
Malam semakin larut tidak menyurutkan niat Alina untuk pergi dari kehidupan penuh kebohongan. Dusta yang selama tujuh tahun menari indah dalam senyum manisnya kini tidak bisa ditoleransi lagi.
Sudah cukup, pernikahan yang hanya di jalani satu pihak tidak akan berjalan mulus. Akan selalu ada air mata dan gelombang kepedihan setiap kali masa lalu itu hadir.
Cinta memang tidak bisa dipaksakan, jika sampai itu terjadi maka akan ada hati yang terluka. Alina memilih mundur guna menyelamatkan perasaannya.
Dengan linangan liquid bening ia berjalan menuju rumah sederhana tidak jauh dari kediaman sang suami. Ia hendak menjemput Raihan dan membawanya pergi sejauh mungkin.
"Assalamu'alaikum," ucap Alina setibanya di sana.
Tidak berselang lama pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya menyunggingkan senyum hangat. Alina menunduk pelan kala pandangan mereka saling bertubrukan.
"Raihan dan Aqeela, baru saja tidur. Nona, mau menjemput mereka?" tanyanya.
Alina mengangguk pelan, "Bisa Nenek biarkan aku masuk dan membawa Raihan?"
Nenek berusia kurang lebih tujuh puluhan tersebut menjadi orang kepercayaan keluarga Azam. Di usia dua puluhan sampai sekarang wanita baya itu sudah mengabdikan dirinya.
"Apa pestanya sudah selesai? Nenek khawatir, karena sedari tadi Raihan terus mencari Nona," jelas sang nenek lagi.
"Em, terima kasih sudah menjaga mereka, Nek. Kalau begitu aku permisi masuk," lanjut Alina dan langsung melengos pergi.
Ia dan suaminya sengaja menitipkan Aqeela dan Raihan di sana. Karena Alina tahu jika di pesta tersebut Yasmin akan datang dan bisa saja melakukan hal yang tidak diinginkan pada kedua buah hatinya.
Namun, semua itu jauh dari ekspetasi. Alina tidak menyangka jika sang suami lebih percaya pada wanita asing tersebut daripada istrinya sendiri.
Sudah cukup Alina tidak bisa terus mempertahankan rumah tangga yang di dalamnya ada orang ketiga. Ia juga tidak ingin pernikahannya dibayang-bayangi wanita lain, meskipun itu istri pertama sang suami.
Karena hubungan mereka diawali dengan keterpaksaan, Alina sadar perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Ia memilih mundur dan memasrahkan semuanya pada yang di Atas.
__ADS_1
"Sayang, ayo bangun, Nak." Dengan berat hati Alina mencoba membangunkan Raihan.
Putranya pun membuka mata meskipun kantuk begitu menguasai. Ia menyipitkan pandangan melihat sang ibu tersenyum manis padanya. Di sebelahnya Aqeela juga terjaga dan melihat ibu sambung ada di sana.
"Mamah?" Panggil mereka bersamaan.
"Sayang, ayo pergi," ucapnya sambil menangkup wajah mungil jagoan kecilnya.
"Pergi? Apa kita akan pulang?" tanya Raihan polos.
Alina menggeleng pelan seraya menunduk singkat. Tidak Sayang, kita harus pergi," ulangnya lagi.
"Pergi? Apa yang Mamah katakan?" Kini giliran Aqeela yang bertanya.
Alina pun menoleh dan langsung menangkup kedua pipi bulatnya. "Apa Aqeela mau ikut sama Mamah?" tanyanya balik.
Aqeela pun langsung melepaskan tangan Alina dan menolehkan kepala ke samping. "Aku tidak mau ikut sama Mamah. Kalian mau pergi ke manapun, yah pergi saja. Aku tidak mau seorang ibu yang tidak tulus menyayangiku."
Tanpa sadar air mata mengalir tak tertahankan. Alina menyadari jika dalam diamnya, Aqeela pun menahan tangis. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa keinginan gadis itu tidak bisa diganggu gugat.
