Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 16


__ADS_3

Angin pagi masih membelai kedua insan yang tengah saling merengkuh di tepi kolam renang. Sesekali udara dingin tersebut membuat tubuh Alina sedikit mengigil, Azam dengan senang hati merapatkan dirinya untuk melindungi sang istri.


Aroma maskulin menguar dalam diri Azam mengantarkan rona merah di pipi putih Alina. Hangat pelukan orang yang dicintainya menggiring degup jantung kian berdetak cepat. Kesakitan yang sempat hinggap dalam dada berangsur pulih.


Alina senang bisa diperlakukan hangat oleh suaminya sendiri. Sejuknya bagaikan air hujan membasahi tanah gersang.


"Mas," panggilan lembut membuyarkan Azam yang tengah tenggelam dalam kenyamanan.


"Iya, Sayang."


Untuk persekian detik Alina menegang mendengar kembali panggilan sayang terucap dari suaminya. Senyum di bibir ranumnya semakin merekah indah. Bak bunga di musim semi membawa kebahagiaan lewat bunga sakura bermekaran. Namun, sayangnya di negara tropis musim semi tidak ada. Hanya menyisakan kehampaan dan harap yang kian mengakar.


"Mas harus segera pergi kerja, nanti terlambat," ingat Alina.


Azam terpaksa melepaskan pelukan dan membalikan tubuh sang istri untuk menghadapnya. Alina menautkan kedua alis melihat bibir menawan suaminya merengut, seperti anak kecil kehilangan mainannya.


"Jangan cemberut seperti itu, nanti tampannya hilang."


Alina dengan berani mengusap puncak kepala prianya. Azam kembali melabarkan senyum kala sang istri sudah terlihat baik-baik saja.


"Aku akan selalu tampan untukmu," ucap Azam dengan kepercayaan tingkat tinggi.


Alina hanya tersenyum simpul mendengar hal tersebut. "Baiklah, baiklah cepat sekarang Mas pergi ke kantor." Ia lalu mendorong dada suaminya pergi.


Tanpa diduga Azam memberikan kecupan di dahi memberikan ketegangan pada Alina. Ia merunduk mensejajarkan wajahnya dengan istri kedua. "Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik di rumah."


Nada lembut berdengung, Alina mengerjapkan matanya berkali-kali. Azam melebarkan kembali senyuman dan menepuk puncak kepala wanita itu pelan. Alina tersadar lalu menyalami tangan suaminya.


Setelah perpisahan singkat tersebut Azam melangkahkan kaki meninggalkan Alina. Iris kecoklatan wanita itu memandanginya dalam diam. Ia masih berusaha menahan degupan yang terus berpacu setiap Azam memperlakukannya dengan sangat lembut.


"Astaghfirullah, aku lupa mas Azam belum sarapan."

__ADS_1


Alina berlari sekuat tenaga menyusul sang suami.


Beruntung Azam masih ada di ruang tamu tengah mengenakan sepatu. Alina datang dengan napas terengah, pria itu kebingungan dibuatnya.


"Ada apa, Sayang?"


Dada wanita itu naik turun dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri. "Mas belum sarapan," jelasnya.


"Oh itu, aku akan sarapan di kantor nanti."


Alina cengo dan melambaikan kedua tangan. "Tidak, aku akan menyiapkan kotak bekal. Mas tunggu sebentar di sini," titahnya. Azam kembali menampilkan wajah ceria menyaksikan sang istri.


Tidak sampai dua puluh menit Alina sudah kembali dengan menenteng kotak bekal. Azam beranjak dari duduk menyambut kedatangan Alina.


"Ini, pastikan Mas harus memakannya."


Alina menyodorkan benda tersebut dan diterima hangat oleh Azam. "Baik, aku akan memakannya sampai habis. Terima kasih, aku pergi dulu."


...***...


Luka yang tercipta terkikis oleh manisnya kebaikan. Pasang surut dalam kehidupan rumah tangga sudah biasa terjadi. Pasangan suami istri harus percaya satu sama lain dan terikat kuat pada janji suci pernikahan untuk mempertahankan hubungan. Menikah menjadi landasan utama untuk menyempurnakan separuh agama.


Ibadah terlama yang mengandung pahala luar biasa. Namun, di dalamnya juga banyak sekali guncangan dan godaan ujian pernikahan. Sang nahkoda yang mengendarai kapal di lauatan diharuskan untuk membawanya dengan aman dan baik, agar penumpangnya selamat sampai pelabuhan.


Cinta datang seiring berjalannya waktu dan kebersamaan. Tidak bisa dipaksakan hanya bisa dirasakan.


Siang ini, Alina yang tengah memangku Aqeela duduk bersama Yasmin di pekarangan rumah. Segelas teh dan beberapa toples kue kering menemani mereka


"Kamu sangat mencintai mas Azam, kan?"


