Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 126 (Season 2)


__ADS_3

Malam menjelang, langit begitu gelap tanpa ada satupun bintang ataupun bulan hadir sebagai penghias. Di tengah keriuhan guntur saling bersahutan di luar, keluarga Zulfan tengah makan bersama.


Meja berbentuk segipanjang dengan ukiran bunga di setiap sudutnya dipenuhi berbagai hidangan penggugah selera. Namun, Alina sama sekali tidak menikmatinya dan hanya menyuapkan nasi sebagai pengganjal.


Ibu mertua yang berada di depannya pun memperhatikannya sedari tadi. Moana meletakan sendok dan garuh lalu menautkan jari jemari di atas meja.


"Alina ... Mamah tahu kamu sangat mengkhawatirkan Raihan, tapi tolong ... kamu juga punya tugas sebagai istri untuk melayani suami. Jika kamu-"


"Mamah." Panggil Zaidan cepat.


Moana meliriknya sekilas dan kembali pada sang menantu. Alina yang sedari tadi melamun mengangkat kepala pelan dan beradu pandang dengan ibu mertuanya.


"Aku minta maaf, Mah. Sudah mengecewakan Mamah, Papah, dan Mas Zaidan tetapi ... aku tidak bisa mengabaikan putraku begitu saja. Aku tahu bagaimana sakitnya saat tidak ada orang tua di dekat kita. Aku ... tidak ingin Raihan merasakan hal yang sama."


"Aku minta maaf, terima kasih untuk makan malamnya." Dengan perasaan yang berantakan Alina bangkit dari duduk lalu menundukan kepada Moana dan pergi begitu saja.


Melihat itu Zaidan terkejut dan beranjak dari duduk, "Mamah, Alina sudah pulang ke rumah itu artinya dia mau bertanggung jawab sebagai istriku" ujarnya.


"Apa? Apa Mamah melakukan hal yang salah?" tanya Moana tidak mendapati jawaban sang putra yang sudah pergi menyusul istrinya.


Kepala keluarga itu hanya menggelengkan kepala dan menatap sang istri lekat. "Seharusnya kamu tidak berkata seperti tadi. Itu sangat melukai hatinya," kata Farras kemudian.


"Apa? Jadi Papah menyalahkan Mamah?" sungut Moana cepat.


"Bukan seperti itu Mah, hanya saja konteksnya berbeda. Saat ini mental Alina sedang tidak baik-baik saja. Ia harus dituntut terlihat baik-baik saja dan bekerja sama dengan mantan suaminya demi kepentiang sang anak. Mamah bisa bayangkan bagaimana masa lalu harus bersinggungan dengan keadaan sekarang? Pasti sulit dan tidak mudah dilakukan, tetapi Alina berusaha menyimbangkan statusnya sebagai istri Zaidan," tutur Farras panjang lebar.


Moana termangu dan mengerucutkan bibir merahnya. "Kalau begitu Mamah yang salah."


"Jika ingin menegur bicarakanlah baik-baik. Kalau bisa di antara kalian berdua saja, aku yakin Mamah lebih tahu. Karena kalian sama-sama seorang wanita," katanya lagi.


Moana mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Jauh dari lubuk hatinya sang nyonya besar merasa sangat bersalah.


...***...

__ADS_1


Alina duduk seorang diri di balkon kamar. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Kepalanya buntu tidak bisa memikirkan apa pun.


Sesekali angin hadir menyambut keberadaannya. Namun, tidak lama setelah itu kehangatan menjalar saat seseorang menyampirkan baju hangat di bahunya.


"Kamu bisa masuk angin jika berada di luar tanpa baju hangat," kata Zaidan mengejutkan.


Alina menoleh ke samping mendapati suaminya tengah tersenyum. "Terima kasih."


Zaidan mengangguk pelan dan berjalan mendekat lalu berjongkok tepat di hadapannya. Tangan tegap itu terulur menggenggam kedua jari jemari dingin sang istri.


Ia menariknya lembut dan membubuhkan ciuman berkali-kali di sana. "Sayang, aku minta maaf jika perkataan mamah tadi menyinggungmu."


"Tidak Mas, mamah sama sekali tidak menyinggungku hanya saja ... hanya saja aku sangat khawatir pada Raihan. Aku terus kepikiran dia, Mas ... aku takut Raihan memanggil-manggil aku saat tidak ada di sampingnya. Aku tidak bisa jauh darinya, Mas." Alina kembali menangis membayangkan hal yang belum benar adanya.


