Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 35


__ADS_3

Langit biru membentang sepanjang mata memandang. Hangat dari sang surya menemani segala aktivitas. Sayup-sayup angin berhembus mengantarkan kerinduan yang tidak diharapkan. Kedatangannya acap kali mengundang kegelisahan dan air mata.


Sudah hampir dua bulan lamanya, Alina berpisah dengan sang suami. Kondisinya yang tengah berbadan dua terkadang menimbulkan perasaan terdalam untuk Azam. Rindu dan luka saling bersinggungan membuat ia harus bertahan.


Terkadang keinginan buah hati timbul menggoreskan luka baru. Bayi yang ada dalam kandungannya menginginkan kehadiran sang ayah membuat Alina sekuat tenaga menahan untuk tidak menemui Azam.


Masa ngidam menjadi waktu terberat bagi Alina. Ia harus memenuhinya seorang diri tanpa bantuan sang suami. Sesekali air mata akan kembali mengalir mengingat jika keadaan rumah tangganya tidak seharmonis orang lain.


Siang ini toko yang ia dirikan terlihat sepi, hanya beberapa pengunjung membeli dagangannya. Ia bersyukur Allah masih memberikan rezeki-Nya. Ia pun duduk seorang diri di meja kasir memandangi jalanan di mana orang berlalu-lalang.


Tangan kanan terangkat mengelus pelan perutnya yang semakin membesar. Rindu kembali datang saat tidak sengaja melihat pasangan lain di sana. Wanita yang tengah berbadan dua sama sepertinya begitu diperhatikan. Rengkuhan sang suami terlihat posesif di pinggang sang istri.


Alina langsung mengalihkan perhatian ke arah lain tidak kuasa menahan sesak dalam dada.


"Sayang, maafkan Mamah, yah. Mamah tidak bisa memenuhui permintaanmu yang satu ini. Kita sudah pergi dari ayah dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi," gumam Alina semakin pelan dan pelan.


Elusan di perutnya pun berhenti merasakan tendangan dari malaikat kecilnya.


Tidak lama berselang seorang wanita paruh baya berjalan masuk ke dalam toko. Alina beranjak dari duduk menyambut kedatangannya. Senyum manis terpendar di wajah cantik tidak muda lagi itu kala pandangannya bertubrukan dengan Alina.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Alina ramah.


"Saya menginginkan kue yang tidak terlalu manis untuk di bawa pulang," jawab wanita itu.


"Kalau boleh tahu, apa untuk Anda makan sendiri atau diberikan pada orang lain?" Tanya Alina lagi seraya tersenyum manis.


"Untuk putra saya, dia suka makan kue yang tidak terlalu manis."


Alina mengangguk mengerti lalu membuka etalase kaca di hadapannya. Ia merunduk membawa salah satu toples yang terpajang.


"Saya merekomendasikan kue rasa kopi ini. Saya membuatnya menggunakan tujuh puluh lima persen kopi yang ditumbuk sendiri dan gula sepuluh persen. Jadi, rasa pahit dari kopi lebih dominan daripada manis dari gula." Jelas Alina antusias.

__ADS_1


Dari dulu ia senang membuat kue, sejak masih di panti asuhan Alina sering bereskperimen membubuhkan berbagai rasa dalam makanan ringan tersebut. Terkadang ia juga menjualnya ke sekolah untuk membantu ibu panti.


Sekarang Alina bisa merealisasikannya dan membuka toko kuenya sendiri. Ia termenung kala menghadirkan kue rasa kopi di hadapannya. Seketika bayang-bayang beberapa bulan kemarin hinggap membuat ia menggelengkan kepalanya sekilas.


Sang suami sangat suka kue buatannya, terutama rasa kopi.


Wanita bersanggul itu pun melebarkan senyum lagi lalu mencicipi sampelnya yang disodorkan Alina. Kedua maniknya pun melebar kala rasa dari kue melebur di dalam mulut.


"Ini enak sekali. Rasa kopinya memang dominan, tapi tidak terlalu pahit. Rasa manisnya juga pas, anak saya pasti suka. Saya beli beberapa toples untuk dibawa pulang." Ungkapnya senang.


Alina mengangguk antusias dan segera membungkus kue kopi yang tersisa ke dalam paper bag. Sedangkan sang pelanggan melihat-lihat kue maupun cake yang terpajang, hingga atensinya kembali pada Alina.


"Anda tengah mengandung?"