Pertanyaan yang meluncur cepat dari Yasmin membaut Alina menoleh. Wajahnya terlihat datar tanpa sedikit pun ekspresi yang terlihat. Merasa diperhatikan, Yasmin pun membalas tatapannya dan memberikan senyum lebar.

__ADS_1


Alina tercengang dibuatnya. Apa perasaannya sudah ketahuan? Pikirnya takut.


"Kamu tidak usah takut atau pun malu. Karena aku sudah siap jika waktu ini datang, cepat atau lambat."


Suara halus sarat akan makna berdengung dalam pendengaran. Alina sadar jika setegar apapun seorang istri berbagai suaminya bersama wanita lain pasti akan terluka juga. Terlebih dengan kondisi Yasmin yang tengah melawan penyakit ganas dalam tubuhnya.


"Pasti lebih terluka lagi," benak Alina.


"Bukankah itu bagus, kamu mencintai mas Azam dan sepertinya beliau juga mempunyai perasaan yang sama. Aku jadi tenang, kapan pun Allah memanggil maka mas Azam sudah ada yang mengurus." Kata Ysamin sambil menatap ke depan. Senyum masih setia membingkai di bibir pucatnya.


Alina lebih terkejut mendengar penuturannya barusan, kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali. Secepat kilat ia menggenggam tangan Yasmin yang bertengger di meja tengah mereka.


"Tidak, Mbak Yasmin tidak akan pergi ke mana pun. Kita akan selalu bersama, Aqeela juga membutuhkan Mbak. Ma-mas Azam terlihat seperti itu ka-karena beliau hanya memenuhi tugasnya sebagai suami," tegas Alina meyakinkan.


Yasmin pun membalas genggaman tangannya dan kembali menoleh. "Kita tidak tahu apa rencana Allah, Alina. Manusia hanya bisa berencana dan yang menentukan hanya Allah semata. Baik buruknya sudah menjadi jalan-Nya. Jika kemungkinan buruk itu terjadi, Mbak titip mereka padamu, yah. Hanya kamu Al, yang bisa menjadi ibu dan istri yang terbaik untuk mereka."


Alina tidak bisa menahan kesedihan, air mata tidak bisa dibendung tumpah ruah tak tertahankan. Ia beranjak dari duduk dan memeluk Yasmin begitu saja.


Wanita itu pun membalasnya. Yasmin tahu bagaimana perasaan madunya ini, karena sebagai sesama wanita ia pernah berada di posisi Alina. Jika mencintai dalam diam tidak mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan dan pengorbanan.


"Aku dulu hanya bisa melihat mas Azam dari kejauhan. Sosok pria itu tidak mudah untuk dijangkau, dia selalu bersikap dingin dan datar. Itulah yang aku sukai darinya. Entah siapa yang lebih dulu mendiami singgasana hatinya. Aku hanya selalu berdo'a meminta petunjuk pada Yang Di Atas untuk perasaanku ini. Sampai pada akhirnya Allah menyatukan kami berdua," monolog Yasmin teringat akan masa lalu.


Masa di mana ia pertama kali bertemu dengan Azam. Waktu itu ia menjadi adik tingkatnya di perguruan tinggi negeri. Mereka pun bertemu dalam sebuah organisasi keagaamaan. Di sana Yasmin tertarik karena sikap dingin, acuh tak acuh yang Azam layangkan. Namun, di balik itu terdapat sisi kebaikan dan kelembutan yang tidak bisa siapa pun lihat.


Yasmin menganguminya dan perasaan cinta itu tumbuh tanpa disadari. Ia yang terlahir dari keluarga berada tidak menyangka jika keluarga mereka ternyata saling menjalin kerjasama. Hingga hubungan keduanya pun berlanjut. Yang awalnya dari sebuah pertemanan kini sampai pada jenjang pernikahan.


Jika ternyata Azam juga menaruh hati padanya. Meskipun Yasmin tahu ada masa lalu yang tersimpan apik dalam diri pria itu. Ia tidak ingin melihatnya dan fokus untuk masa depan mereka berdua. Namun, siapa sangka penyakit yang dideritanya menghadirkan seorang wanita bernama Alina.


Alina dan Azam kembali bertemu di perusahaan. Alina yang hendak melamar pekerjaan untuk membantu ibu panti tidak menyangka bisa dipertemukan lagi dengan sahabat masa kecilnya. Azam senang bisa melihatnya lagi, hingga ia pun mempertemukannya dengan sang istri. Dan siapa sangka sejak pertemuan itu keadaan tidak lagi sama.


Pernikahan, mengikat mereka untuk terus bersama.

__ADS_1


__ADS_2