Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 168 (Season 3)


__ADS_3

"Kamu membuat kami malu, Zanna. Apa yang kamu pikirkan dengan merendahkan harga dirimu untuk mendapatkan Zaidan? Ayah kecewa padamu!" Daffa melangkahkan kaki dari kediaman Zulfan.


"Mamah benar-benar tidak menyangka kamu bisa melakukan semua ini. Jadi, kamu berpura-pura hamil untuk membohongi kami? Kamu sudah membuat kami malu, Zanna." Angela menyusul suaminya pergi menyisakan Zanna yang sudah berlinang air mata.


"Tidak kalian semua salah, mereka yang sudah menjebakku!" bela Zanna menghentikan langkah orang tuanya.


Ia menunjuk Alina tepat di depan wajahnya. "Wanita ini yang sudah menjebakku. Dia yang mendorongku untuk bertemu pria itu," akunya lagi.


Alina menyeringai permainan Zanna membuatnya geli. "Apa Nona mau mempermalukan diri sendiri lagi? Semua orang di sini bisa melihat dan menilai seperti apa Nona dalam video tadi."


"Apa benar itu ada paksaan dari seseorang?" Alina memandangi semua orang hingga pandangannya terhenti di kedua orang tua Zanna.


Mereka menatap lurus pada Alina yang tersenyum penuh makna. "Itu benar, tidak ada siapa pun yang memaksamu, Zanna. Sudah hentikan jangan mempermalukan diri sendiri lagi," kata ayahnya yang kembali melangkahkan kaki.


Sang ibu hanya menggelengkan kepala seraya menghela napas lelah. Zanna tidak percaya mereka tidak percaya pada ucapannya. Tatapan orang-orang sekitar pun mengarah padanya sambil bergunjing membicarakan dirinya.


Melihat sang pianis nampak menyedihkan, Alina berjalan mendekat menjulurkan sapu tangan. Zanna mendongak melihat wajah berseri itu.


"Pusa kamu sudah mempermalukan aku?"


"Aku tidak mempermalukanmu, justru ... kamu yang mempermalukan diri sendiri. Karena bagaimanapun menginginkan suami orang itu salah, Zanna. Semoga dengan adanya kejadian ini kamu bisa berubah," nasehatnya.


Zanna tidak terima dan langsung menampik tangan Alina lalu melangkahkan kaki dari hadapan mereka. Dengan tatapan nyalang ia melihat ke arah orang-orang yang sudah menjebaknya.


Dalam hati berbisik lirih jika dirinya tersulut dendam yang tidak bisa dirinya maafkan. "Lihat saja aku belum menyerah untuk memisahkan kalian. Dengan kejadian ini aku semakin semangat menganggu kalian," benaknya.


Sepeninggalan Zanna, keadaan di sana kembali hening. Semua anggota keluarga menatap Dawas yang sedari tadi terus diam. Bibirnya terkatup rapat seolah terkunci tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.


Zaidan berjalan mendekat dan tepat berdiri di depan sang kakek. Dawas mengangkat kepala saat menyaksikan sepasang kaki mengganggu penglihatannya.


"Jadi, apa Kakek masih mau menjodohkan dengan Zanna? Wanita itu tidak sebaik apa yang Kakek pikirkan," ujarnya tersenyum ramah.

__ADS_1


Dawas berdehem kasar lagi memandang Zaidan lalu ke sekitar. Semua orang di sana menatapnya lekat sampai pandangannya terhenti pada satu sosok yang dulu pernah diusirnya.


Beberapa detik memandangi Calvin, Dawas menghentakkan tongkatnya kuat lalu berbalik hendak pergi begitu saja. Namun, sebelum kakinya melangkah perkataan lain dari Zaidan membuatnya beku.


"Calvin Alfero, apa Kakek pernah bertemu dengan dia? Pria di sana itu-" Zaidan menolehkan kepalanya ke belakang singkat. "Dia ... dia adalah cucumu juga, Kek," ungkapnya.


Mendengar penuturan tersebut anggota keluarga Zulfan terkejut. Mereka berbisik-bisik satu sama lain meyakini jika wajah pria muda yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk mirip Zaidan.


Farraz yang mendengar itu pun terbelalak, tidak percaya jika putra semata wayangnya mengetahui tentang Calvin. Ia menoleh pada Dimas yang mengangguk memberikan gesture maaf kembali.


"Apa yang kamu bicarakan? Dia-" Dawas berbalik langsung menunjuk Calvin menggunakan tongkatnya. "Dia hanyalah orang asing yang ingin mengusik keluarga kita."


Lagi dan lagi Calvin mendengar penuturan tidak mengenakan dari kakeknya sendiri. Ia mendengus, melangkahkan kaki mendekat.


"Aku memang orang asing bagi kalian, keluarga Zulfan tidak ada hubungannya denganku," ungkap Calvin mengepalkan kedua tangan erat.


Dawas mendengus kasar lalu pergi dari sana. Seketika keadaan menjadi ramai, anggota keluarga mendekat pada Zaidan menuntut penjelasan.


