
Sinar dari sang surya menelisik membangunkan sepasang netra indah yang tersembunyi di balik kelopaknya. Perlahan ia terbuka menyesuaikan retina dengan cahaya di sekitar.
Sang empunya berusaha mengembalikan kesadaran seraya menyapukan pandangan. Langit-langit ruangan asing pun membuat ia sadar jika dirinya berada di luar.
Kepala bersurai hitam itu menoleh ke sisi kiri dan mendapati wanita cantik tengah melebarkan senyum. Seketika ia beranjak dari tidur dengan mata membola sempurna.
"Za-Zanna? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Ke-kenapa kamu tidak memakai pakaian?" tanyanya gugup dan kelimpungan.
Zanna menjulurkan tangan membelai lembut jari jemarinya. "Pagi, Sayang. Apa kamu tidak ingat apa yang sudah kita lakukan semalam? Mas Zaidan, kamu sudah menjadi milikku."
Seketika jantungnya berdegup kencang, Zaidan tidak percaya mendengar penuturan palsu dari Zanna. Ia lalu melihat ke bawah menyaksikan jika bagian atas tidak mengenakan pakaian. Namun, ia bernapas lega dirinya masih mengenakan celana pendek, tetap hal tersebut tidak menjadi ukuran apa yang sudah terjadi.
"Ka-kamu pasti bohong. Aku tidak ingat kita melakukannya," ujar Zaidan takut-takut.
Zanna tertawa hingga suaranya bergema di ruangan. "Mas tidak sadar, karena mabuk, tetapi semalam ... kita benar-benar melakukannya."
Zanna pun memperlihatkan sebuah video yang menunjukkan sebuah tayangan tidak senonoh. Zaidan semakin tidak karuan saat di dalam layar memperlihatkan jika memang dirinya dan juga wanita itu telah melakukan hal tersebut.
"Bagaimana? Apa sekarang Mas percaya?" ujar Zanna menyunggingkan senyum lebar.
"Kamu benar-benar gila, Zanna. Aku tidak percaya dengan semua trik murahanmu ini!" Dengan emosi Zaidan menyibakan selimut dan bergegas memakai pakaiannya yang tersebar di lantai.
Setelah itu ia pun pergi seraya membanting pintu kasar. Di tempat tidur Zanna masih memandangi layar ponsel sembari tersenyum penuh makna.
"Dengan ini kamu tidak akan bisa mengelak lagi. Kamu harus menjadi milikku, mas," katanya yakin.
Zaidan terus menjambak rambutnya kuat kala bayangan video tadi masih mengendap dalam ingatan. Ia berjalan lunglai menuju keluar hotel tidak mempedulikan tatapan resepsionis.
Setibanya di luar ia menatap sekitar dan tidak mendapati seorang pun di sana. Ia mengusap wajah gusar saat hal pertama yang diingatnya tadi malam adalah kejadian tidak diharapkan di aula.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?" lirihnya menahan perih.
Tidak lama berselang ponsel di saku celana bergetar kencang. Ia pun mengambil dan melihat nama sang adik sepupu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," katanya lemah.
Penjelasan orang di seberang seketika membelalakkan kedua mata. Zaidan mematung tidak percaya mendapatkan informasi jika sang istri sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia benar-benar sudah terjebak dalam permainan Zanna.
"Wanita itu benar-benar," geramnya dan bergegas pergi dari sana.
...***...
Pertemuan untuk kesekian kalinya terjadi di tempat rahasia mereka. Satu jam yang lalu Angga dan Sarah mendapatkan kabar jika Alina sedang tidak baik-baik saja.
Mereka dihubungi oleh Calvin untuk segera menemui kakak iparnya. Ia yakin pasangan suami istri tersebut bisa membantu permasalahan Alina.
Setelah mendapatkan kabar kurang mengenakan tersebut, Sarah dan Angga pun langsung bertandang ke kediaman Alina.
Kedatangan mereka ternyata sudah ditunggu oleh ibu dua anak itu. Alina bermaksud untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak percaya jika Zaidan berselingkuh atau berkhianat di belakangmu, Al," kata Angga seraya terus mengutak-atik laptop di hadapannya.
Angga menghentikan ucapannya dengan menepuk pelan lengan sang istri. Sarah yang mengerti pun berdehem pelan dan memandangi Alina yang sedari tadi hanya memberikan tatapan kosong.
"Aku yakin tidak ada perselingkuhan atau pengkhianatan di rumah tangga kalian," ungkap Angga lagi.
Alina masih bungkam enggan mengatakan apa pun. Hanya air mata yang meleleh tak tertahankan menandakan betapa remuk redam perasaannya saat ini.
