
Kata orang cinta itu buta, tetapi cinta juga bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah untuk diberikan perasaan terdalam.
Kadang kala cinta bisa menjerumuskan kepada lubang kemaksiatan ataupun keberkahan. Semua itu tergantung bagaimana menyikapi sebuah perasaan agar bisa diolahnya dengan baik.
Calvin, Daffa, Mentari, Zaidan, serta Alina pun dengan sabar menunggu jawaban Zanna. Kelimanya dibuat harap-harap cemas akan diamnya sang pianis.
Mereka juga mengerti jika ungkapan itu datang secara tiba-tiba dan tidak mudah untuk memberikan jawaban. Namun, Calvin sendiri tidak mau merasakan perasaan tersebut lebih lama dan semakin menjerumuskannya kepada kesalahan lagi.
"Jika kamu ingin menjadikanku istri, karena rasa bersalah atas waktu itu ... aku tidak bisa menerimanya. Lebih baik lupakan apa yang baru saja kamu katakan." Zanna mengangkat kepalanya mengulas senyum manis yang di dalamnya terdapat makna berbeda.
Calvin menggeleng tegas, "memang pada awalnya aku merasa bersalah, tapi seiring waktu ... aku benar-benar jatuh cinta padamu, Zanna. Aku mencintaimu."
Zanna terpaku, kedua matanya terbuka lebar dengan jantung bertalu kencang menyaksikan kesungguhannya.
"Itu benar, Tante. Aku rasa Om Calvin benar-benar menyukai Tante," timpal anak kecil itu di sana.
"Sayang, apa yang kamu katakan?" Alina menutup mulut lemes Raihan membuatnya terkikik pelan.
"Lihat, anak kecil saja bisa merasakan kesungguhan Calvin. Ini sudah waktunya kamu menerima orang yang benar-benar tulus mencintaimu, Zanna," timpal Zaidan kemudian.
Hening menyambut, Zanna kembali membungkam mulut rapat. Semua orang lagi-lagi ikut berdebar akan diamnya wanita itu.
Detik demi detik yang terlewati terasa panjang Calvin rasakan. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya kala Zanna menunduk dalam.
Ia tahu mungkin tidak ada kesempatan untuknya bisa bersanding bersama wanita anggun itu. Ia cukup sadar diri dengan statusnya saat ini.
"Iya aku tahu ... aku hanya anak yang tidak diinginkan di keluarga Zulfan. Aku juga tidak mungkin bisa bersanding dengan Zanna yang notabene wanita anggun, cantik, dan punya segalanya. Aku bisa apa? Zanna-"
"Baiklah, aku menerima lamaranmu," tegas dan jelas, Zanna memotong ucapan di benak Calvin mematahkan pikiran negatifnya.
"Be-benarkah?" tanya Calvin memastikan, Zanna pun mengangguk yakin.
"MasyaAllah, setelah ini aku akan melamar mu dengan formal," kata Calvin lagi. Zanna lagi-lagi mengangguk mengiyakan.
"Mbak~ aku akan menikah Mbak." Ia berteriak kencang seraya merentangkan kedua tangan.
__ADS_1
"Iya selamat, yah," balas Alina ikut senang.
Di saat ia hendak merengkuh sang kakak ipar Zaidan pun langsung berdehem kencang seraya berkata, "Yaaa! Kamu tidak bisa memeluk istriku."
Calvin pun menghentikan pergerakannya kala sadar atas apa yang baru saja hendak di lakukan. Ia nyengir kuda menatap mereka satu persatu.
Zanna tersenyum melihat tingkah lucu sang calon imam. Ia berpikir jika Calvin adalah seseorang yang Allah kirimkan untuk menyempurnakan separuh agamanya.
"Ya Allah semoga ini langkah terbaik bagi kami," benaknya.
Mereka pun berbincang-bincang bersama lagi dan saling melempar canda tawa.
...***...
Tidak ada yang tahu bagaimana rencana Allah bekerja, semuanya mengandung kejutan tak terduga. Tepat tiga minggu setelah pengakuannya di rumah sang kakak sepupu, Calvin pun membawa serta keluarganya untuk melamar Zanna lagi.
Ia menghadirkan ibu kandungnya yang sudah keluar dari rumah sakit sejak sebulan lalu ke sana. Di acara itu pun menjadi kali pertama Permata bertemu dengan keluarga sang suami.
