
Baru saja keluarga kecil Zaidan sarapan bersama, mereka dikejutkan dengan suara bel. Alina yang selesai memakainkan pakaian kepada Zenia pun buru-buru menuju pintu depan.
Ia berlari kecil saat suara itu semakin bertambah kencang. Ia tidak tahu siapa orang yang bertamu sepagi ini ke kediamannya.
"Iya, tunggu sebentar," katanya sedikit berteriak.
Tidak lama berselang, pintu kayu jati besar itu terbuka lebar. Manik jelaga Alina terbelalak melihat siapa orang yang bertamu ke rumahnya.
"MasyaAllah, Za-Zanna? Tuan dan Nyonya Zyva?" tuturnya terkejut.
Ia pun menutup mulut menganganya dengan kedua tangan. Kedua mata itu berkaca-kaca menyaksikan pemandangan di depan.
Zanna bersama kedua orang tuanya mengunjungi kediaman Alina dan Zaidan. Wanita yang berprofesi sebagai pianis itu pun mengembangkan senyum tulus.
Ia yang masih duduk di kursi roda hanya bisa mendongak memberikan sorot mata hangat. Alina pun memandangi mereka satu persatu dengan tidak percaya.
"Sayang, siapa yang dat-" ucapan Zaidan terhenti begitu saja saat mendapati teman masa kecilnya datang.
"MasyaAllah, Zanna? Papah? Mamah?" panggilnya, sama terkejut melihat kedatangan ketiganya. "Sayang, kenapa tidak menyuruh mereka masuk?" lanjut Zaidan mengingatkan.
"A-ah, saya minta maaf. Mari silakan masuk," kata Alina sadar dari lamunan.
Mereka pun duduk bersama di ruang keluarga. Zaidan memangku Zenia dan berdampingan dengan sang istri.
Di hadapan mereka, Mentari, Daffa, serta Zanna tengah memandanginya. Semua orang saling berhadapan hendak berbincang-bincang satu sama lain.
"Senang sekali Tuan, Nyonya, dan Nona Zyva bisa berkunjung ke rumah kami," kata Alina memulai.
"Bisakah kita berbicara santai saja? Tidak usah formal seperti itu," kata Zanna mengingatkan.
"Ah, maaf. Baiklah," balas Alina.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada lagi percakapan sampai beberapa detik ke depan. Detik demi detik berlalu, suara jam yang mendominasi menjadi musik pengiring kebersamaan.
Sampai Zanna pun mengambil alih menghempaskan keheningan membuat atensi langsung tertuju padanya.
"Kedatangan kami ke sini, karena ... aku ingin meminta maaf pada kalian, terutama padamu, Alina. Terlalu banyak kesalahan yang aku buat. Bahkan hampir saja menjadikan rumah tangga kalian berantakan, dan aku juga ... hampir mencelakakan Mas Zaidan."
"Aku benar-benar menyesal atas ... apa yang sudah ku perbuat. Aku malu Alina ... aku malu," ungkap Zanna, liquid bening mengalir tak tertahankan.
"Bahkan setelah semua yang sudah aku perbuat pada kalian ... kamu masih baik padaku. Aku mendengar dari dokter jika selama koma, kamu satu-satunya orang yang rutin mengunjungiku setiap hari. Kenapa Alina? Kenapa kamu mau melakukan itu padaku?" tutur Zanna lagi menatapnya dengan berurai air mata.
Alina menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Bibir ranum itu melengkung sempurna memandangi Zanna hangat.
Sang pianis terperangah menyaksikan kelembutan dari lawan bicaranya. Ia terkejut saat Alina bangkit dari duduk lalu berjalan mendekat.
Wanita berhijab itu duduk di kursi tunggal yang berada di dekat Zanna. Ia menatapnya lekat masih dengan senyum manis.
"Aku melakukan itu sebab ... aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahmu, kesedihanmu, dan juga ... membutuhkan orang yang benar-benar mengerti akan dirimu."
"Kamu sebenarnya wanita yang sangat baik, hanya saja caramu melampiaskan semuanya salah. Kamu tahu jika kita tidak punya seseorang yang bisa diandalkan sebagai teman curhat maka ... ceritakan lah semuanya pada Allah semata."
