
Selepas melaksanakan salat dzuhur berjamaah, dua keluarga itu pun menikmati santap siang bersama. Rahan pun sudah pulang dari sekolah dan ikut memeriahkan suasana di sana.
Ia terkejut kala mendapati Zanna dan kedua orang tuanya di rumah. Ia berpikir ada orang lain yang hendak mengusik keluarganya lagi.
Ia sudah memasang badan di depan Alina mencegah siapa pun mendekati sang ibu. Sikapnya itu pun mendapatkan pujian dari ketiga tamu.
"MasyaAllah, kamu benar-benar dianugerahi putra yang luar biasa," kata Zanna seraya menikmati makanannya.
"Alhamdulillah, Raihan memang sangat sensitif jika sudah berurusan denganku," balas Alina bangga.
"Karena aku tidak mau melihat Mamah sedih. Aku akan melindungi Mamah dari orang-orang jahat," lanjut Raihan mengacungkan sendok di sampingnya. Alina tersenyum lebar dan mengusap puncak kepala putra pertamanya.
Zanna pun tergelak seketika. "MasyaAllah, superhero nya Mamah yah." Dengan bangga Raihan mengangguk.
"Wajahnya benar-benar mirip ayahnya," lanjut Mentari ikut ke dalam pembicaraan.
"Dia memang seperti fotocopy an ayahnya," timpal Daffa memandangi bocah sembilan tahun itu.
"Benar-benar ayah Azam sekali." Zaidan pun ikut menimpali.
Ia lalu mencubit gemas pipi berisi putra sambungnya membuat sang empunya mengaduh.
"Ayah lepaskan, sakit tahu." Raihan menarik tangan sang ayah lalu mengusap-usap pipi kirinya pelan. "Aku memang mirip ayah Azam. Karena aku memang putranya dan ... aku juga anak Ayah yang paling tampan."
Dengan bangganya lagi dan penuh percaya diri Raihan menatap lekat Zaidan. Ayah sambungnya itu pun terperangah menyaksikan senyum lebar di wajah tampan sang putra pertama.
"Anak Ayah memang tampan," ujar Zaidan lagi mengusak surai lembut Raihan membuatnya mengerucutkan bibir.
Keempat orang dewasa di sana pun tertawa senang melihat keakraban ayah dan anak sambung tersebut.
Zanna, Mentari, serta Daffa merasakan keharmonisan keluarga Zaidan yang sudah mereka anggap seperti keluarganya sendiri.
Di tengah keakraban tercipta, suara sepatu pantofel bergema. Semua orang yang berada di meja makan pun menghentikan aksi tawanya dan menoleh ke samping.
Mereka melihat sesosok pria tinggi tegap, tengah mengenakan jas formal dengan tatanan rambut rapih, dan tangan kanan berada di saku celana pun datang.
Ia berdiri tepat di hadapan mereka semua seraya melebarkan senyum menawan. Kelima orang dewasa di sana pun terpaku atas aura kharismatik yang memancar darinya.
"Ca-Calvin?" Panggil Zaidan pelan melihat adik sepupunya datang.
__ADS_1
"Kenapa Mas tidak mengundangku makan siang bersama? Kenapa Mas tidak mengabari ku jika ada Zanna di sini?" tanyanya menggebu menghilangkan kewibawaannya.
Zaidan dan Alina memutar bola mata, bosan. Mereka sudah sering melihat Calvin dengan segala perubahannya.
Sejak mereka mendengar perasaannya kepada Zanna waktu itu, keduanya acap kali mendapati sang sepupu menanyakan kabar sang pianis.
Baik Alina maupun Zaidan menyadari jika rasa cinta yang dimiliki Calvin untuk Zanna benar-benar tulus. Mereka juga tidak menyangka selepas kejadian itu perasaan tersebut tumbuh di hatinya.
"Di mana salam mu?" ujar Zaidan mengingatkan.
Calvin pun tersadar dan mengusap tengkuknya pelan. "Maaf, Assalamu'alaikum," lanjutnya lagi.
"Em, wa'alaikumsalam."
"Wa'alaikumsalam," jawab yang lain.
Pasangan suami istri itu pun kembali menikmati makan siang tanpa mengindahkan keberadaan Calvin.
Dalam diam Zanna memperhatikan pria yang sudah satu bulan ini mengungkapkan perasaan. Ia tidak menyadari jika selama itu Calvin menaruh perhatian padanya.