Alina yang masih sibuk dengan pekerjaannya menoleh singkat.


"Ah iya, sudah delapan bulan," jawabnya.


"Kamu wanita mandiri, tidak berpangku tangan pada suami. Apa dia bekerja juga di sini?"


"Su-suami saya sedang bekerja di luar kota."


Bohong, Alina sudah berbohong. Ia tidak punya cara lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu pun hanya mengangguk singkat tanpa mengatakan apa pun lagi.


Tidak lama berselang Alina sudah selesai membungkus kue dan diberikan pada pelanggannya. Setelah pembayaran dilakukan wanita paruh baya tersebut kembali pergi menyisakan kehampaan.


"Terkadang lebih baik tidak usah bertanya. Tetapi, aku juga tidak menutupi diri sendiri dengan kondisi seperti ini. Sayang, Mamah minta maaf."


Lagi dan lagi kata maaf menjadi penguat diri untuk ia dan sang jabang bayi.


...***...

__ADS_1


Azam tidak fokus melakukan pekerjaannya, berkali-kali ia terlihat melamun dan kurang konsentrasi. Di tengah rapat penting itu ia sibuk menyelam dalam diam. Suara para pemegang saham yang tengah berbicara tidak diindahkan sama sekali.


Zara yang melihat sang atasan seperti itu pun menepuk bahunya pelan membuat Azam terperanjat. Ia langsung menoleh ke depan di mana orang yang sedari tadi memaparkan presentasi sudah selesai dilakukan.


"Tuan Azam, saya bertanya apakah Anda setuju dengan produk baru yang akan kita launchingkan bulan depan? Produk ini memicu pada makanan sehat, meskipun dalam bentuk kue kecil tetapi bisa mengenyangkan, apa And-"


Suara pria di hadapannya terus mengecil dalam pendengaran. Azam kembali terhampar pada lamunan dan terjebak dalam ingatan. Wajah cantik nan ayu sang istri kedua hadir begitu saja dalam cahaya proyektor, seolah tengah tersenyum menyambut tatapannya.


Sorot mata Azam kosong membuat orang-orang yang hadir di sana mengerutkan dahi heran. Zara yang mengerti akan kondisi sang atasan mengambil alih.


"Tu-tuan-tuan sepertinya Presdir Azam sedang tidak enak badan. Kita akhiri saja rapat ini untuk sekarang, biar saya yang berbicara dengan beliau. Keputusannya secepat mungkin akan saya kabari nanti."


Setelah mendengar arahan Zara, peserta rapat pun mulai meninggalkan ruangan. Seketika lampu kembali menyala menyadarkan Azam. Ia terkejut kala sudah tidak ada siapa pun di hadapannya. Ia lalu menoleh ke samping kanan di mana Zara tengah melipat tangan di depan dada.


"Saya tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga, Anda. Tapi, Bos Anda harus professional. Bagaimana pun juga ada pemimpin perusahaan, banyak tulang punggung yang bergantung pada Anda. Apa ini tentang Alina lagi?"


Zara sudah hapal seperti apa tabiat Azam setelah kepergian istri kedua.


"Mau sampai kapan kamu terus murung seperti ini? Aku berbicara di sini bukan sebagai sekertaris melainkan teman. Masih ada Yasmin yang harus diurus, apa kamu sudah tidak mencintainya lagi?"


Pertanyaan Zara menyadarkan, Azam menjambak rambutnya frustasi dengan dua arah yang saling bersinggungan.


"Apa yang harus aku lakukan? Alina sedang mengandung dan aku tidak tahu di mana dia sekarang." Lirih Azam dengan kepala menunduk dalam.


"Kamu masih peduli padanya? Apa kamu masih percaya bayi yang ada dalam kandungannya itu darah dagingmu? Bukankah dulu aku sudah mengatakannya? Jika Alina bertemu pria lain di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan bersama?"


Pertanyaan demi pertanyaan yang terlempar dari mulut ranum Zara berdengung membuat Azam gamang. Ia seperti remaja labil yang tidak punya pendirian.


Dalam diam Zara memperhatikannya, ada gurat kesedihan tersimpan apik dalam ekspresi itu.


"Bisakah kamu melihatku? Aku mencintaimu dari dulu."

__ADS_1


Suara rendah tersebut membuat kedua mata Azam membola. Ia mendongak melihat senyum lemah di sana.


Keadaan pun semakin rumit ia rasakan.


__ADS_2