Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 34


__ADS_3

Sejatinya, seburuk apa pun kejadian yang menimpa pasti di dalamnya terdapat suatu pembelajaraan. Air mata yang mengalir tidak selamanya menandakan kepedihan. Namun, terkadang memperlihatkan keharuan akan kebahagiaan yang membayang.


Luka akan tercipta membentuk suatu emosi menimbulkan rasa sakit. Karena kepedihan diperlukan untuk menciptakan suka cita. Raksi menerbar kenyataan jika Allah tidak pernah tidur dan senantiasa mengawasi setiap hamba-Nya. Tidak perlu khawatir ataupun bimbang mengenai permasalahan hidup, sebab Sang Pemilik Kehidupan sudah memiliki skenario terbaik.


Alina, wanita yang kini tengah berbadan dua menikmati hidupnya sebagai calon ibu. Apa pun yang ia lakukan menjadi kekuatan untuk dirinya dan sang buah hati. Kemarin menjadi episode mendebarkan penuh dengan lika-liku perjalanan rumah tangga.


Cinta mengiringi setiap langkahnya. Kebaikan yang dilayangan sang suami menorehkan rasa manis layaknya madu. Namun, ternyata di baliknya menyimpan rasa pahit seperti empedu.


Ia merasa jika hidupnya belum beruntung, salah dan luka berkali-kali mendatangi. Hanya keheningan menjadi saksi seperti apa lara yang mendera diri.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi, cakrawala memperlihatkan keindahannya dengan warna biru terhampar dengan awan berarak. Sang raja siang duduk di singgasananya dengan nyaman menemani kesendirian.


Senyum manis mengembang tat kala hasil karyanya terpajang di etalase. Toko kue Alina, sudah berdiri satu bulan yang lalu. Sejak memutuskan pergi dari kehidupan sang suami, ia menghidupi diri dengan berjualan kue. Hal tersebut tidak luput dari campur tangan, Angga. Dokter tersebut membantunya dengan suka rela.


"Wah, ada kue baru lagi?"


Suara Angga kembali menginstrupsi, tanpa basa-basi ia langsung memakan kue yang baru saja selesai di panggang. Kue berbentuk hati itu pun seketika memenuhi rongga mulutnya dengan rasa manis dan sedikit asam.


Angga tersenyum senang dibuatnya.


"Ini enak sekali, rasa lemonkan?"


Alina yang tengah sibuk di depan oven membalikan badan menatap nyalang ke arah Angga. Dokter muda tersebut terus memakan kue di hadapannya.


"Enak, karena gratis. Bukan begitu? Mau sampai kapan Mas terus memakannya? Bisa-bisa aku gulung tikar nanti."


Mendengar penuturan itu Angga menghentikan aksinya seraya tersenyum canggung. Ia kembali meletakan kue yang belum sempat masuk ke dalam mulut. Ia menepuk-nepuk tangan membersihkan remah yang menempel.


Tawa ringan pun terdengar, ia menggaruk pangkal kepala lalu menunduk menyembunyikan rasa bersalah. Seperti seorang anak yang sedang ditegur oleh ibunya.


"Maaf, habisnya kue buatanmu benaran sangat enak. Ah, bagaimana jika aku membungkusnya untuk di bawa ke rumah sakit? Aku ingin mereka merasakannya juga. Nanti aku bayar sekalian dengan kue yang dimakan tadi."


Seketika binar kebahagiaan hadir di wajah cantiknya. Alina mengangguk dengan semangat dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Dalam diam Angga tersenyum lebar melihat betapa antusiasnya Alina.

__ADS_1


Selama hampir dua bulan mengenalnya, Angga menemukan suatu fakta. Jika Alina seorang wanita yang mandiri, setia dan juga penyabar.


Meskipun di balik itu semua perjalanan rumah tangganya dengan sang sahabat begitu runyam.


...***...


Rumah sakit hari ini terlihat sepi, tidak banyak pasien maupun orang yang datang berkunjung. Angga sudah tiba dan berjalan di lorong untuk ke salah satu ruang tawat.


Ia datang ke kamar yang terletak di atas khusus pasien VVIP, di sana Azam sudah bersama istri pertamanya, Yasmin. Seulas senyum terpendar kala ia menampakan diri. Azam pun membalas hal yang sama dan melihat sahabatnya.


"Aku membawa oleh-oleh siapa tahu kamu suka."


