
"Jadi ... yang ingin kamu katakan padaku sekarang adalah ... kamu pernah tidur bersama mas Zaidan?" tanya Alina datar.
Bola mata jelaga itu kembali memandang ke atas meja di mana layar ponsel masih memperlihatkan dua sosok tengah tidur di atas satu ranjang yang sama.
Entah apa yang tersembunyi di balik selimut itu, tetapi pemandangan tersebut sudah menjelaskan situasi saat itu. Jelas, siapa sosok di dalam foto yang tengah mengundang perhatian Alina.
Kesan pertama yang dirasakan, Alina tidak terkejut sama sekali. Ia tahu saat ini Zanna tengah memainkan trik untuk membuat rumah tangganya hancur berantakan.
Ia yakin jika rencana tersebut sudah diatur sedemikian rupa dengan tetua Zulfan. Ia sadar Dawas masih tetap berusaha untuk membuat ia dan Zaidan berpisah.
Namun, sekali lagi ia akan tetap bertahan sebagaimana keras badai menerjang. Ia sudah pernah mengalami hal serupa yang bahkan jauh lebih ganas dari kejadian saat ini.
Waktu itu dunia bagaikan runtuh berantakan, kenyataan menampar kuat serta mengatakan sudah tidak ada kesempatan lagi guna mempertahankan rumah tangga.
Tidak ada cinta yang mendasari, perasaan tersebut hanya berada di salah satu pihak. Pernikahan itu porak poranda hingga pada akhirnya perpisahanlah menjadi jalan terbaik.
"Apa kamu pikir, aku main-main? Lihat ini." Zara mengslide layar dan memperlihatkan satu video yang belum ditayangkan.
Jari lentiknya menekan tombol play hingga sedetik kemudian video diputar. Alina menyaksikan tayangan tidak senonoh yang mana di dalamnya terdapat satu pria dan wanita.
Sosok itu sangat ia kenal dengan baik bahkan sekarang sudah menjadi suami serta imam dalam keluarga. Sekuat tenaga Alina menahan kekesalan membuat emosinya meletup-letup.
Ia tidak boleh terpancing amarah, sebab semua itu hanyalah permainan belaka. Ia harus tenang menghadapi wanita seperti Zanna untuk kesekian kali.
Tidak lama setelah itu tayangan tadi pun selesai. Zanna mengembangkan senyum menyaksikan wajah datar lawan bicaranya.
Delusi mengatakan jika kemenangan sudah di depan mata. Ia semakin bersikap pongah seraya terus memerhatikan Alina.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu harapkan dari pria bermain seperti suamimu? Apa kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian?" Zanna berdecih lalu memandang ke sebelah singkat. "Bukankah kamu sudah ditipu olehnya? Dia pria munafik yang hanya memperlihatkan kebaikan di depan saja, tetapi di belakang ia sangat amat busuk."
Setelah Zanna menyelesaikan ucapannya, Alina mengangkat kepala memandang lurus ke dalam lensa hitam tepat di depan.
Sorot mata serius nan tajam memandanginya lekat. Sejenak Zanna terperangah menyaksikan perubahan dalam diri Alina.
Namun, ia hanya meyakini jika hal tersebut merupakan hasil atas apa yang sudah dirinya perbuat saat ini.
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal?" Zanna terus berujar.
Hening melanda, Alina masih membungkam mulut rapat membiarkan suara angin berhembus mengambil alih. Sesekali hiruk pikuk ibu kota terdengar saling bersahutan, orang-orang hilir mudik menambah keramaian.
Zanna masih menunggu apa yang hendak Alina sampaikan. Ia pun menyeruput minuman miliknya yang sudah dipesankan lebih dulu.
Sampai perkataan Alina membuatnya tertohok hingga membuat minuman tadi hampir menyembur dari mulutnya.
"Apa kamu bangga mengumbar aib sendiri seperti ini? Apa kamu tidak kasihan pada diri sendiri? Apa kamu tidak takut jika aku akan menyebarkannya dan membuat keluarga kalian malu? Apa kamu sadar perbuatanmu sekarang mempermalukan diri sendiri?"
Zanna terbelalak, terperangah mendengar semua pertanyaan yang terlontar dari mulut ranum Alina. Ia tidak menyanangka jika perkataan seperti itulah yang diberikan.
