
Aroma berbagai jenis bunga begitu memancar menemani setiap langkah. Halaman luas yang ditumbuhi dengan berbagai tanaman menambah keindahan menemani air mancur kecil di tengah-tengahnya, menyenandungkan suara air begitu mendamaikan.
Kesejukan kian menyapa erat saat ia semakin masuk ke kediaman tersebut. Tidak lama berselang ia tiba di pintu jati yang menjulang tinggi di hadapannya.
Sekali lagi Alina menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Bismillah," gumamnya lalu mengangkat tangan dan menekan bel.
Suara nyaring bergema ke segela penjuru mansion mengejutkan para penghuni di dalamnya. Beberapa saat kemudian seorang maid membuka pintu dan menautkan kedua alis melihat keberadaan Alina.
"Assalamu'alaikum, saya Alina. Apa tuan muda ada di dalam?" tanya Alina ramah.
Maid wanita berusia dua puluhan itu pun melihatnya dari ujung kepala sampai kaki. Alina yang diperhatikan sebegitunya merasa risih dan ikut mengertkan kening.
"Halo, apa tuan muda ada?" tanya Alina kembali.
"Ada keperluan apa yah?" tanyanya congkak.
"Saya istrinya dan mau menemuinya," balas Alina mengulas senyum singkat.
Mendengar itu sang maid pun tercengang dan tidak percaya. Dalam hatinya berkata tidak mungkin tuan muda mendapatkan istri seperti ini? Lihat saja penampilannya tidak jauh dari wanita desa.
"Apa yang kamu lakukan Dea?" Suara berat nan serak menyapanya dari belakang.
Dea, maid itu pun membalikan badan dan melihat kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan keluarga Zulfan di sana. Pria paruh baya yang mengenakan jas hitam formal dengan kacamata bulat bertengger di wajah tuanya memandangi sang maid.
Bentuk muka tersebut seolah tidak asing di mata Alina, "Ah, Tuan Amar, ayah mas Dimas," benaknya.
"Beliau adalah Nona Muda di rumah ini, kamu harus sopan padanya," jelas Amar membuat Dea berubah kikuk.
"A-ah, maaf atas kelancangan saya. Silakan masuk Nona Muda." Ia bersikap lebih hangat membuat Alina hanya mengangguk singkat.
Ia pun masuk ke dalam dan lagi-lagi terpesona melihat kemegahan kediaman sang suami. Interior-interior yang terpajang begitu mewah, gucci-gucci di sekitar tangga begitu kokoh menampakan keangunan.
Ada piano besar di sebelah kiri yang menghadap langsung ke taman membuat Alina terdiam kaku. Ia terpesona kala menyaksikan betapa luar biasanya mansion keluarga Zulfan yang didominasi nuansa gold.
"Maaf atas sikap tidak menyenangkan pelayan tadi," kata Amar mengejutkan.
__ADS_1
Alina yang masih mengaggumi isi bangunan itu pun seketika terperangah. "A-ah, tidak apa-apa Tuan. Saya mengerti orang-orang di sini belum tahu."
Amar pun mengangguk singkat, "Tuan muda ada di kamarnya. Sejak kemarin beliau terus berada di sana," tuturnya mengundag penasaran Alina.
"Kalau begitu saya ke sana dulu?"
"Silakan Nona, tuan pasti senang melihat Anda datang," ucapnya. Alina mengiyakan dan langsung melangkahkan kaki menuju tangga.
Setibanya di sana ia disambut dengan tatapan sang ibu mertua. Alina mengangguk pelan dan menyapanya hangat.
"Mah," panggilnya.
"Kamu? Kamu ingat pulang juga?" tuturnya ada sedikit nada dingin di sana.
Alina terpaku sekilas dan membalas tatapannya. "Aku minta maaf, Mah."
"Sudalah, temui suamimu," katanya lalu berjalan mendekat dan menepuk pundak sang menantu pelan. "Jangan sampai mengecewakannya." Moana berbisik pelan kemudian pergi meninggalkan kebimbangan dalam diri Alina.
"Aku tahu ... mamah tidak usah khawatir. Aku juga minta maaf," bisiknya dalam hati.
...***...
Pria itu berdiri tegap memunggunginya sambil menghadap ke jendela besar. Perasaan bersalah seketika melingkupinya.
