
Hujan tiba-tiba saja datang, gelapnya langit siang ini menemani perseteruan dua keluarga. Ketegangan tercipta membuat semua orang kelimpungan.
Di tengah-tengah ruangan bangunan megah itu, Alina berdiri mempertahankan keyakinan. Sorot mata tegas nan dalam terpancar memberikan keteguhan diri atas apa yang terjadi.
Sebagai seorang istri ia harus berperan aktif untuk melindungi rumah tangga serta keluarganya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangannya.
"Seperti yang sudah Anda bilang tadi, bukti sudah didapatkan. Namun, apa benar di dalam bukti itu adalah Mas Zaidan. Lalu, apa benar beliau yang melecehkan putri Anda?" tutur Alina memandangi Daffa.
Pria setengah baya itu mengertkan dahi tajam. "Apa maksudmu? Sudah jelas-jelas di video itu Zaidan melakukan tindakan tidak senonoh pada putri saya."
"Apa hanya salah satu pihak yang menikmati itu? Apa Anda tidak mencari tahu kebenaran di balik video tersebut? Jika Anda masih mempertahankan keyakinan itu jangan salahkan saya jika di sini ... saya akan membeberkan kebenarannya. Apa Anda dan Nona Zanna tidak keberatan?" Alina menatap Dawas dan Zanna bergantian.
Dawas menatap nyalang wanita muda di hadapannya, tidak mengerti apa yang hendak disampaikan Alina. Namun, entah kenapa tiba-tiba saja sebuah firasat tidak mengenakan begitu menggelitik.
Pria baya itu berdehem kuat, sekilas menoleh ke belakang di mana Zanna pun melihatnya. Gelagat tersebut semakin menarik perhatian Alina, bibir ranumnya melengkung membentuk kurva dengan sempurna.
"Seminggu yang lalu, saya bertemu dengan tetua Zulfan. Beliau menawarkan pada saja sejumlah uang untuk berpisah dengan Mas Zaidan, tetapi ... saya tidak menerimanya. Karena saya tidak mau menukar mereka, dan saat itu ... saya tidak sengaja mendengr pembicaraan salah satu anak buah Tuan Zulfan. Mereka mengatakan jika Nona Zanna bersedia bertemu."
Mendengar penuturan tersebut, Zaidan sangat terkejut. Manik jelaganya membola melihat pada istri dan kakeknya bergantian.
Ia juga tidak percaya jika seminggu ini Alina menyembunyikan fakta itu. Ia hanya bisa diam dan mendengarkan lebih jauh apa yang hendak istrinya sampaikan.
"Waktu itu..."
Ingatan Alina pun berputar pada satu minggu lalu di mana setelah bertemu dengan Dawas dirinya bermaksud untuk pulang.
Sebelum kakinya benar-benar melangkah meninggalkan bangunan restoran, ia mendengar seorang pria berjas hitam yang tengah berjalan melewatinya berbicara.
__ADS_1
"Nona Zanna bersedia bertemu dengan Anda, tuan." Itulah yang didengarnya.
Alina menoleh ke belakang menyaksikan pria itu masuk ke dalam restoran. Ia mengigit-gigit ibu jarinya memikirkan kemungkinan terjadi.
Insting sebagai seorang wanita mengatakan jika dirinya harus bersembunyi dan menunggu beberapa saat. Ia pun melimpir ke belakang restoran dan berdiam diri sekitar lima belas menit di sana.
Setelah itu ia melihat tetua Zulfan keluar lalu masuk ke kendaraan mewahnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Alina bergegas mencari taksi untuk mengikutinya.
Mereka pun tiba di salah satu hotel mewah bintang lima. Alina kembali mengikuti orang-orang itu sampai tidak sengaja bertemu dengan Sarah.
Di sana Alina menjelaskan jika dirinya ingin mencari tahu tentang Dawas. Namun, Sarah yang mengetahui jika wanita itu tengah berbadan dua menyuruhnya untuk kembali pulang dan menyerahkan tugas tersebut padanya.
Alina pun tidak menolak dan mempercayakan hal tersebut pada Sarah. Ia kembali ke rumah dan mendapati suaminya sudah pulang.
