Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 74 (Season 2)


__ADS_3

Setelah berkecimpung dalam pembicaraan yang semakin memenas, Azam beranjak dari duduk seraya menggenggam pergelangan tangan Alina erat.


Sang empunya mendongak melihat sorot mata serius mengarah padanya. Dahi lebar itu pun mengerut dalam, tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Ayo, pergi."


Azam menariknya perlahan, Alina mau tidak mau mengikuti ke mana sang suami membawanya. Yasmin pun mengikuti mereka tanpa mengindahkan tatapan banyak orang.


Zara dan Zaidan yang menyaksikan adegan tersebut menyunggikan senyum simpul. Keduanya tidak mau ikut campur terlalu jauh mengenai permasalahan rumah tangga mereka.


"Alina itu ... wanita yang hebat, yah," ucap Zaidan lagi.


Zara yang tengah menikmati sepotong cheesecake mendongak melihat tatapan pria itu mengarah padanya.


"A-ah, yah memang seperti itu," kikuknya.


Zara menegakan tubuh menatap Zaidan lekat, perlahan kedua alisnya saling berpautan memikirkan sesuatu.


"Sepertinya saya pernah melihat Anda ... hmm, tapi di mana yah?" ujar Zara lagi semakin pelan.


Zaidan menopang dagu di atas meja, bibir menawannya kembali melengkung memperhatikan wanita di hadapannya.


"Waktu itu aku memang ada di ruangan atasanmu, saat Alina datang menerobos masuk. Bukankah kamu yang menenangkan kami?"


Pertanyaan tersebut seketika membuat Zara tersadar, manik bulatnya semakin melebar. Ia tidak menyangka jika pria luar biasa tersebut tepat di depan mata kepalanya sendiri.


"Ah ... Anda benar. Tunggu ... tadi sepertinya Anda memahami kondisi mereka. apa jangan-jangan Anda-"


"Kamu bisa menebaknya sendiri," jawab Zaidan lalu memasukan sesendok kue manis ke dalam mulut.

__ADS_1


Zara pun melebarkan senyum sambil mengangguk mengerti, dan mereka pun berbicara lewat sorot mata masing-masing. Isi kepala keduanya, baik Zara maupun Zaidan memiliki pemikiran yang sama.


...***...


"Tunggu!"


Suara halus seketika menghentikan Azam yang terus menarik Alina menuju tempat parkir bawah tanah.


Keduanya berhenti dan membalikan badan ke belakang. Azam terkejut mendapati istri keduanya berjalan mendekat, Alina pun langsung menghempaskan tangan sang suami dan turut menyambut madunya.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin mengatakan sesuatu padaku, Yasmin?" tanya Alina menatap ke dalam manik sang lawan bicara.


"Apa maksud kamu berkata seperti tadi? Kamu benar-benar ingin menjatuhkan dan mempermalukan suamimu?" tegas Yasmin bersitatap dengan istri pertama Azam.


Alina terkekeh pelan sambil melepas kontak mata dengannya singkat. "Dengar yah, Mbak Yasmin atau siapa pun kamu ... jika aku mau menjatuhkan kamu ataupun mempermalukan Mas Azam, sudah aku lakukan sejak dulu, tetapi –" Ia menjeda ucapannya dan melakukan hal yang sama seperti hari itu.


Alina mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik tepat di samping telinganya. "Tetapi, aku ingin melihatmu jatuh dengan sendirinya, tidak harus melalui tanganku sendiri. Kamu ingat perkataanku waktu itu?"


"Ah, kamu pasti sedang mengingat ucapanku waktu itu, kan?" ucap Alina lagi setelah menarik dirinya.


Yasmin diam mematung, bola matanya bergulir melihat Azam berdiri di belakang Alina. Ia kemudian melihat wanita itu lagi tengah melemparkan senyum manis.


"Apa yang kamu rencanakan kali ini?" tanya Yasmin lagi teredam.


"Aku tidak merencanakan apa pun. Aku hanya harus membuka topeng siapa kamu sebenarnya, agar dia-" Alina menggulirkan bola matanya ke samping menunjuk Azam yang sedari tadi terus diam. "Tahu siapa kamu sebenarnya."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Azam kemudian yang berjalan ke depan lalu berdiri tepat di tengah-tengah mereka.


