
Tidak ada yang tahu kisah apa terjadi esok hari. Kedatangannya begitu mengejutkan dan juga mendebarkan. Cerita pada hari ini akan menjadi sebuah kenangan yang tidak bisa terulang. Waktu mengikis kebersamaan hingga menimbulkan kenangan.
Memori indah ataupun sedih tergantung apa yang terjadi pada hari itu. Inilah perjalanan hidup yang tidak bisa kembali, meskipun penyesalan menyertai.
Zanna membuka mata, retinanya seketika menyipit kala beradu langsung dengan cahaya di ruangan. Ia melenguh saat sekujur tubuhnya mati rasa.
Di satu tempat ia merasakan sakit nan perih. Ia lalu memandangi sekitar seraya mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi semalam.
Sampai pandangannya pun berhenti pada sosok pria yang tengah tertidur terlentang. Seketika ia terbelalak lebar menyadari jika dirinya sudah menghabiskan malam bersama orang asing.
"Si-siapa dia?" gumamnya takut-takut.
Ia beranjak dari tidur sembari menutupi tubuh bagian depan, kemudian ia melihat keadaan mereka yang sama-sama tidak mengenakan pakaian.
"A-apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria ini? Bukankah semalam aku bertemu dengan mas Zai-" ucapannya terhenti begitu saja.
Otaknya merespon jika ada sesuatu terjadi. "Apa jangan-jangan ini rencana mereka? Aku tidak akan membiarkan semua ini."
Zanna menyibak selimut dan langsung memakai pakaian yang berhamburan di lantai. Kurang lebih lima menit ia menatap nyalang Calvin tajam.
Setelah itu ia pun pergi seraya membanting pintu kasar. Mendengar hal tersebut Calvin membuka mata, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Ia meraba nakas membawa benda pintar miliknya lalu menghubungi seseorang.
"Aku sudah menjalankan tugas dengan baik, tapi yah kami kembali berhubungan. Ini jauh melenceng dari rencana kita," ujarnya.
Tidak lama berselang panggilan pun berakhir. Iris cokelat beningnya menatap langit-langit ruangan, ia menghela napas kasar seraya bergumam, "semua sudah terjadi."
...***...
Alina, Zaidan, Dimas, Angga, dan Sarah sudah kembali bersama. Semalam mereka menyaksikan lagi adegan intim antara Zanna dan Calvin.
Keempatnya tidak menyangka jika Zanna merupakan wanita yang melakukan berbagai cara untuk bisa bersama seseorang.
Sangat disayangkan wanita yang dikenalnya baik bisa berubah menjadi seperti itu. Zaidan tercengang dan terkejut, tetapi di satu titik ia merasa kasihan.
__ADS_1
"Lebih baik kita segera memberitahukan hal ini pada tetua Zulfan," usul Angga dijawab anggukan dari yang lain.
"Kamu hubungi Calvin untuk segera menyusul ke mansion Zulfan," titah Zaidan pada Dimas yang diiyakan olehnya.
Mereka pun berada dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Zulfan. Sebelumnya Zaidan menghubungi sang ibu untuk mengumpulkan semua keluarga guna menjadi saksi atas apa yang akan terjadi.
Dalam diam Alina terus berdo'a semoga permasalahan dalam rumah tangganya segera berakhir. Ia berharap tidak ada lagi gangguan mengusik pernikahannya.
Kurang lebih dua puluh lima menit kemudian, mereka pun tiba di sana. Dahi kelima orang itu pun mengerut kompak menyaksikan dua mobil mewah terparkir tepat di depan pintu masuk.
Samar-samar mereka juga mendengar kegaduhan di dalam. Ada suara tangisan sarat akan kesakitan yang menarik perhatian.
Tanpa berkata-kata mereka bergegas masuk dan mendapati keluarga Zyva di sana. Melihat kehadiran Zaidan, seorang pria berusia lima puluhan bergegas mendekat.
Tanpa aba-aba tamparan keras melayang ke pipi putih Zaidan. Sang empunya terkejut melihat wajah murka tepat di depannya.
"A-ayah ... em, Tuan Daffa?" Panggil Zaidan terkejut saat ayah dari Zanna itu menamparnya keras.
Kejadian singkat itu pun mengejutkan semua orang di sana. Moana bergegas mendekat langsung menggandeng lengan putranya erat.