Rasa kecewa, sedih, dan takut menjadi satu. Alina pun bergegas mendekat dan langsung menghamburkan diri memeluk sang suami dari belakang.
Hal itu seketika membuat Zaidan terperangah. Ia sangat terkejut saat mendapatkan serangan begitu mendadak.
"Kamu pulang? Apa Azam yang memberitahumu keberadaan rumah ini?" Suara baritone seketika menginstrupsi.
Kepala yang bersandar di punggung kokoh itu pun mengangguk beberapa kali. "Aku minta maaf sudah mengabaikanmu, Mas. Aku minta maaf," lirihnya.
Zaidan pun melepaskan kedua tangan yang melingkar di perut berototnya. Ia lalu menghadap ke belakang dan mendapati wajah sang istri yang sudah basah.
"Jangan menangis, aku sudah berjanji akan membuatmu terus tersenyum." Perkataan serta perlakuan hangat itu menjadikan diri Alina tidak berdaya.
__ADS_1
Ia membiarkan sang suami menangkup kedua pipi dan menghapus air matanya. Ia kemudian mendongak melihat wajah tegas Zaidan.
Di lihat dari jarak sedekat itu ia baru menyadari jika pasangan halalnya begitu tampan. Bulu mata lentik nan tebal membingkai kelopaknya yang besar, alis tergambar tegas dengan hidung mancung menambah ketampanan.
Terakhir pandangannya pun jatuh ke bibir kemerahan yang tengah menyunggingkan senyum lembut. Alina terdiam bak bongkahan es kala mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Jika terus memandangiku seperti itu ... kamu akan jatuh cinta padaku terus menerus."
Seketika rona merah menghiasi pipi putih Alina. Ia memberikan pukulan pelan di lengannya dan menunduk dalam.
Ia malu sudah mengamati suaminya diam-diam. "Kamu tidak usah malu, Sayang. Aku sudah sah menjadi suamimu."
Alina kembali mendongak dan bersitatap lagi. "Aku benar-benar minta maaf. Aku-"
Ucapan Alina seketika terhenti kala benda kenyal nan basah menyambarnya cepat. Alina membelalakan mata terkejut dan sesaat napasnya tercekat di tenggorokan. Namun, sedetik kemudian pasangan suami istri itu pun larut dalam kesenangan.
Setelah penyatuan yang tiba-tiba terjadi, Zaidan melepaskannya dan melingkarkan kedua tangan di pinggang sang istri. Kedua celah bibir merahnya terbuka menampakan deretan gigi-gigi putih.
"Aku tidak masalah kamu mengurusi Raihan. Karena dia adalah putramu dan juga putraku ... tetapi, sekarang kamu sudah bersuami lagi dan punya tanggung jawab yang lain. Aku hanya ingin kamu bisa membagi itu," ucap Zaidan lembut.
"Aku minta maaf." Hanya itu yang bisa Alina katakan.
Zaidan menarik pujaan hatinya ke dalam pelukan dan mendaratkan dagu di puncak kepala Alina. "Em, tidak usah minta maaf aku mengerti. Mulai sekarang kita akan terus bersama-sama menghadapi segala kesulitan yang terjadi."
"Aku minta maaf sudah bersama mantan suamiku," kata Alina cepat.
"Em, tidak apa-apa aku sangat mengerti, Sayang. Aku juga ingin kamu mengandalkanku sebagai suami," ungkapnya lagi.
Alina mengangguk beberapa kali dan semakin merapatkan diri ke dalam pelukan sang suami. Aroma mint dan citrus menguar menenangkannya.
Ia lelah, sungguh dirinya sangat lelah menghadapi masalah baru yang menimpa. Ia sadar jika keputusannya untuk menikah lagi, maka ia juga harus siap dengan segala resiko yang terjadi.
"Semoga aku bisa membagi waktunya," benak Alina dalam diam,
Zaidan terus mengusap punggung ramping sang istri menyalurkan kasih sayang. Ia sama sekali tidak keberatan jika Alina mengurusi buah hatinya, tapi ia juga ingin diperhatikan sebagai suami.
__ADS_1
Meskipun kekanakan, tetapi seperti itulah seharusnya. Ia juga akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka berdua. Karena ia tahu resikonya jika menikahi seorang wanita yang sudah mempunyai anak.
...Bersambung......