
Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Keadaan sekitar hening tanpa terdengar suara apa pun. Sesekali angin berhembus memberikan udara dingin dan membekukan perasaan yang tengah patah.
Jatuh cinta sendirian bukanlah perkara mudah, sangat menyiksa serta menimbulkan luka yang tidak bisa sembuh begitu mudah. Butuh waktu seumur hidup untuk bisa melupakannya.
Setelah mengetahui fakta mencengangkan tadi siang, Alina mencoba menenangkan diri untuk tidak melakukan hal gegabah. Ia tidak bisa terus menjadi korban dan membiarkan mereka mengambil alih.
Ini hidupnya, ini jalan yang ia pilih untuk bersama Azam. Baik dan buruk, resikonya harus ia tanggung sendiri.
Di tengah kemelut memikirkan keguncangan di ruamh tangganya, pintu depan terbuka dan batang hidung sang suami terlihat. Senyum mengembang di wajah tampannya membuat Alina terpaku.
Pertahannya hampir goyah, Alina memalingkan wajah dan berdiri menyambut kepulangan sang suami. Ia masih menyalami tangannya dan membawa tas kerja. Namun, ia mencium aroma yang begitu asing melekat di punggung tangan Azam.
Alina menegakan tubuh mendongak melihat sorot hangat suaminya. Kedua alis saling berpautan kala mengamati apa yang tengah dipikirkan Azam.
"Ah, aku tahu pandangan itu bukan untukku," batin Alina.
"Apa sudah ada yang terjadi, Mas? Kenapa pulangnya larut sekali?" tanya Alina kemudian.
Azam tercengang, seperti ketahuan melakukan sesuatu. "A-ku tadi sudah bertemu dengan beberapa klien. Biasa, kalau sudah mendekati awal bulan selalu banyak pesanan. Apa kamu marah, Sayang?"
Alina membeku di tempat saat Azam merangkul dan membawanya ke dalam pelukan. Seketika itu juga harum parfum yang begitu asing membuatnya terkejut.
Alina mendorong dada suaminya kuat dan langsung mengalihkan pandangan. "Sepertinya Mas lelah, aku siapkan air hangat dulu." Ia pun bergegas pergi menyisakan keheningan.
Azam memandang sang istri yang terus menjauh lalu menghela napas lelah. "Aku minta maaf," gumamnya.
Ingatannya berputar beberapa jam lalu saat masih berada di restoran bersama Yasmin.
Malam datang menemani setiap insan guna mengistirahatkan tubuh letih setelah seharian bekerja. Tidak sama seperti kebanyakan orang, Azam mengajak Yasmin makan bersama.
Mereka duduk berhadapan seraya menikmati menu yang dipesan. Celotehan demi celotehan terdengar nyaring menambah kedekatan.
Tanpa ia sadari Yasmin mengulurkan tangan mengusap sudut bibirnya yang belepotan. Adegan tersebut membuat Azam terpaku, kepalanya terangkat menatap lekat manik jelaga sosok di hadapannya.
__ADS_1
Bak waktu berhenti berputar, keduanya saling pandang tidak menghiraukan hiruk pikuk di sekitar. Masa lalu yang sempat hilang kini terpendar lagi dalam ingatan.
"Aku menyukaimu."
Dua kata berjuta makna tercetus jua, entah sadar atau tidak Azam mengungkapkan perasaan terdalam. Yasmin termangu, mata bulannya semakin melebar tidak percaya. Ia pun mendengus pelan lalu memalingkan muka ke arah lain.
"Apa yang kamu katakan, Mas? Kamu menyukaiku?" tanyanya menegaskan.
Tanpa ragu Azam mengangguk yakin. "Aku menyukaimu," katanya lagi.
"Apa yang membuatmu menyukaiku? Bukankah Mas sudah mempunyai istri bahkan anak juga?" kembali Yasmin mengajukan pertanyaan kemudian melahap makanan di depannya.
Azam mengusap panggal leher pelan seraya menundukan kepala dalam. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Perasaan itu tiba-tiba saja tumbuh seiring berjalannya waktu, sudah satu bulan mereka menghabiskan hari-hari bersama.
Selain pekerjaan, Azam dan Yasmin selalu terlihat berdua bahkan bertiga bersama Zara. Tak ayal kebersamaan itu mengundang perasaan lain hinggap ke dalam hatinya.