Angga memberikan buah tangan pada sahabatnya lalu mulai memeriksa keadaan Yasmin.


Azam berjalan menuju sofa di pojok ruangan lalu membukanya dan melihat berbagai kue cookies di sana. Aroma kopi dan juga coklat memenuhi indera penciuman. Azam mulai mencicipi dan seketika terdiam. Ia temangu menatap kue dalam genggaman yang baru sepotong digigit.


Rasa yang terkecap dalam indera perasaanya membuat ia teringat akan beberapa bulan ke belakang. Di mana istri keduanya sering membuatkan ia kue dengan berbagai rasa. Namun, yang menjadi kesukaannya kue rasa kopi. Cemilan yang tidak terlalu manis tersebut selalu menemaninya bekerja di rumah.


Kenangan hari itu kembali hadir membuatnya teringat akan senyum manis yang selalu setia terpendar di wajah cantik sang istri.


Sesak seketika memenuhi relung hatinya paling dalam. Azam mengangkat kepala kemudian menoleh ke arah sang sahabat.


"Apa Angga tahu sesuatu tentang Alina? Sudah hampir dua bulan lamanya, dan aku tidak tahu di mana keberadaan dia," lanjutnya lagi.


Beberapa saat kemudian Angga selesai dengan tugasnya.


"Alhamdulillah, kondisi Yasmin berangsur-angsur membaik. Kita jangan berputus asa meminta pertolongan pada Allah untuk kesembuhan."


Perkataan Angga menyadarkan Azam yang tengah terbuai dalam lamunan. Ia tersentak dan mengangguk singkat. Setelah itu sang dokter pergi dari ruangan menyisakan rasa penasaran. Tanpa menghiraukan apa pun Azam beranjak lalu menyusul sahabatnya. Yasmin hanya melihat dalam diam kepergian sang suami.


"Angga," panggil Azam.


Angga yang baru berjalan beberapa langkah kembali membalikan badan melihat Azam dengan tegas mendekat.

__ADS_1


"Kue yang kamu bawa tadi. Di mana kamu mendapatkannya?"


Seulas senyum terpedar di wajah tampan Angga dan membalas tatapan sang sahabat, dalam.


"Kenapa?"


Satu kata membuat Azam mengerutkan dahi.


"Aku hanya penasaran. Karena rasa dari kue itu sama seperti yang dibuat Alina."


Angga melipat tangan di depan dada kala melihat sorot mata penuh tanya.


"Bukankah di dunia ini begitu banyak rasa yang sama? Tidak ada hanya satu, tapi ribuan. Apa kue itu satu-satunya yang dibuat Alina?"


Azam semakin dibuat bingung dengan jawaban Angga. Ia menuatkan kedua alis, bukan itu jawaban yang diinginkannya. Ia semakin yakin ada sesuatu yang tengah disembunyikan.


"Jawab aku, dari mana kamu mendapatkan kue itu?"


"Aku mendapatkannya dari seorang teman, dia baru saja membuka toko kue."


Azam melihat ke dalam manik kecoklatan Angga dan tidak menemukan satu kebohongan pun di sana.


"Apa itu Alina?"


Angga melepaskan pautan tangan dan memasukannya ke dalam saku jas. Ia tersenyum simpul lalu mencondongkan badan sedikit ke depan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa rindu?" tanyanya begitu saja.


Azam tidak bisa menjawab, pertanyaan Angga mengambang di udara tanpa mendapatkan balasan. Ia lalu kembali menarik diri dan tersenyum lebar.


"Jika tidak ada jawaban aku akan pergi. Tidak baik bukan menyimpan perasaan seorang diri? Tidakah kamu memikirkan bagaimana perasaan Alina saat itu? Sekarang ia sudah pergi, apa kamu menyesal?"


Setelah mendorongnya dengan pertanyaan, Angga pergi begitu saja menyisakan keheningan. Iris kecoklatan Azam menatap sang sahabat yang terus menjauh.

__ADS_1


Penyesalan dan rindu menempati hati terdalam. Bohong, ia tidak merasakan hal tersebut. Nyatanya selama ini ia terus berusaha menemukan di mana sang istri kedua berada. Kepergiannya membawa luka yang sudah ia torehkan. Kata perpisahan tiba-tiba saja menari dalam ingatan membuat Azam gamang. Jika perasaan yang dulu tidak sempat ia akui dengan benar, telah mengusai.


__ADS_2