Daffa Zyva menggeram menahan emosi yang sudah melingkupi ubun-ubun. Namun, sebelum ia membuka mulut, suara tongkat yang dihentakan ke lantai menarik perhatian.
Zaidan menggulirkan bola mata ke sebelah menyaksikan sang kakek berjalan mendekat. Untuk kedua kalinya ia mendapatkan tamparan di wajah.
Sudut bibirnya pun sedikit robek dan mengeluarkan darah. Melihat hal itu Alina menutup mulut menganganya dengan kedua tangan gemetaran. Sarah yang berada di sampingnya pun bergegas merangkul sang kakak menenangkan.
"Berani-beraninya kamu! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA ZANNA?" teriak Dawas murka.
Zaidan menautkan kedua alis tidak mengerti. "Apa yang Kakek bicarakan? Aku tidak melakukan apa-"
"KAMU SUDAH MENGHAMILI PUTRI SAYA, SEKARANG KAMU HARUS BERTANGGUNG JAWAB!" ungkap Daffa menahan amarah.
Sebagai seorang ayah, ia tidak terima putri keduanya dihamili oleh seorang pria sebelum adanya akad. Namun, ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Setelah pulang dari klub semalam Zanna menangis pada orang tuanya dan mengaku sudah dilecehkan oleh Zaidan. Serta ia juga memberitahukan jika dirinya hamil dari perbuatan yang selama ini dilakukan Zaidan terhadapnya.
Mendengar pengakuan itu pun sontak ayah, ibu, dan juga tetua Zyva marah. Mereka tidak percaya pria baik seperti Zaidan melakukan hal tidak senonoh pada putri mereka.
Dengan emosi yang membuncah mereka datang ke kediaman Zulfan. Di sana mereka bertemu, Dawas, Farraz, Moana serta anggota keluarga yang lain.
Zanna menangis sesenggukan memperlihatkan aktingnya dengan baik dan mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh Zaidan. Hingga membuatnya mengandung benih dari keturunan Zulfan, sontak pemberitaan itu pun membuat keluarga itu terkejut.
Saat Zaidan datang, kejadian itulah yang terjadi. Mereka memandanginya remeh, tidak menyangka pria baik sepertinya telah melakukan tindakan memalukan.
"Kamu harus bertanggung jawab dengan menikahinya," ujar sang kakek menahan emosi seraya melemparkan tespack garis dua pada wajah Zaidan.
Tidak jauh dari mereka, Zanna masih menangis seraya memeluk ibunya. Ia berpura-pura menjadi korban dan tersakiti.
Melihat bukti itu baik, Zaidan, Alina, Angga, Sarah, dan Dimas tercengang tidak percaya. Mereka sadar jika hal tersebut merupakan akal-akalan Zanna semata.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku sama sekali tidak melakukan apa pun yang dikatakan Zanna. Semua ini hanya salah paham," ujar Zaidan membela diri.
"Salah paham katamu? Buktinya sudah ada, kamu tidak bisa mengelak lagi," lanjut Daffa memandanginya marah.
"Pokoknya Kakek tidak mau tahu, kamu harus segera menikahi Zanna!" tegas Dawas seraya menghentakan tongkatnya. Suara itu pun bergema menarik perhatian semua orang.
Melihat suaminya terus disudutkan, Alina bergerak, berjalan ke depan sang suami memandangi orang-orang penting itu.
"Tanpa mengurangi rasa hormat izinkan saya untuk berbicara. Saya-"
"Siapa yang memberimu izin untuk berbicara?" Dawas memandangi Alina tajam. "Tidak ada tempat bagimu di sini."
Alina mengepalkan kedua tangan kuat. Ia memberikan tatapan nyalang kepada orang-orang yang kini memperhatikannya. Hingga bola matanya pun berhenti pada Zanna yang kini sudah mengangkat kepalanya.
Ia menyeringai tajam membuat wanita itu terpaku. Zanna kelimpungan mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia merasakan sebuah firasat tidak mengenakan saat pandangan mereka saling beradu.
"Baiklah, saya akan berbicara sebagai orang asing di sini. Karena ada sesuatu hal yang harus diluruskan agar tidak ada kesalahpahaman. Di sini saya berbicara sebagai istri yang ingin mempertahakan rumah tangganya."
__ADS_1
Suara lembut nan tegas itu menjadi satu tanda jika Alina tidak main-main. Ia terus menyeringai sampai pada akhirnya tepat mengarah pada tetua Zulfan.
...Bersambung......