
Alina sudah menyiapkan makan malam sedari sore tadi, kedua anaknya bahkan merengek kesekian kali meminta sang ibu untuk segera menyantap sajian di meja.
Namun, Alina bersikukuh agar mereka menunggu ayahnya pulang, tetapi sampai jam menunjukan pukul setengah delapan, batang hidung kepala keluarga belum juga terlihat.
Aqeela dan Raihan mempautkan bibir kompak memandangi ibunya penuh harap. Alina terus menatap ke arah samping berharap suaminya segera datang.
“Mamah, Qeela dan Ihan sudah sangat lapar. Bisakah kita makan duluan saja? Mungkin ayah sedang banyak pekerjaan di kantornya,” keluh Aqeela lagi.
Alina sadar dan menoleh pada mereka bergantian. Rasa bersalah seketika menyapa relung hatinya paling dalam. Ia tidak tega melihat kedua buah hatinya menunggu dan menahan lapar berkat keegoisannya.
“Baiklah, kalian bisa makan lebih dulu dan jangan lupa berdo’a,” ujar Alina dijawab anggukan keduanya.
Nuansa di meja makan malam itu terasa berbeda, canda tawa, celotehan ringan yang setiap saat terlontar hilang entah ke mana.
Hanya detikan jam dan suara sendok bersahutan di atas piring menemani kegelisahan. Alina menemani Aqeela dan Raihan makan tanpa mengikutinya.
Hal tersebut mengundang penasaran sang putri pertama, Aqeela menghentikan gerakannya lalu memandangi ibu sambungnya.
“Mah, kenapa Mamah tidak makan? Ayo, makan bersama nanti lauknya keburu dingin lagi,” ajaknya membuat Alina tersentak.
“Ah, tidak apa-apa Sayang. Kalian makan saja dulu, Mamah tidak terlalu lapar,” jawab Alina disertai senyum simpul.
“Mamah, masih mau menunggu ayah?” tanya Aqeela lagi.
Alina tidak langsung menjawab, kepala berhijab itu memandangi putrinya lekat lalu melengkungkan bibir canggung. Ia tidak menyadari jika perasaan seorang anak bisa sangat peka.
“I-iya, Sayang,” cicitnya tidak bisa berbohong.
“Mamah makan saja dulu jangan menyiksa diri sendiri dan menunggu ayah pulang. Ini bukan pertama kalinya bukan? Seminggu yang lalu ayah juga pernah pulang telat dan tidak bisa makan bersama kita,” ucap Aqeela mengingatkan.
Alina terdiam lagi, dirinya baru menyadari jika sang anak sambung memiliki pemikiran yang begitu lugas. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya pelan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Kalian nikmati saja makanannya … ah, ini ayam goreng kesukaan Qeela dan Raihan kan. Ayo, makan yang banyak.” Alina mengalihkan pembicaraan dengan memberikan mereka paha ayam sebagai tambahan.
__ADS_1
“Terima kasih, Mamah. Ihan sayang Mamah,” ungkap putra pertamanya membuat Alina tersenyum lebar.
Dalam diam ia terus memperhatikan mereka. Ia bangga dianugerahi putri dan putra yang sangat baik. Meskipun di usianya yang masih muda, Aqeela sudah berpikir dewasa, dilengkapi Raihan dengan sikap polos serta blak-blakannya, kehidupan seorang Alina begitu sempurna.
Jam sepuluh tepat, Azam belum juga tiba di rumah. Alina yang masih duduk diam di meja makan kembali memandangi arah kedatangan sang suami.
Perasaan resah, gelisah, menyelimuti relung hatinya. Untuk kedua kalinya Azam pulang telat tanpa memberi kabar. Ia khawatir dan cemas, takut sesuatu terjadi padanya.
Sejam yang lalu Aqeela dan Raihan masih menemaninya, tetapi ia menyuruh mereka untuk segera tidur hingga menyisakan dirinya seorang diri di sana.
Helaan napas pun terdengar, netra cokelat beningnya memandangi meja makan.
“Sayang sekali, makanannya sudah dingin. Apa pekerjaan mas Azam banyak sekali sampai telat pulang seperti ini?” gumamnya.