Sejak ungkapan cinta tercetus mereka sudah tidak saling bertemu lagi. Calvin tidak ingin membebani Zanna dengan perasaannya.
Di tengah perbincangan yang terus dilontarkan oleh Calvin, perhatiannya seketika beralih pada sang pianis dan baru menyadari jika ada yang berbeda.
Ia diam mematung melihat perubahan Zanna. Kedua matanya terbelalak lebar dengan jantung bertalu kencang.
"Ma-masyaAllah, cantik sekali. Astaghfirullah." Calvin mengalihkan pandangan membuat Zanna pun melakukan hal yang sama. Ia sadar sudah mendapatkan perhatian dari pria itu.
Mendengar perkataan sang adik sepupu, Alina mengangkat kepala memandangi dua insan tersebut. Ia mengulas senyum hangat jika mereka layaknya anak remaja yang baru mengenal cinta.
"Bagaimana? Apa Zanna sangat cantik? Apa kamu mau membimbingnya? Ah, atau tidak ... kalian bisa belajar bersama-sama, tapi memang harus halal dulu," racau Alina mengundang atensi keduanya lagi.
Calvin menatap kakak sepupunya itu lekat dan duduk begitu saja tepat di sebelahnya.
"Mbak Alina, apa Mbak mau mengurusi pernikahanku?" katanya begitu saja.
"Em, tentu saja kenapa tidak?" Alina mengangguk semangat, kedua sudut bibirnya pun melengkung sempurna.
"Hei-hei-hei, apa yang kamu katakan? Siapa yang akan menikah?" tanya Zaidan langsung.
__ADS_1
"Tentu saja aku." Calvin menunjuk dirinya sendiri.
"Hah? Dengan siapa kamu akan menikah?" tanya Ziadan lagi mencoba memancing adik sepupunya ini.
"Tentu saja dengan Zanna. Eh!" Calvin sadar atas ucapannya sendiri.
"Eh!" Zanna dan kedua orang tuanya pun terkejut, seketika memandangi pria tampan itu.
Sadar akan kesalahannya, Calvin tersenyum kaku. Namun, sedetik kemudian ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Bismillah," gumamnya.
Air mukanya berubah menjadi serius, sorot mata hangat memandangi ketiga orang di hadapannya. Ia mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan siap mengatakan perasaan terdalam.
"Pada kesempatan kali ini, aku ingin mengatakan lagi apa yang aku rasakan. Zanna, aku mencintaimu. Tuan dan Nyonya Zyva jika Anda tidak keberatan bolehkah saya meminangnya untuk menjadi istri saya?" jelas, padat, dan lugas, Calvin mengungkapkan isi hati terdalam.
Alina dan Zaidan saling pandang lalu tersenyum lebar. Mereka pun memandangi ketiga tamunya yang terdiam bak bongkahan es.
Selama ini tidak ada satu pria pun yang benar-benar tulus mencintai Zanna dan berani memintanya kepada mereka.
Mentari dan Daffa pun saling pandang, bibirnya melengkung sempurna lalu kembali menatap pria muda tepat di depannya.
"Kami serahkan semuanya pada Zanna," timpal Mentari.
"Ayah, ingin yang terbaik untuknya. Jadi, kami menyerahkan hal ini pada Zanna. Karena dia yang akan menjalaninya," lanjut Daffa.
Seketika perhatian langsung beralih pada sang pianis. Menjadi pusat perhatian membuat Zanna tidak gentar sedikit pun.
Sekilas ia memandangi pada Calvin lalu menunduk menghindari tatapannya. Ia meremas pakaian dalam pangkuan kuat merasakan gejolak dalam dada.
"Kenapa? Kenapa kamu mau menjadikanku istrimu? Aku bukanlah wanita yang baik ... aku jauh dari kata sempurna, bahkan aku sangat jahat. Kenapa kamu-"
"Tidak perlu alasan yang bertele-tele kenapa aku ingin menjadikanmu istriku. Karena aku sangat mencintaimu, Zanna. Tidak perlu menjadi orang lain untuk dicintai, sebab aku sudah jatuh cinta padamu sejak waktu itu. Mari belajar bersama untuk meraih ridho nya Allah."
Kata-kata hangat nan dalam membuat jantung Zanna berdegup kencang. Ia terkesima atas untaian kata yang diberikan.
Ia semakin tidak bisa menahan kekaguman pada sosok di hadapannya ini. Ia juga tidak menyangka jika di hari dirinya berhijab, Allah menghadirkan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
...Bersambung......
__ADS_1