Ia pun langsung menghapusnya kasar lalu memberikan senyum palsu. Alina tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang lain, tetapi rasanya benar-benar sakit.
"Bisakah ... bisakah aku percaya? Aku melihat dengan mataku sendiri jika tadi Zanna sedang bersama mas Zaidan. Dia tidur di sampingnya tanpa mengenakan sehelai benang pun. Apa kalian bisa membayangkan bagaimana hancurnya aku menyaksikan itu? Aku-"
Alina tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia kembali menangis menyembunyikan wajah berair di kedua telapak tangan.
Ia tidak sanggup jika harus berada kembali di posisi seperti masa lalu. Untuk kesekian kalinya Alina di hadapkan dengan keadaan mengerikan dengan hadirnya orang ketiga.
"Kenapa? Kenapa rumah tanggaku harus dilalui dengan adanya orang ketiga? Apa aku tidak berhak bahagia bersama pria yang kucintai? Dari mas Azam sampai mas Zaidan ... kenapa terus menerus seperti ini?" racaunya mengungkapkan kepedihan.
__ADS_1
Sarah yang tidak sanggup melihatnya terpuruk pun bangkit dari duduk dan beralih ke samping Alina. Ia merangkul dan membawanya ke dalam pelukan. Ia memberikan tepukan pelan di punggung sempitnya mencoba menyalurkan kekuatan.
"Tidak seperti itu, Teh. Itu artinya Allah sangat menyayangi, Teteh. Ia menguji lagi dan lagi sebab, Allah yakin Teteh bisa melaluinya. Teteh, wanita hebat, baik, serta tangguh menghadapi segala permasalahan yang terjadi."
"Aku yakin di balik kejadian ini ada sesuatu yang ingin Allah berikan. Percayalah, tidak ada sesuatu di baliknya jika sudah Allah yang memberikan. Sabar yah Teh, ayo kita berjuang lagi untuk mencari tahu ada apa di balik masalah ini. Ada aku dan Mas Angga yang akan setia membantu Teteh."
"Karena kita adalah keluarga. Aku maupun Mas Angga tidak akan membiarkan Teteh larut dalam kesedihan," tutur Sarah panjang lebar.
Alina tersadar dan seketika menghentikan tangisan. Ia melepaskan pelukan Sarah dan memandangi pasangan suami istri tersebut bergantian.
Ia mengusap air matanya lagi kasar dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sorot mata sayu nan lemah tadi berganti dengan keseriusan dan keyakinan.
Sarah dan Angga yang melihat itu pun mengembangkan senyum. Mereka percaya Alina sudah sadar dari keterpurukan.
"Inilah adikku yang sebenarnya. Kamu wanita tangguh, jangan pernah menyerah atau kalah dari wanita yang menginginkan kebahagiaanmu dengan cara kotor," kata Angga bangga.
"Teteh, hebat. Aku yakin Teteh bisa melaluinya lagi," lanjut Sarah menepuk pundaknya beberapa kali.
Alina mengangguk menimpali perkataan mereka. "Kalian benar, tidak seharusnya aku menangis dan terpuruk seperti ini. Jika aku terus larut dalam kesedihan itu artinya ... aku kalah. Tidak-" Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak ingin itu terjadi. Tidak ada kata kalah dalam kamus hidupku."
"Yeah, itu baru adikku!" teriak Angga sekali lagi bangga atas perubahan yang terjadi pada diri Alina.
Mendengar itu Alina menyeringai dengan tatapan tajam. "Iya, kita harus segera bergerak."
Ia langsung membuka laptop dan menjalankan aksinya. Sejak kejadian Zanna waktu itu, secara diam-diam Alina berguru pada Sarah bagaimana caranya meretas sistem keamanan.
Meskipun rumit dan juga tidak mudah, Alina tetap belajar dan belajar. Tanpa sepengetahuan Zaidan, dalam kondisi mengandung pun ia terus bertemu dengan Sarah. Setelah mendapatkan ilmunya ia mencoba mengaplikasikan pada keamanan di rumah.
Alina tersenyum senang, perjuangannya selama ini bisa berbuah manis. Ia bisa meretas sistem keamanan dan menggunakan trik-trik lainnya dengan cepat.
Di tengah semangat yang memburu, ia melihat Sarah sibuk menghubungi beberapa orang kepercayaannya. Angga pun tidak jauh berbeda mencoba mencari tahu lewat jaringan yang dimilikinya. Alina tersenyum senang bisa mengandalkan kedua orang itu lagi.
...Bersambung......
__ADS_1