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Bukankah perasaan itu tidak bisa dipaksakan? Tiba-tiba saja ... tiba-tiba saja aku sudah menyukaimu," ungkap Azam.
"Apa ada yang mendasari hal itu? Kenapa tiba-tiba saja kamu menyukaiku? Aku butuh penjelasan yang akurat," balas Yasmin serius.
Sang desainer interior itu pun terpaku melihat dua orang tengah tersenyum manis di dalamnya. Namun, Yasmin menyimpan misteri terkandung di balik diamnya.
"Dia-"
"Dia mantan istriku, namanya sama sepertimu, Yasmin. Yasmin Zakiyyah, wanita yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi sayang, Allah lebih menyayanginya. Bukankah sudah aku katakan? Mantan istriku meninggal karena leukemia ... iya Yasmin sudah pergi untuk selamanya delapan tahun lalu," jelas Azam sendu.
Setetes air mata menitik membasahi pipi, Yasim terkejut melihatnya. Ia sadar jika Azam sangat mencintai istri pertamanya.
Ia membawa foto itu dan menatapnya lekat, kemeulut dalam dada memuncak mengalirkan darah ke seluruh tubuh berdesir hebat.
Rasa panas menyengat membut dada naik turun, Yasmin menggertakan gigi pelan seraya menggenggam foto pernikahan sang rekan kerja kuat.
"Bertahun-tahun, akankah akhirnya berlabuh juga? Aku tidak menyangka sekarang duduk di sini bersama suamimu. Tidak ada yang serba kebetulan semua sudah menjadi takdir sang Illahi, tetapi tugas kita sebagai manusia adalah berusaha untuk mendapatkannya. Memang sangat menarik jalan cerita kisah ini," monolognya dalam diam.
__ADS_1
"Min ... Yasmin ... Yasmin!" Panggil Azam sedikit kencang.
Yasmin tersentak dan meletakan foto di atas meja, kepala berhijabnya mendongak menatap kekhawatiran Azam.
Bibir kemerahan Yasmin melengkung sempurna berusaha tidak terjadi apa pun.
"Apa kamu tidak apa-apa? Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Azam beruntun.
Yasmin mengangguk berkali-kali, "Aku tidak apa-apa, semuanya baik."
"Kenapa kamu melamun?" tanya Azam penasaran.
"Ada sesuatu yang aku pikirkan, tapi tidak mengganggu. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu mau menjadikanku istri berikutnya?" Yasmin mengajukan pertanyaan yang tidak pernah Azam duga.
Sang pengusaha itu terdiam beberapa saat dan tertawa kikuk. "A-pa yang kamu katakan? Aku memang menyukaimu, tapi-"
"Jika kamu memang benar-benar mencintaiku, maka buktikanlah. Bukankah aku mirip dengan mendiang istrimu? Yasmin Zakiyyah?" desaknya begitu saja.
Azam semakin membelalakan mata dengan jantung berdegup kencang, jauh dari lubuk hatinya ia menginginkan kebersamaan itu. Namun, ia juga menyadari jika wanita di hadapannya ini bukanlah Yasmin, sang istri pertama.
"Memang tidak mudah diposisi kita sekarang, kamu tidak menyukaiku sama sekali. Kamu hanya melihatku seperti mendiang istrimu. Aku dan dia-"
"Bukan ... bukan seperti itu. Aku ... aku hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di satu sisi kamu memang sangat mirip dengan Yasmin, tapi di sisi lain perasaan itu berbeda. Aku ... benar-benar telah jatuh hati," potong Azam cepat.
Yasmin melipat tangan di depan dada sambil memberikan tatapan serius. "Maka buktikanlah, apa kamu benar-benar mencintaiku atau tidak, tergantung dirimu sendiri. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kalau begitu aku pergi."
Setelah mengatakan itu Yasmin pergi dari hadapannya. Azam mengusap wajah gusar menahan gejolak dalam dada.
Sepeninggalan Yasmin ia menyadari jika apa yang dirinya katakan barusan adalah sebuah kesalahan. Namun, ia tidak bisa menahannya begitu saja dan langsung pergi menyusul wanita itu.
Yasmin terkejut saat tangan kanannya digenggam erat begitu saja. Ia menoleh dan seketika pandangan mereka terkunci.
"Aku akan membuktikannya."
__ADS_1
Kalimat itu meluncur sudah tidak bisa ditarik kembali. Azam menorehkan luka tak kasat mata di hati istri sahnya lagi.