


"Em, aku mengerti. Mas seperti itu, sebab tidak ingin meninggalkan kami," katanya.


Zaidan mengangguk dan menarik Alina hingga duduk dalam pangkuan. Tangan sang istri pun mengalung di leher jenjangnya membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.


"Aku benar-benar takut untuk meninggalkanmu, Sayang. Perjalanan ini kurang lebih satu minggu dan naik pesawat saja ditempuh dua jam, pasti sangat jauh, kan?" tutur Zaidan menjelaskan.


Alina beralih kembali menangkup wajah tampannya. Ia memandangi bola mata sang suami dengan berbinar senang.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Alina merunduk memberikan kecupan hangat di dahi Zaidan. Lalu turun ke mata, hidung, pipi, dan terakhir di bibir menawannya.


Zaidan yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan bahagia tak terkira. Sampai kegiatan Alina pun berakhir membuat mereka saling tatapan lagi.

__ADS_1


"Aku percaya di manapun kita berada, sejauh apa pun jarak memisahkan, tetapi jika di sini-" Alina menunjuk tepat di dada sebelah kiri Zaidan. "Ada cinta dan kesetiaan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Karena aku yakin jika takdir masih mengiringi, kita bisa bertemu kembali. Aku akan menunggu dengan sabar sampai kamu pulang, Sayang."


Kata-kata hangat penuh makna mengundang senyum mengembang. Zaidan tidak kuasa membendung kebahagiaan mendengar serta menyaksikan sendiri apa yang di sampaikan istrinya.


"Aku akan tetap setia padamu, Sayang. Aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan kita. Karena aku sangat sangat mencintaimu. Tidak ada wanita lain hanya dirimu seorang, Alina," ungkap Zaidan jujur.


Alina mengangguk beberapa kali, "Aku percaya, sebab Mas sudah berulang kali mengatakan cinta padaku. Apa Mas tidak pernah bosan?"


Pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut istrinya seketika membuat Zaidan terbelalak. Ia tidak percaya mendengar hal tersebut dari Alina.


Ia pun langsung menarik sang istri hingga muka mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Apa yang kamu katakan, Sayang? Apa kamu bosan mendengar ungkapan cinta dariku?"


Ide jahil melintas dalam benak, Alina menahan senyum dengan menatap ke atas menghindari pandangan. Ia tidak mengatakan apa pun membuat Zaidan geram.


"Bosan tidak, yah?" kata Alina singkat.


"Sayang." Panggil Zaidan.


Alina tidak bisa menahan tawa dan seketika ruangan itu bergema dengan suaranya. Zaidan terperangah dan seketika membaringkan istrinya cepat.


"Karena kamu sudah mempermainkan ku, malam ini ... kamu tidak bisa lolos, Sayang," ucap Zaidan membelai lembut bibir bawah istrinya pelan.


"Oh yah? Aku tidak pernah ... tidak lepas darimu, Sayang," jawab Alina menantang.


Zaidan menyeringai dan mengangguk-anggukan kepala. "Em, jadi seperti itu? Kamu menungguku untuk tidak melepaskanmu?"


Alina melengkungkan kedua sudut bibirnya lebar, senang bisa menggoda suaminya. Tidak tahan terus diperlakukan seperti itu, Zaidan menggelitiki perut pujaan hatinya.


Alina terpingkal-pingkal dengan sensai geli yang menyebar dalam diri. Ia tertawa hingga kedua matanya mengeluarkan air mata.


"Ampun ... aku sudah tidak sanggup lagi. Aku minta ampun, Sayang," kata Alina memohon di tengah tertawanya.


Zaidan yang kasihan pun menghentikan aksinya. Napas Alina naik turun kala pandangan mereka saling beradu lagi.


Wajah merah dengan keringat membanjiri menampilkan muka berseri. Tiba-tiba saja napas Zaidan terasa sesak.

__ADS_1


Ia menelan saliva kuat-kuat saat apa yang dilakukannya barusan memberikan penampilan terbaik sang istri. Ia pun mendekatkan diri dan Alina mengalungkan kedua tangan di lehernya lagi.


"Mari kita buktikan siapa yang bisa melepaskan diri, aku atau Mas?" kata Alina menantang.


"Lihat saja nanti," balas Zaidan.


Sedetik kemudian penyatuan pun terjadi. Ia terus menjamah wajah Alina lalu turun ke leher dan semakin turun membuat sang istri kelimpungan.


Suara jam berpadu dengan deru napas pasangan suami istri yang tengah terbuai asmara. Dalam keheningan mereka menikmati indahnya malam berdua.


Tidak ada siapa pun selain mereka yang terkubur dalam kenikmatan. Cinta begitu bergelora, perasaan yang saling terbalaskan mengantarkan pada kebahagiaan.


...***...


Keberangkatan Zaidan yang sudah dijadwalkan pun datang, pria berstatus sebagai kepala keluarga itu masih enggan melepaskan kepergiannya. Alina berkali-kali membujuk bersama Moana dan juga Dimas yang turut datang ke kediaman mereka.


"Janji yah setiap waktu kamu harus mengabari Mas!" tekan Zaidan memberikan pernyataan.


Alina yang tengah menggendong Zenia mengangguk cepat. Ia mengusap bahu Zaidan pelan dan mendongak menatap iris suaminya hangat.


"Jangan khawatir, pergi dan kembalilah padaku. Di sini aku dan anak-anak akan selalu menunggumu," balas Alina menampilkan lengkungan bulan sabit.


Zaidan mengulas senyum dan membubuhkan kecupan hangat di dahi lebarnya. "Aku pasti akan kembali." Alina mengangguk mengiyakan.


"Sudah-sudah akhiri dramanya, sekarang waktunya kalian berangkat," kata Moana mengingatkan.


"Iya, Mas sudah terlalu lama pamitan pada Alina," lanjut Zara yang juga ada di sana.


Dimas yang sudah berada di mobil pun menyahut. "Ayo Tuan muda kita bisa ketinggalan pesawat."


"Baiklah-baiklah, kalian selalu saja mengganggu," gerutu Zaidan lalu berjalan menuju mobil.


Alina menatapnya dalam diam lalu menggandeng jagoannya. Raihan menatap kepergian sang ayah lalu berujar, "hati-hati di jalan, Ayah."


Zaidan membuka jendela mobil dan melambaikan tangan. "Em, jaga ibu dan adikmu yah, Sayang," teriaknya lagi. Raihan hanya mengangguk dan ikut melambaikan tangan.


Tidak lama berselang mobil mereka pun menjauh dari gedung apartemen. Alina memandangi kepergiannya hingga kendaraan roda empat itu menghilang dalam pandangan.

__ADS_1


"Ya Allah, lindungilah perjalanan bisnis mereka sampai kembali ke sini," benaknya.


...Bersambung......


__ADS_2