Zanna terdiam mencerna baik-baik kata demi kata yang terucap dari Alina. Ia sadar jika selama ini sudah sangat jauh dari sang Maha Kuasa.
Ia terlalu abai pada kehidupan akhirat dan lebih mengedepankan kesenangan dunia. Ia terjebak dalam lingkaran hitam yang semakin membuatnya terjerumus pada lubang kemaksiatan.
Seketika itu juga Zanna menangis sejadi-jadinya meminta maaf dan terus mengucapkan terima kasih. Ia sadar kedatangan Alina kepada kehidupannya sebagai pengingat.
Hidayah bisa datang kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Zanna benar-benar tertampar dengan ucapan demi ucapan yang selalu Alina berikan.
"Aku benar-benar malu, Alina. Aku minta maaf dan ... terima kasih," katanya sembari sesenggukan.
"Aku sudah mendapatkan ganjarannya sekarang. Allah mengambil nikmat berjalan hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
__ADS_1
"Sekeras apa pun aku melakukan terapi tidak ada perubahan yang terjadi. Aku-"
"Kamu juga harus berdoa dan meminta kesembuhan pada Allah. Karena Allah sang penyembuh, berusaha tanpa berdoa itu sama saja sia-sia, dan berdoa tanpa berikhtiar juga percuma. Jadi, seimbangkan lah keduanya," potong Alina cepat.
Ia memandangi kaki Zanna yang masih terlihat kaku, lalu meletakkan tangannya di sana. "Aku yakin jika suatu hari nanti kamu bisa kembali berjalan. Bukankah dokter mengatakan jika kamu mengalami lumpuh sementara, kan?"
Alina menolehkan tepat di depan wajah Zanna. Wanita itu terperangah lagi menyaksikan lengkungan bulan sabit berpendar di sana.
"Bi-bisakah kamu mengajariku untuk berhijab?" Entah dari mana asalnya kata-kata itu tercetus begitu saja.
Alina terkejut dengan kedua mata terbelalak lebar. Ia terperangah, tidak percaya mendengar hal tersebut dari Zanna. Untuk kesekian kalinya, ia mendapatkan orang-orang terdekat mengatakan niat baiknya.
"MasyaAllah, Alhamdulillah. Em, tentu saja aku akan mengajarimu. Harus kamu tahu juga berhijab bukanlah suatu pilihan, tetapi berhijab adalah kewajiban bagi kita seorang muslimah. Perintah berhijab turun langsung dari Allah."
"Perintah itu ada dalam surah Al Ahzab ayat 59 yang artinya, "Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
"Keutamaan menjadi seorang muslimah itu sangat luar biasa salah satunya berhijab adalah hadiah terbaik untuk ayah kita. Hadiah ini tidak bisa kita dapatkan di manapun. Karena keistimewaannya sangat besar," kata Alina semakin membuat Zanna terisak dan mengangguk mengerti.
"Bolehkah aku memelukmu Alina?" pintanya kemudian.
Alina mengiyakan dan langsung merengkuh Zanna. Ia ikut meneteskan air mata merasakan perasaan terdalam yang hanya bisa diungkapkan lewat tangisan.
Alina terharu sekaligus bangga menjadi saksi bagaimana Allah menurunkan hidayah-Nya kepada setiap hamba. Ia percaya mereka bisa menjadi muslimah sejati sebagaimana yang sudah Allah perintahkan.
"Ya Allah terima kasih atas segala rahmat, hidayah-Mu pada Zanna. Semoga Zanna bisa istiqamah berada di jalan-Mu," benaknya penuh harap.
Kedua wanita itu menjadi tontonan menarik orang-orang di sana. Ayah dan ibu Zanna juga turut terharu mendengar sang putri memiliki niat yang sangat baik.
Di balik peristiwa yang menimpanya terdapat kebaikan. Zanna sadar atas apa yang sudah diperbuatnya selama ini.
Ia terlalu terlena dan terbuai akan gemerlapnya kesenangan dunia. Ia mendapatkan ganjaran dari semua kelakuannya selama ini.
__ADS_1
Ia bersyukur jika Allah masih memberikan kesempatan padanya untuk berubah menjadi lebih baik. Ia pun menerima semua ujian yang diberikan Allah padanya.
...Bersambung......