Semua jauh dari ekspetasi, ia pikir Alina akan menangis sejadi-jadinya serta mengata-ngatai sang suami tidak baik. Ia sudah berpikir jika Alina juga akan langsung menggugat pisah Zaidan.
Namun, faktanya pertanyaan seperti itulah yang ia dapatkan. Semuanya keluar jalur dari skenario yang sudah ia atur bersama Dawas.
Semua sudah terlanjur, Zanna berdecih lalu tergelak mendengarnya. Hal tersebut dilakukan untuk menutupi keterkejutan dalam diri.
"Apa yang kamu katakan? Apa kamu pikir dengan mempertanyakan hal tadi aku akan berubah? Tentu saja tidak, aku-"
__ADS_1
"Apa kamu juga sadar jika selama ini Allah sudah menutupi aib-aibmu? Namun, dengan bangganya sekarang kamu umbar kepadaku? Apa yang kamu pikirkan? Tidakkah kamu kasihan pada diri sendiri?" Pertanyaan yang sama untuk kedua kali terucap.
Zanna tidak bisa mengatakan sepatah kata seolah mulutnya terkunci rapat. Tubuh semampai itu menegang di tempat dengan manik bulan melebar sempurna.
Alina tersenyum menyaksikan perubahan dalam dirinya. Ia lalu menautkan kedua tangan di atas meja seraya memberikan tatapan hangat.
"Aku ... sama sekali tidak terkejut. Justu, aku kasihan padamu, Zanna. Kamu tahu, di luar sana banyak wanita yang menginginkan posisimu."
"Kamu dianugerahi wajah yang cantik, bakat yang baik, serta lahir dari keluarga serba berkecukupan. Banyak di luar sana anak-anak terlahir dari orang tua yang serba kekuarangan bahkan ... tidak sedikit dari mereka yang kehilangan ayah dan ibu."
"Allah sudah memberikan banyak kelebihan padamu untuk dijaga dengan amat sangat baik." Alina menghela napas iba dengan apa yang terjadi pada wanita di hadapannya.
Kepala berhijab itu menggeleng beberapa kali. "Aku tidak peduli bagaimana, seperti apa, dan seburuk apa pun masa lalu mas Zaidan, sebab setiap orang mempunyai kisah kelamnya sendiri-sendiri. Namun, di sini aku tidak akan membahas masalah yang kita hadapi, tetapi ... aku ingin memberitahumu satu hal."
"Zanna, kamu wanita yang sangat cantik memiliki kedudukan tinggi di mata masyarakat. Jangan sampai mereka melihat keburukan yang selama ini sudah ditutup-tutupi dengan rapat. Kamu wanita berkelas, anggun, nan elegan."
"Aku yakin banyak pria di luar sana ingin mempersuntingmu. Lalu, kenapa kamu mengorbankan diri sendiri serta mempermalukannya bahkan menjatuhkan harga dirimu hanya untuk satu laki-laki? Yang mungkin ... tidak mencintaimu?"
Alina terus meracau tanpa henti mengalirkan ketidakberdayaan dalam diri Zanna. Wanita itu terdiam dengan air muka dingin. Selama ini ia sudah bermain terlalu jauh ke dalam dunia hitam.
Ia sudah benyak menghabiskan waktu untuk hura-hura serta melakukan pesta seenaknya. Ia terus mendengarkan apa yang disampaikan Alina, sampai sedetik kemudian Zanna kembali mencela.
"Tahu apa kamu tentang hidupku? Jangan coba-coba kamu menasehatiku seperti orang yang tidak punya kesalahan," katanya.
Alina mendengus pelan lalu melipat tangan di depan dada. "Semua orang memang tidak luput dari kesalahan, begitu pula denganku. Bahkan sampai detik ini aku masih melakukan kesalahan yang tidak terhitung jumlahnya. Namun, Allah masih memberikan kesempatan untuk terus berubah menjadi lebih baik."
"Untuk itu-" Alina bangkit dari duduk kemudian memandang tegas lawan bicaranya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik rumah tanggaku. Apa yang hendak kamu dan tetua Zulfan lakukan silakan, tapi asal kalian tahu ... aku tidak akan pernah goyah dengan trik murahan seperti ini."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Alina angkat kaki menyisakan kekesalan. Zanna mengepalkan kedua tangan dengan napas naik turun menahan gejolak emosi yang mendera.
...Bersambung......