
Akan selalu ada kisah yang datang selepas hujan badai menghadang.
Akan ada masanya rasa sedih itu berakhir dan berganti kebahagiaan.
Tidak ada yang salah ketika air mata mengalir, sebab itu sebagai tanda melegakan hati.
Tiga hari setelah mengetahui keberadaan sang ibu kandung, Alina selalu dihantui perasaan bersalah. Setiap hari ia akan datang ke kediaman kakaknya, Jihan.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama seraya menikmati santapan yang Alina bawa.
Ia hendak mengajak kakaknya untuk tinggal bersama, tetapi dengan halus Jihan menolak. Ia harus menjaga kediaman yang sudah sang ibu amanatkan padanya.
"Izinkan aku juga menjaga rumah ini, Teh," ucap Alina yang kembali ke sana.
"Baiklah, tapi jangan sampai melupakan kewajibanmu sebagai ibu dan istri," balas Jihan tersenyum simpul.
Alina mengangguk singkat. "Kenapa Teteh tidak mau tinggal bersamaku? Sekarang Teteh sendirian, apa-"
"Alina, bukannya Teteh tidak mau. Hanya saja ... Teteh sedang menunggu seseorang di sini," kata sang kakak membuat Alina mengerutkan dahi dalam.
"Siapa yang Teteh tunggu?" tanya Alina penasaran.
"Suami dan anak Teteh, mereka sedang berada di luar kota dan sampai sekarang belum pulang," jelas Jihan.
Alina hanya mengulas senyum seraya mengangguk mengerti.
Satu minggu setelah itu Alina mengajak serta kedua buah hati beserta suami mengunjungi makam sang ibu dan memanjatkan doa bersama.
"Assalamu'alaikum, bu. Alina datang lagi ... Alina ingin memperkenalkan dua cucu dan menantu ibu. Semoga ibu bisa tenang di alam sana. Alhamdulillah, Alina sudah bahagia bersama mereka," ucap Alina senang.
"Assalamu'alaikum nenek. Aku Raihan, cucu pertama nenek. Meskipun aku dan mamah tidak bisa bertemu nenek, tapi kami sangat menyayangi nenek. Semoga nanti kita bisa bertemu di sana yah, nek," lanjut Raihan menatap batu nisan sang nenek kandung.
"Na-na-na." Bayi yang hampir satu tahun itu pun mengikuti perkataan ibu dan kakaknya. Zenia mengembangkan senyum lembut seolah melihat sesuatu di sana.
"Assalamu'alaikum ibu. Aku Zaidan, suami Alina. Ibu jangan khawatir aku berjanji akan membahagiakan mereka. Meskipun kita baru bertemu, beri kami restumu, ibu," ucap Zaidan membuat perasaan Alina terenyuh.
Ia berusaha menahan isak tangis kala kebahagiaan yang tidak terukur seberapa besar itu terus menerus datang menerjang.
...***...
Langit gelap kembali datang, bintang bertaburan dengan cahaya bulan menemani.
__ADS_1
Di dalam sebuah kamar di kediaman keluarga kecil Zaidan, sepasang suami istri tengah menghabiskan waktu bersama.
Keduanya saling mendekap satu sama lain seraya duduk di atas tempat tidur.
Sedari tadi Alina terus memandangi sebuah liontin dalam genggaman.
Bandul yang di dalamnya terdapat sebuah foto seorang wanita dewasa dan balita itu pun membuat perasaannya campur aduk.
Foto tersebut adalah dirinya dan sang ibu. Waktu itu ia masih berusia lima bulan tengah tersenyum manis ke arah kamera.
"Aku tidak ingat jika pernah berada dalam dekapan ibu. Bagaimana rasanya? Apa sehangat itu?" ucap Alina sembari membelai wajahnya di dalam foto.
Zaidan yang berada di belakangnya pun tengah merengkuh hangat memberikan kecupan mendalam di puncak kepala sang istri.
"Pasti sangat hangat sekali, Sayang. Lihat kamu sampai tersenyum manis seperti itu," ucapnya menggenggam kedua tangan Alina.
Ia mengangguk pelan menahan air mata yang terus menerus merengsek keluar.
"Iya, Mas benar. Aku pasti sangat bahagia bisa berada dalam dekapan ibu. Meskipun setelah itu aku berada di panti asuhan." Setetes cairan bening meluncur.