Setelah itu Zaidan pun mengikuti ke mana ayahnya pergi diikuti Dimas, sedangkan Alina, Angga, Sarah dan Calvin keluar saat suasana di sana terasa kacau.


...***...


Di ruang kerja, Zaidan dan Dimas duduk berdampingan, di hadapannya Farraz menatap lekat ke bawah di sofa tunggal. Lantai marmer itu menjadi objek tujuan memikirkan bagaimana harus menjelaskan pada sang anak.


Detikan jam menemani kebersamaan, kaca besar di belakang ayahnya pun menyuguhkan pemandangan luar. Hujan masih turun memberikan embun serta udara dingin menusuk kulit.


"Aku sudah tahu siapa itu Calvin Alfero. Dia merupakan anak dari Fawaz Zulfan ... adik kandung Ayah, kan?" tutur Zaidan memecah keheningan.


Farraz menarik kesadaran memandang lurus pada putranya. Helaan napas terdengar begitu berat, ia menegakan tubuh siap menceritakan semuanya.


"Iya, itu benar. Calvin adalah adik sepupumu. Sebenarnya kakekmu, tetua Zulfan pernah menikah dengan wanita bernama Calia dan dia ibu kandung Ayan dan paman Fawaz."

__ADS_1


"Pernikahan pertama kakekmu tidak disetujui bahkan ditentang oleh tetua pertama keluarga Zulfan. Karena nenek Calia merupakan seorang single parent yang waktu itu sudah mempunyai seorang anak perempuan berusia tujuh tahun."


"Namun, diam-diam kakek menikahi Calia dan mempunyai anak yaitu Ayah. Pernikahan mereka terus diuji dengan cacian serta makian yang diberikan oleh keluarga Zulfan waktu itu."


"Bahkan tidak hanya dari keluarga, banyak kata-kata menyakitkan dari masyarakat sekitar. Di mana kakek yang lahir dari keluarga berada serta terpandang bisa menikahi seorang janda. Mereka terus mengatangatai ayah dan ibu."


"Sampai nama keluarga Zulfan ternoda membuat tetua waktu itu marah besar. Kakek sempat diusir dan tidak diterima lagi sebagai anggota keluarga."


"Di saat Ayah berumur empat belas tahun ... ibu memutuskan untuk berpisah dengan ayah. Karena gunjingan yang tidak pernah ada habisnya, ibu memilih mudur dan menyerahkan ayah pada keluarganya lagi."


"Namun, tanpa ayah sadari waktu itu ibu tengah mengandung paman Fawaz. Ibu tidak mengatakannya, sebab jika hal tersebut diungkapkan ... ibu takut terjadi hal buruk pada mereka. ibu lebih memilih membesarkan paman Fawaz sendirian bersama anak perempuan pertamanya. Sampai tahun berganti tahun, Ayah dan kakek tidak tahu lagi di mana ibu berada."


"Saat kakek membawa Ayah pergi, tetua Zulfan yang mengetahui mereka sudah berpisah pun menikahkannya lagi dengan seorang wanita bernama Regina. Lalu mereka dikaruniai dua anak perempuan yaitu tante Camallia Zulfan dan Daena Zulfan,"


"Tiga puluh tahun berlalu, saat Ayah berusia empat puluh empat tiba-tiba saja ada seorang remaja yang datang ke kediaman ini. Dia mengaku sebagai anak Fawaz yang meminta bantuan kakek untuk menyelamatkan paman Fawaz. Saat itu kakek tidak mempercayai ucapannya dan mengusir Calvin begitu saja."


"Ayah yang melihat dan mendengar adegan tersebut tidak bisa berbuat apa-apa, sebab kakek begitu tegas pada kami."


"Setelah tiga tahun dari itu, Ayah bertemu dengan Calvin lagi. Dia menjadi seorang buruh yang menarik perhatian Ayah. Dari sana Ayah mendekatinya dan mencoba berbicara dengannya. Setelah pendekatan itu terjadi, Calvin membawa Ayah ke daerah terpencil."


"Di sana Ayah dipertemukan dengan paman Fawaz dan juga nenenk Calia. Namun, saat itu Ayah benar-benar terpukul sebab mereka sudah bercampur dengan tanah. Dua nisan itu membuat Ayah benar-benar sakit dan menangis sejadi-jadinya." ungkap Farraz panjang lebar.


Zaidan terdiam kaku, tidak percaya jika keluarganya bisa serumit itu. Ia juga baru mengetahui jika ayah dan kedua adiknya ternyata tidak satu ibu.


Ia berpikir jika nenek Regina adalah ibu kandung mereka. Namun, tanpa ia duga terdapat kisah yang begitu pelik di dalamnya.


Selama ini baik ayah maupun kakeknya tidak pernah membicarakan masa lalu. Mereka terus hidup menyokong masa depan tidak peduli jika ada sanak keluarga yang membutuhkan uluran tangan.


Air mata pun tidak bisa dibendung, Zaidan menangis dalam diam membuat Farraz memandanginya. Saat pertama kali bertemu dengan Calvin dan mendengar cerita darinya pun ia menangis tanpa henti.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2