Menunggu lagi dan lagi, tetapi Azam belum juga pulang. Rasa kantuk mulai menguasai, Alina pun menyerah dan bergegas berjalan menuju lantai dua melupakan makan malamnya.
***
Ia baru saja memarkirkan mobil dan berjalan menuju pekarangan rumah. Lantai marmer di pijakinya, seketika bayangan masa-masa almarhumah masih ada hinggap dalam ingatan.
Setetes air mata meluncur cepat membasahi pipi, Azam mengusapnya kasar lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tangan tegapnya terulur menggenggam gagang pintu erat seraya termenung lekat.
Ia diam beberapa saat sampai mendorong pintu kayu jati itu perlahan. Keheningan menyambut, kegelapan mengucapkan selamat datang pada kehampaan di hatinya.
“Yasmin,” ucapnya lirih.
Ia melangkahkan kaki menuju lantai dua, satu persatu anak tangga di pijakinya. Bagaikan berjalan di atas pecahan kaca, luka delapan tahun lalu terus menerus menari dalam kepalanya.
Tidak lama berselang ia tiba, tatapannya langsung mengarah ke pojok lorong di mana ruangan di sana menjadi kamar utama yang pernah dihuninya bersama Yasmin.
Air mata tidak bisa dibendung lagi, tumpah ruah, menganak bagaikan sungai. Azam menangis dalam diam merindukan sosok istri pertamanya.
Setelah berkutat dengan kesendirian penuh problema kenangan masa lalu, ia bergegas masuk ke kamarnya sekarang.
__ADS_1
Di sana ia melihat istri keduanya sudah tertidur, rasa bersalah hinggap tidak bisa diabaikan. Ia mendekat kemudian membaringkan tubuh lemahnya di samping Alina dan memeluknya dari belakang.
“Mas, kamu sudah pulang?” tanya sang istri serak.
“A-apa aku membangunkanmu?” tanya balik Azam.
Seketika Alina membalikan badan dan menatap ke dalam manik kemerahan sang suami. Dahi lebar itu mengerut dalam menyaksikan sorot mata sayu Azam.
“Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa Mas menangis?” Dengan penuh perhatian Alina menangkup wajah hangat Azam dan mengusap kedua matanya menggunakan ibu jari.
Azam menangis kembali, tubuh tegapnya bergetar hebat. Alina terkejut dan khawatir jika sesuatu sudah terjadi. Buru-buru ia mendekapnya erat dan mengusap punggungnya perlahan.
“Jika memang sulit untuk dikatakan, biarkan saja. Aku ada di sini … aku akan tetap berada di sampingmu, Mas. Jangan pernah merasa sendirian, sekarang … Mas memiliki aku di sisimu,” ucap Alina lembut.
Azam membalas pelukannya tak kalah erat sambil membenamkan wajah berair di bahu sempit pasangannya.
Ia terus menangis dan menangis tanpa henti mengusik keheningan malam. Di dalam kamar terdengar isak pilu yang terlontar dari bibir menawan Azam.
Alina dengan sabar terus menenangkannya. Ia takut dan khawatir jika sesuatu benar-benar sudah terjadi. Selama ini ia tidak pernah lagi melihat suaminya menangis setelah kepergian Yasmin.
“Apa ada sesuatu di kantor? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak?” batin Alina khawatir.
“Maaf … aku benar-benar minta maaf.” Azam mengulangi kata maaf memberikan keyakinan pada Alina mengenai firasatnya.
Tanpa mengatakan apa pun, Alina hanya bisa menganggukan kepala dan menenangkannya lagi dan lagi. Sebagai seorang istri, terlebih pernah menjadi seorang madu, ia sangat takut jika ada sesuatu atau seseorang yang mencoba mengusik rumah tangganya kembali.
Di tengah tangisan Azam, Alina mencoba menguatkan diri sendiri dan meyakinkannya jika cinta yang suaminya berikan adalah tulus.
Namun, ia menyadari jika di relung hatinya paling dalam Alina mulai meragukan hal itu.
Sekelebat bayangan Yasmin datang membuat tanda jika Azam masih belum bisa melupakan mendiang istrinya.
Dalam diam, air mata kesedihan yang selama tujuh tahun tidak pernah mengalir, kini kembali datang.
__ADS_1