"Syut, jangan menangis, Sayang. Mas yakin Raihan baik-baik saja, bukankah di sana ada Azam? Mas yakin keberadaan ayahnya bisa membuat Raihan tenang."


Alina sesenggukan menahan sesak di dada sambil meremat kedua tangan suaminya kuat. Zaidan pun langsung memeluknya cepat dan mengusap punggung sang istri pelan.


"Aku minta maaf, Mas. Lagi-lagi aku kepikiran Raihan," cicitnya parau.


Seketia Alina melepaskan pelukan dan menatap tepat ke dalam bola mata sang suami. "Apa Mas tidak apa-apa?"


Zaidan terkekeh mendengar pertanyaannya, "apa yang kamu pikirkan, Sayang? Kamu sudah menjadi milik aku. Mas tidak apa-apa, sungguh." Jawaban itu membuat perasaan Alina semakin menghangat.


Zaidan pun menjawil hidung Alina pelan dengan memandanginya hangat. "Aku sangat menyayangimu, Sayang.


Alina termangu dan tercengang mendengar kembali ungkapan perasaan sang suami. Secepat kilat ia menghamburkan diri ke dalam pelukannya lagi.


"Terima kasih, aku mencintaimu."


Zaidan tersenyum lembut dan memeluknya sangat erat.


Di tempat berbeda di waktu yang sama Raihan baru saja sadar dari tidur panjangnya. Setelah meminum obat ia terlelap dan tidak tahu jika sang ibu pergi.

__ADS_1


Ia pun mencoba duduk kembali dan di bantu oleh Azam. Setelah mengucek matanya beberapa kali ia mengedarkan pandangan kala tidak mendapati Alina di manapun.


"Mamah mana, Ayah?" tanyanya penasaran.


Azam yang masih duduk di kursi sebelah menggenggam tangannya hangat. "Mamah pulang dulu, Sayang. Kasihan setiap malam Mamah harus tidur di sofa itu," ujarnya sambil menolehkan kepala sekilas ke samping,


"Raihan tidak ingin Mamah sakit, kan? Makanya Ayah menyuruh Mamah beristirahat saja di rumah," jelasnya lagi.


"Apa Mamah pulang ke rumah ayah Zaidan?" Pertanyaan yang ingin dihindari tercetus juga. Azam tidak tahu harus menjawab apa dan hanya bisa tersenyum simpul.


"Sepertinya benar, yah? Raihan tidak apa-apa justru ... Raihan senang jika Mamah pulang ke rumah ayah Zaidan."


"Anak pintar, jagoannya Ayah memang yang paling mengerti." Azam mengusap puncak kepalanya lembut.


"Jadi malam ini aku bisa bersama, Ayah?" tanyanya kembali. Azam pun mengangguk mengiyakan. "Yyee, sudah lama aku ingin tidur bersama Ayah. Raihan pikir malam ini Ayah akan pulang."


"Benarkah?" Dengan semangat Raihan pun mengangguk cepat. "Kalau begitu sekarang Raihan makan malam dulu lalu minum obat, setelah itu Ayah akan membacakan dongeng sebelum tidur."


"Em, Raihan akan melakukannya," balas Raihan gembira.


Azam pun kembali mengusap puncak kepalanya dan mereka pun tertawa bersama.


Waktu terus berlalu, selesai dengan segala rutinitas malamnya, ayah dan anak itu pun berbaring bersama di atas ranjang.


Azam menyamping dengan lengan sebelah kiri sebagi tumpuan kepala sang buah hati. Suara berat nan seraknya mengalun di ruang inap tersebut kala membacakan cerita dongeng.


Sesekali perawat yang hilir mudik di lorong menghentikan langkah. Karena penasaran mereka melihat melalui kaca dan seketika senyum pun terbit.


"Ayah yang baik." Itulah yang mereka pikirkan saat menyaksikan interaksi keduanya.


Ditambah dengan suara tawa yang mengalun semakin menambah kegembiraan pada ayah dan anak di dalam sana.


"Raihan senang sekali ... karena sekarang Ayah benar-benar menyayangi Raihan. Ya Allah semoga Ayah dan mamah selamanya bisa sayang sama Raihan," monolognya dalam benak. "Meskipun mereka tidak bisa bersama lagi, Raihan mohon semoga Ayah dan mamah bisa tetap baik pada Raihan," lanjutnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2