Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 242 (Season 3)


__ADS_3

Tidak ada perjuangan tanpa air mata, tidak ada keberhasilan tanpa perih membayang, tidak ada senyum tanpa kekecewaan, dan tanpa kebahagiaan tanpa rasa sakit.


Itulah yang sudah Alina alami, sepanjang hidupnya dalam berumah tangga. Kekecewaan serta pengkhianatan telah dilewati penuh derai air mata.


Ia tidak menyangka jika cinta bertepuk sebelah tangan diganti dengan cinta sejati. Sangat mudah bagi Allah untuk membalikan kondisi seorang hamba.


Alina meyakini apa pun yang diterimanya, baik sakit ataupun senang itu sudah menjadi jalan terbaik baginya dari Allah.


Selepas menghabiskan tiga hari berlibur di sebuah puncak bersama rekan-rekan terdekatnya, Alina dan Zaidan pun kembali pada aktivitas seperti biasa.


Setiap hari, selepas melaksanakan kewajiban Alina akan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia senang bisa mengemban tugas sebagai ibu dan istri.


Peran ganda yang dilakoninya saat ini membuat ia benar-benar bersyukur. Alina merasa begitu dicintai dan disayangi oleh suami serta kedua anaknya.


Di tengah kesibukan memasak, ia kembali dikejutkan atas tindakan sang suami yang selalu tiba-tiba.


Kedua lengan kekar berotot dengan urat-urat menonjol itu pun melingkar di perut ratanya.


"Kebiasaan, apa Mas tidak bisa membiarkanku sehari saja?" tanya Alina sembari sibuk membersihkan daging dan sayur.


Zaidan terkekeh pelan seraya semakin memeluknya erat. "Aku tidak bisa membiarkannya, Sayang. Bahkan aku berharap bisa memelukmu setiap detik."


Alina pun cepat memukul pelan lengan yang bertengger di dirinya. Zaidan semakin tertawa senang, membubuhkan ciuman mendalam di puncak kepalanya.


Sentuhan itu seketika memabukkan Alina. Perasaan terdalam sang suami tersampaikan membuat ia tidak bisa berkata-kata.


Lima detik kemudian, Zaidan menolehkan kepala sang istri hingga manik mereka saling beradu pandang. Bak magnet yang saling tari menarik, wajah mereka mendekat satu sama lain.


Penyatuan pun terjadi, pagutan hangat kedua benda kenyal tersebut begitu melenakan. Baik Zaidan maupun Alina terhanyut pada kesenangan semata.


Tidak lama berselang, Zaidan melepaskannya dan mengusap bibir bawah Alina menggunakan ibu jari pelan.


"Semua yang ada dalam dirimu adalah candu bagiku," kata Zaidan tepat di depan wajah ayu Alina.


Manik jelaga itu melebar menyaksikan binar dalam sorot mata hangat pasangan halalnya.

__ADS_1


"MasyaAllah, syukurlah. Jadi, Mas tidak akan melihat pada wanita lain," balas Alina mencoba menggodanya.


"Itu tidak mungkin. Karena kamu satu-satunya yang ada di duniaku. Kamulah wanita yang sudah berhasil mendobrak pintu hati ini," ungkap Zaidan meletakkan telapak tangan Alina di dada sebelah kiri.


Denyut jantung yang bertalu kencang membekukan diri. Alina tidak menyangka jika diusia pernikahan mereka yang memasuki empat tahun, Zaidan masih berdebar karenanya.


"Detakan nya cepat sekali." Alina mendongak menyaksikan sepasang hazelnut tengah memandangnya lekat.


Zaidan menariknya pelan membuat wajah mereka kembali berdekatan satu sama lain. Bulan sabit bertengger indah di bibir menawan sang pujaan.


Alina terhanyut, terbuai, akan pesona yang diberikan. Kata-kata yang ingin diucapkan tercekat di tenggorakan kala manisnya kebahagiaan mengalir begitu deras.


Bola mata cokelat susunya memancarkan cahaya menyilaukan yang tidak pernah Alina lihat dari suami sebelumnya.


Cinta dan kasih sayang bermuara indah dan berlabuh pada satu hati. Ia menyadari jika tanpa ada air mata tidak mungkin mendapatkan senyum kebahagiaan.


"Di saat jantung ini masih berdetak hanya ada namamu di dalamnya dan kita akan sama-sama mengagungkan Allah dengan menjalankan rumah tangga hanya berlandaskan pada-Nya. Allah sebaik-baiknya tempat kita menuju. Karena dengan adanya kasih sayang dari Allah, kita bisa bertemu dan menjalankan pernikahan ini."