Alina membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya dan berbisik lirih. "Mamah sangat sayang pada Aqeela, jika ada kesempatan lagi semoga kita bisa bertemu."
Setelah mengatakan itu Alina pun pergi seraya menggandeng Raihan dari kamar sederhana tersebut. Seketika air mata tumpah tidak bisa ditahan lagi, Aqeela menangis merasakan sesak dalam dada. Namun, ia tidak bisa beranjak dari sana kala perkataan Yasmin berdengung dalam pendengarannya lagi.
"Mamah Alina hanya berpura-pura baik saja. Kamu jangan tertipu dengan sikapnya itu. Tidak ada yang benar-benar tulus menyayangi anak sambungnya, jika bukan karena ayahmu, Aqeela."
"Mamah jahat, kenapa Mamah harus pergi?" lirihnya.
...***...
__ADS_1
Alina sudah berada dalam perjalanan menggunakan bus umum bersama Raihan. Langit semakin kelam dan keheningan pun menyapa erat.
Di dalam kendaraan tersebut hanya ada beberapa orang yang sudah terlelap. Hal itu semakin membuat kehampaan kian menyapa. Cinta yang dari dulu sudah hinggap ke dalam dada tidak bisa bertahan lama.
Pria yang ia kagumi, sosok yang selalu disebut dalam do'a, ternyata hanya memberikan kebohongan belaka. Untaian kata yang tercetus di bibirnya hanyalah dusta nestapa. Fatamorgana yang memberikan ilusi jauh dari kenyataan.
"Pada akhirnya ini yang terjadi. Aku kembali pergi dan menyelamatkan perasaan. Ya Allah begitu perih perjalanan hamba, tetapi hamba percaya di baliknya ada kebaikan yang sudah Engkau siapkan," benaknya.
"Mamah, kenapa kita tidak pulang ke rumah? Apa kita pergi meninggalkan ayah?" Pertanyaan Raihan seketika menyadarkannya dari lamunan.
Alina menunduk melihat wajah yang persis sang suami tengah mendongak menatapnya. Ia mengulas senyum lembut dan mendaratkan kecupan hangat di dahi lebarnya.
"Em, yah. Maafkan Mamah, Sayang," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
"Kenapa? Apa ayah sudah tidak sayang pada kita lagi? Selama ini Raihan selalu melihat Mamah menangis. Apa ayah jahat pada Mamah? Jika memang seperti itu kita benar-benar harus pergi dari ayah. Raihan tidak mau melihat Mamah terus-terusan menangis," ungkapnya.
Alina tidak kuasa membendung air mata, liquid itu berjatuhan tanpa bisa dicegah. Ia menarik Raihan ke dalam pelukan dan memberikan ciuman mendalam di puncak kepalanya.
Selama ini ia tidak menyadari jika perubahan dalam rumah tangganya menarik perhatian sang putra. Diam-diam Raihan sering mendapati ibunya menangis seorang diri.
Ia tidak bisa mendekat, takut sang ibu lebih terluka. Anak itu akan selalu berdiri di balik pintu mendengar isak tangis ibu kandungnya.
"Mamah minta maaf, kamu harus kehilangan kasih sayang ayah. Mamah benar-benar minta maaf sudah memisahkan Raihan dengan ayah," tutur Alina setelah meredam sesak di dada.
Dalam pelukannya Raihan menggeleng singkat. "Ke manapun Mamah pergi, Raihan akan ikut Mamah. Karena Raihan tahu ayah tidak benar-benar menyayangi Raihan."
Sekuat tenaga Alina mengatupkan bibir menahan isak tangis. Ia tidak tahu sang putra begitu peka dengan keadaan keluarganya.
Hatinya begitu sakit mendengar penuturan Raihan. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri tanpa menyadari jika perasaan anaknya pun terluka.
__ADS_1
Alina mengelus punggung buah hatinya perlahan dan berkali-kali mencium puncak kepalanya. Tanpa ada kata yang terlontar ia terus memberikan gerakan implusif yang mengatakan jika dirinya sangat menyayangi Raihan.