Bersamaan dengan itu ia mendapatkan kabar dari Sarah jika tetua Zulfan membatalkan pertemuannya. Setelah itu Alina tidak menyangka jika Dawas mendatangi kediaman mereka dan mengusir Zaidan bersamanya dari rumah.
Rekaman suara sampai pada Alina, ia tidak menyangka jika Dawas bekerja sama dengan Zanna untuk memisahkannya dari Zaidan.
Itu sebabnya Alina sama sekali tidak terkejut bahkan kasihan pada Zanna pada saat wanita itu memberitahukan rekaman video maupun foto. Namun, ia juga tidak menyangka dan menduga kala tahu pria yang bersama sang pianis waktu itu bukanlah Zaidan.
...***...
Alina mengacungkan benda pintar miliknya ke hadapan mereka. Semua orang yang ada di sana melihat apa yang hendak di lakukannya. Seketika itu juga ia menekan tombol play hingga suara di dalamnya terdengar.
"Ini bisa menjadi salah satu cara untuk memecah belah pernikahan mereka. Kakek tahu, sebelum menikah Zaidan orangnya seperti apa?"
"Ah, sepertinya Kakek mengerti apa yang hendak kamu rencanakan. Kakek setuju memang dengan cara seperti itu rumah tangga manapun akan hancur berantakan. Kita tunggu saja kehancuran mereka dan sampai saat itu tiba, kamu bisa mengambil alih Zaidan."
__ADS_1
Hening menyambut, suara rekaman yang Alina perdengarkan mengundang kejutan lain. Tidak ada satu pun melemparkan kata-kata, mereka hanya berbicara lewat sorot mata.
"Da-dari mana kamu mendapatkan itu? Kamu bohong, saya tidak pernah bertemu Zanna diam-diam." Dawas membela diri.
Alina sama sekali tidak mengindahkannya dan kembali berkata. "Setelah pertemuan Anda dengan Zanna tempo hari ... Zanna bertemu dengan saya dan ... ia memperlihatkan video tidak senonohnya bersama seorang pria. Namun, tahukah kalian jika pria itu bukanlah Zaidan? Dia-"
"Dia adalah aku ... aku yang berada dalam video itu dan sudah menghabiskan malam bersama Zanna," lanjut seorang pria muda yang tiba-tiba saja masuk mengundang kejutan lain.
Farraz membelalakan mata dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak percaya mereka melibatkan Calvin dalam permasalahan tersebut.
Ia pun memandangi Dimas yang tengah memasang badan di samping Zaidan. Pria berkacamata itu mengangguk seolah mengatakan maaf atas kejadian yang tidak ia beritahukan.
Farraz hanya bisa mengusap wajah gusar lalu menatap sang ayah. Dawas menegang di tempat, ingatannya berputar pada beberapa tahun lalu di mana anak itu mendatanginya dan mengatakan hal tidak masuk akal.
"Malam itu saya sudah menghabiskan waktu bersama Nona Zanna. Tidak hanya malam itu saja, tetapi ... malam kemarin juga. Nona Zanna yang sudah memaksa saya untuk bermain bersamanya, bahkan ... setelah memperingatinya jika saya bukan Zaidan, Nona Zanna tetap memaksa untuk berhubungan."
"Jika kalian tidak percaya saya punya bukti kejadian semalam."
Setelah mengatakan itu, Calvin bersama Angga memperlihatkan sebuah tayangan di mana Zanna tengah bermain begitu ganas di klub malam.
Sontak hal tersebut membuat orang-orang yang ada di kediaman Zulfan menutup mulut menganganya. Mereka tidak menduga Zanna merupakan wanita dengan pergaulan bebas.
Percakapan antara Zanna dan Calvin pun semakin mempermalukan orang tuanya. Mereka tidak sanggup melihat lagi dan mengakhiri tayangan yang hampir puncak tersebut.
Keluarga Zyva seketika menatap pada Zanna yang sudah ditampar oleh ibunya kasar. Suara nyaring itu bergema memberikan rasa malu nan sakit dalam dada.
Ia menangis kembali sambil menatap semua orang. Hatinya begitu sakit saat kenyataan menyadarkannya pada kebenaran. Rencanannya kali ini benar-benar gagal.
__ADS_1
...Bersambung......