"Mas, istrimu sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan kita," jawab Yasmin sambil menunjuk Alina.

__ADS_1


Azam pun seketika langsung menoleh pada sang istri. "Apa yang dikatakan Yasmin benar? Kamu ingin menjatuhkan keberhasilan suamimu sendiri? Seharusnya seorang istri itu membela suaminya, apa yang kamu lakukan di belakangku, hah?" Ia tiba-tiba saja berbicara dengan nada tinggi.


Alina menyeringai membalas tatapan Azam serius. "Jadi, Mas percaya apa yang dikatakan dia?" Dengan ragu Azam mengangguk pelan dan menatap mereka bergantian.


"Bagus, sudah cukup membuatku menyerah pada hubungan ini. Sebelum itu aku sudah menyiapkan kejutan untukmu di rumah. Mbak Yasmin juga, jangan terkejut jika nanti semua kebohongan bisa terungkap," jelas Alina memandangi keduanya.


Azam mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang dikatakan Alina. "Apa maksud kamu?" tanyanya kembali seraya mencengkram pergelangan tangan sang istri lagi.


"Lepaskan, ini terakhir kali aku bisa melihatmu."


Alina kembali menghempaskan tangannya dan melangkahkan kaki dari hadapan mereka. Mobil mewah itu pun membawa sosoknya pergi dan menghilang.


Di sana hanya tinggal Azam dan Yasmin, tatapan keduanya saling mengunci membiarkan keheningan mengambil alih.


...***...


Tidak lama berselang Alina sudah tiba di kediamannya, langkah kaki itu membawanya ke meja yang berada di ruang keluarga. Ia terdiam beberapa saat memandangi selembar kertas tergeletak di sana.


Sebelum ia pergi ke perusahaan sang suami beberapa jam yang lalu, Alina sudah lebih dulu meletakan kertas beramplop cokelat tersebut. Ia lalu meletakan secarik kertas lagi di atasnya dan terus memandangi kedua benda mati itu lekat.


"Satu minggu yang lalu aku memutuskan untuk mengambil keputusan ini. Semoga ini yang terbaik, aku tidak menyesal sudah jatuh cinta padamu dan bersanding denganmu. Bagiku waktu yang pernah kita habiskan bersama telah memberikan pembelajaran berharga jika ... hargailah seseorang sebelum ia pergi. Waktu tidak akan pernah bisa kita putar kembali ke belakang, jangan menyalahkan keadaan jika penyesalan datang."


Kata-kata itu bergema menemani kesendirian, Alina memandangi setiap sudut ruangan yang sudah menaunginya selama delapan tahun.


Tiba-tiba saja air mata mengalir tak tertahankan. Sudah banyak kenangan yang dilaluinya bersama sang suami. Namun, ia sadar memori itu hanyalah kepalsuan, tidak ada ketulusan maupun kejujuran di dalamnya.


Selama tujuh tahun Azam menyembunyikan fakta jika dirinya tidak bisa melupakan mendiang Yasmin.


"Aku hanyalah pengganti yang tidak dianggap. Aku istri di atas kertas, tanpa ada cinta ataupun kasih sayang tulus yang ia berikan. Selama tujuh tahun ini aku menutup mata dan menganggap jika mas Azam sudah bisa membalas perasaanku. Nyatanya, aku hanya jatuh cinta sendirian. Raihan, Mamah minta maaf harus memisahkanmu dengan ayah. Mamah minta maaf," ocehnya yang tengah memandangi foto keluarga mereka.

__ADS_1


"Tidak mungkin terus menjalani cinta yang seperti ini. Karena cinta tidak bisa dibagi, apa pun alasannya. Biarkan dia kembali pada dirinya dan aku akan mengalah untuk pergi dari kehidupannya. Terima kasih atas waktu yang pernah kamu habiskan bersamaku, mas Azam."


Setelah mengatakan itu Alina menghapus cairan bening di pipinya dan menarik koper yang sudah disiapkan. Bersama keheningan dan kehampaan ia pergi membawa kenangan menyakitkan yang akan ia lupakan bersama kepergiannya.


__ADS_2