Zaidan memalingkan wajah Alina hingga menghadapnya. Kecupan hangat mendarat di dahi, kedua mata, pipi, hidung, dan berakhir di benda kenyal semerah cherrynya.
"Jangan sedih, semua ini sudah menjadi takdir dan rencana Allah. Allah tahu kamu mampu menghadapinya, Sayang. Karena itu kamu terus menerus ditimpa cobaan seperti ini, sebab Allah ingin memberikan sesuatu yang terbaik, yaitu berupa kebahagiaan tiada akhir."
Merdu nan lembut kata-kata sang suami berlabuh pada satu titik relung terdalam.
Hangat yang menjalar dari kedua tangan bertengger di pipi memberikan semangat.
Alina membawa tangan kekar itu dan memberikan ciuman mendalam di telapaknya.
"Terima kasih, Sayang. Jika bukan karena Mas yang sudah mendampingi ku ... aku mungkin tidak bisa bertahan. Terlebih saat menghadapi kenyataan ibu-"
"Shut, jika mengatakan hal itu bisa menyakiti mu lebih baik jangan dikatakan. Aku yakin ibu sudah bahagia di atas sana. Apalagi melihatmu yang sudah bahagia di sini," kata Zaidan lagi.
Entah sudah ke berapa kali liquid bening itu meluncur lagi di pipi.
Zaidan menghapusnya pelan, kedua sudut bibir pun melengkung sempurna.
"Jangan menangis dan jangan pernah merasa sendiri. Karena aku akan selalu ada di sini bersamamu, sampai kapan pun," ungkap Zaidan membuat kedua iris Alina melebar.
"Terima kasih, Sayang. Aku beruntung memilikimu," balas Alina lalu mendekap erat tubuh atletisnya.
__ADS_1
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Q.S. Al-Baqarah: 286)
Hari demi hari berlalu memberikan kenangan berarti. Setiap hari, setiap saat, setiap waktu hanya ada kebersamaan.
Alina sudah berhasil membuktikan pada diri sendiri jika ia mampu meraih keberhasilan.
Asam, manis, pahit kehidupan sudah ia tempuh. Bagaimana air mata itu pernah mengalir untuk perihnya rasa sakit akibat cinta dikhianati.
Dusta nestapa menari selama delapan tahun. Cinta sang suami pertama yang ia pikir tulus nyatanya hanya kebohongan semata.
Cintanya harus berlabuh bertepuk sebelah tangan. Selama itu pula Alina harus menjadi bayang-bayang masa lalu seorang Azam.
Tahun berganti tahun, kepelikan dalam hidup perlahan menghilang.
Allah menghadirkan sosok Zaidan sebagai pelengkap hidup.
Zaidan bagaikan obat untuk menyembuhkan sakit hatinya.
Mereka menikah mengikat perasaan itu dengan janji suci di hadapan Allah.
Meskipun pernikahan mereka pun harus ditimpa musibah demi musibah, tetapi dengan kebersamaan keduanya mampu menghadapi semua itu.
Sampai pada pelabuhan terakhir, yaitu manisnya sebuah kebersamaan bernama kebahagiaan.
Langit senja menjadi saksi bagaimana kisah mereka terajut begitu indah.
Pasangan yang hampir membina rumah tangga selama empat tahun kini tengah mengecap madu dari hasil ujian datang.
"Tidak ada yang paling membahagiakan bagiku selain bisa bersamamu, Sayang," bisik Zaidan merengkuh hangat sang istri dari belakang.
Alina menyandarkan punggung rampingnya di dada bidang sang suami.
"I love you. Tidak ada selain dirimu yang bisa memberikan kebahagiaan untukku," balas Alina.
Keduanya menengadah menyaksikan semburat warna jingga dan orange di ufuk timur.
Kedamaian serta ketenangan keduanya dapatkan dari lukisan Allah yang satu ini.
"Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Allah begitu sempurna memberikan kejutan demi kejutan di balik peristiwa terjadi. MasyaAllah, tabaraqallah, indahnya karunia dari-Mu ya Rabb," bisik Alina dalam diam. Bibirnya terus melengkungkan bulan sabit sempurna.
...Bersambung......
__ADS_1