Dawas memandangi menantu perempuan keduanya lekat seolah melihat sosok Calia. Tetua Zulfan itu pun berbicara padanya dan membuat Permata berterima kasih atas segala pengobatan terbaik yang diberikan pria baya tersebut.
Acara pun berlangsung lancar. Alina maupun Zaidan ikut terharu melihat Zanna yang masih menggunakan kursi roda menerima lamaran Calvin.
Keduanya berharap mereka bisa segera ke jenjang pernikahan dan hidup bahagia selamanya.
Setelah acara lamaran itu berakhir, semua keluarga Zulfan menginap di hotel mewah milik mereka. Dawas ingin bersama keluarganya membunuh waktu bercanda tawa dengan anak, cucu, serta cicit.
Mereka pun begitu menikmati fasilitas yang ada di sana. Termasuk Alina dan Zaidan yang tengah berada di kolam renang pribadi.
Air kolamnya yang hangat begitu memanjakan pasangan suami istri tersebut. Pemandangan alam yang bisa dilihat dari kaca tembus pandang pun menambah suasana.
Langit yang berubah gelap semakin menambah keintiman. Semula Alina dan Zaidan yang hanya berenang bersama kini saling menghadap satu sama lain di tengah-tengah kolam.
Alina mendongak menyaksikan indahnya manik kelam sang suami. Zaidan pun tersenyum manis kala wajah cantik istrinya semakin menawan akibat terkena air hangat.
Kedua pipinya memerah dengan bola mata berbinar. Ia pun mendekatkan wajah hingga membuat penyatuan pun terjadi.
__ADS_1
******* demi ******* bertambah kuat seiring berjalannya waktu. Suara kecipak basah saling bersahutan dengan air kolam yang mengikuti pergerakan keduanya.
Riak air yang dihasilkan sebagai tanda keintiman mereka. Uap dari kolam memeluk keduanya bagaikan berada dalam dimensi lain.
Kesyahduan kian menggelora mengantarkan pada keromantisan semata. Napas yang saling bersahutan seketika membuat penyatuan itu berkali-kali terjadi.
Tidak ada yang saling mengalah, keduanya saling menikmati permainan satu sama lain. Pergerakan itu pun berubah ke hal yang lebih intim lagi.
Zaidan menjamah ceruk leher jenjang sang istri dengan lembut. Dengan pasrah dan menyerahkan semuanya pada sang suami, ia semakin mendongak memberikan akses pada pasangan halalnya.
Mendapatkan lampu hijau Zaidan tidak menyia-nyiakannya. Ia memangku sang istri dan mendudukkannya di tepi kolam.
Mereka pun saling bertatapan dan mengembangkan senyum lembut. Tanpa berbicara Zaidan kembali menjamah sang istri.
Alina pasrah dan ikut terbawa suasana. Ia menjambak surai halus sang suami dan menekan kepalanya dalam.
Suara-suara kesyahduan bergelora menemani sepasang suami istri di sana. Nuansa romantis mendukung atas apa yang dilakukan pasangan halal di sana.
Mereka bisa melakukan apa yang keduanya mau tanpa khawatir diganggu. Karena Zaidan dan Alina sudah menitipkan dua anaknya kepada Moana dan Farraz.
Banyaknya anggota keluarga membuat mereka tidak khawatir mengenai keberadaan Raihan maupun Zenia.
Kini keduanya sudah terlena akan kenikmatan surga dunia. Mereka seperti tengah melakukan bulan madu keduanya selepas kejadian demi kejadian menimpa.
Tidak ada yang mereka pikirkan saat ini hanya dekapan hangat dari tubuh masing-masing orang tercinta. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bersama pasangan halal menikmati waktu.
Langit menemani mereka menjadi saksi bisu. Sesekali angin berhembus membuat keduanya kembali ke tengah kolam.
Alina maupun Zaidan, sama-sama tidak ada yang mau mengakhiri. Sampai kegiatan inti pun berlabuh. Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu pun menikmati setiap sentuhan.
Darah yang membara membuat tubuh keduanya memanas. Namun, hal tersebut menambah gairah dan cinta semakin bergelora seraya berisik lirih jika:
"Cinta akan terus abadi jika saling percaya."
...Bersambung......
__ADS_1