Kata-kata yang tercetus di balik mulut menawan sang suami mengalir bagaikan air sungai menuju lautan lepas.


Damai nan sejuk, ungkapan itu menarik kedua sudut bibir Alina. Ia tersenyum haru mendapatkan pengakuan yang tidak bisa dirinya dapatkan dari siapa pun.


Zaidan senang dan membalas pelukan itu tak kalah erat. Baginya tidak ada yang lebih penting selain kebaikan sang istri berserta kedua anaknya.


"Terima kasih, sudah lahir ke dunia ini dan bertahan dari segala ujian yang Allah berikan. Aku beruntung benar-benar beruntung bisa mempersunting mu," lanjut Zaidan.


Alina kembali membuka mata memandang lurus ke bawah. Lantai marmer menjadi objek perhatian utama dengan perasaan berbunga-bunga.


Bagaikan ada kupu-kupu beterbangan di perutnya, Alina merasakan suka cita yang terus menerus datang menerjang.


"Terima kasih juga sudah mencintaiku." Alina mendongak mendaratkan dagu lancipnya di dada sang suami. "Aku sangat mencintaimu. Aku berharap ... kita bisa bersama hingga jannah-Nya. Tidak ada yang lebih penting bagiku selain bisa bersamamu ... karena Allah."


Giliran Zaidan tidak bisa menahan perasaan kala kata-kata hangat nan tulus tercetus dari wanita yang begitu dicintainya.


Kelereng bening itu pun berkaca-kaca, terharu dengan ungkapan sang istri yang sangat mendamaikan.

__ADS_1


Ia membubuhkan kecupan hangat di dahi lebar Alina dan tanpa terasa air mata menetes tak tertahankan.


Alina terperangah, menangkup pipi hangat Zaidan lalu mengusap cairan beningnya pelan.


"Air mata sebagai tanda jika aku sangat ... sangat mencintaimu," ucap Zaidan lagi.


Ia membawa kedua lengan sang istri dan memberikan ciuman mendalam di punggung tangannya. Alina hanya bisa mengulas senyum lembut menyaksikan keseriusan terpancar dalam aura sang suami.


"Apa kalian melupakan kami?"


Suara kecil itu menginterupsi, Zaidan yang masih menggenggam tangan istrinya menoleh ke samping. Alina pun mengikuti arah pandang itu dan mendapati putra pertama mereka tengah menggendong Zenia menatapnya lekat.


"MasyaAllah, anak-anaknya Ayah." Zaidan jongkok di samping Alina sembari merentangkan kedua tangan.


Raihan mengembangkan senyum, bergegas lari menerjang tubuh tegap sang ayah sambung. Alina mengambil alih Zenia dan mereka pun saling berhadapan.


"Apa yang sedang Ayah dan Mamah lakukan tadi?" tanya Raihan polos.


"Em, tidak ada," balas Zaidan membuat anak berusia sepuluh tahun itu menatap lekat.


"Aku tidak percaya. Aku mendengar tadi Ayah mengatakan cinta pada Mamah," ungkapnya cepat.


Alina melebarkan pandangan lalu mengusap puncak kepala buah hatinya sayang.


"Apa Raihan senang mendengarnya?" tanya Alina kemudian.


Atensi Raihan pun kini beralih pada sang ibu sepenuhnya.


"Tentu saja, aku bersyukur Mamah sangat dicintai oleh Ayah Zaidan," jelasnya memberikan keharuan pada sang ibu.


"Ayah tidak hanya mencintai Mamah saja, tetapi ... Ayah juga sangat menyayangimu, Sayang," tutur Zaidan memberikan kecupan di pipi sebelah kanannya.


Raihan tergelak seketika membuat ketiga orang di sana mengikutinya. Keluarga kecil itu pun merasakan keharmonisan tiada akhir.


Rumah tangga yang di jalankan atas dasar cinta kepada Sang Illahi Rabbi, melahirkan ketenangan. Harmonis menjadi satu kata untuk menggambarkan kehidupan mereka saat ini.

__ADS_1


Tidak ada lagi orang ketiga maupun keempat di dalamnya, Alina serta Zaidan bersyukur atas anugerah yang sudah Allah berikan. Kehadiran Raihan dan Zenia melengkapi perjalanan pernikahan keduanya.


...Bersambung......


__ADS_2