
Alina masih tidak percaya mendengar cerita masa lalu Zara. Ia pikir wanita arogan yang sampai detik ini masih mencintai suaminya adalah orang tidak berperasaan. Namun, ia salah sebaik apa pun seseorang mengulas senyum atau bersikap tidak baik terdapat misteri di baliknya.
"Itu sebabnya sekarang aku mengganggu rumah tangga kalian. Aku memang masih mencintai mas Azam dan berharap bisa bersamanya untuk melupakan rasa sakit masa lalu, tetapi ... aku sadar mas Azam mencintai orang lain, sama seperti mantan suamiku. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, Alina." Zara mengaku, Alina hanya mengulas senyum simpul dan membiarkannya terus bercerita.
"Dua hari lalu aku bertemu Naura, dia kembali mempertanyakan di mana ayahnya. Aku tidak menjawab dan hanya mengatakan jika mas Arfan pergi keluarg negeri. Aku ... aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya dan juga mas Arfan ... dia sama sekali tidak menginginkan keberadaan Naura. Dulu, aku sempat berpikir untuk menggugurkannya. Karena aku pikir ayahnya saja tidak menginginkan anak itu, bagaimana bisa aku membesarkan dia seorang diri? Berkali-kali aku mencoba untuk menggugurkannya, tetapi dia terus bertahan di dalam rahimku. Aku-" Zara tidak kuasa membendung air mata dan tumpah begitu deras.
Alina yang menyaksikan hal tersebut pun tidak bisa menahan liquid beningnya. Sebagai seorang ibu ia mengerti apa yang dirasakan Zara. Ia kembali terkejut untuk kesekian kalinya mendengar pengakuan terperih yang pernah dilalui sang sekertaris.
Begitu banyak kisah terjadi dalam setiap individu. Semua orang punya jalan ceritanya sendiri dan menjadi peran utama di dalamnya. Baik dan buruk, hitam dan putih, senang maupun susah telah mendapatkan bagian di masa tertentu.
Tercetak dalam sejarah kehidupan bagaimana masa lalu hadir sebagai kenangan. Entah itu diambil pembelajarannya untuk menjadi lebih baik, atau sebaliknya, tergantung bagaimana menyikapinya. Namun, Allah sudah menyiapkan yang terbaik.
Karena Allah telah menjelaskan di dalam surah Al Baqarah ayat 155 yang artinya "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Alina mengusap punggung tangannya pelan menyalurkan kekuatan. Zara yang tengah sibuk mengusap cairan bening tersentak pelan dan memandanginya sekilas.
"Aku malu bertemu denganmu seperti ini. Karena berkat kehadiranmu Naura sedikit berubah dan bisa tersenyum dengan tulus. Biasanya, anak itu selalu menyembunyikan kesedihan. Terima kasih sudah menemui dan menemaninya. Naura berharap aku bisa berteman baik denganmu. Anak itu ... anak itu satu-satunya harta paling berharga dalam hidupku. Aku beruntung Allah masih mempercayakannya padaku," sesal Zara.
Alina mengulas senyum manis dan memberikan tepukan beberapa kali di tangannya.
"Sudah jangan menangis, Allah masih menyayangimu. Naura ... dia memang anak yang sangat baik. Aku mengerti bagaimana perasaanmu, sebagai seorang ibu dan istri ... aku sangat mengerti. Tidak mudah menjalani rumah tangga jika pasangan kita tidak mencintai. Begitu sulit dan hampir menyerah pada keadaan, mencoba menunggu untuk dia membalas perasaan kita ... tetapi, itu tidak mungkin. Karena di hatinya sudah terpatri untuk orang lain. Aku turut prihatin atas apa yang terjadi padamu. Aku sama sekali tidak kasihan ataupun menertawakan apa yang sudah menimpamu, justru sebaliknya. Aku bangga padamu, Zara."
Perkataan Alina membuat Zara menatapnya lagi. Kedua sudut ranum itu melengkung sempurna membentuk kebanggan terpancar di wajah cantiknya. Ia termangu mengerti jika selama ini wanita di hadapannya sudah terlalu banyak mendapatkan ujian di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Dari awal menikah, mas Azam sama sekali tidak pernah mencintaiku. Tujuh tahun ... tujuh tahun aku merasa dibodohi. Aku pikir setelah kepergian mbak Yasmin dia mau mencoba menerimaku sebagai gantinya. Namun, itu hanya angan-anganku saja ... mas Azam tidak akan bisa membalas perasaanku. Jadi, aku mengerti apa yang kamu rasakan," ungkap Alina kemudian. Ia lalu terkekeh pelan dan melepaskan kontak mata dengan Zara.
Pemandangan dari arah luar menjadi pusat perhatian. Objek yang terus berlalu lalang mengembalikan ingatannya pada episode-episode telah lalu.
"Masa lalu itu kembali, aku tidak punyak hak untuk terus mempertahankannya. Aku pikir ... aku masih bisa bertahan demi anak-anak, tetapi aku sadar mereka lebih membutuhkan lingkungan yang sehat. Cintaku sudah di ujung jalan sekarang. Aku wanita yang bodoh, terus mencoba dan bertahan. Aku-"
"Tidak Alina! Kamu bukan wanita bodoh, justru kamu wanita luar biasa. Tidak semua wanita bisa bertahan berada di posisimu. Terlebih kamu sudah memilih menjadi wanita tegar dan memperjuangkan kebaikan untuk anak-anakmu." Potong Zara cepat.
Alina melebarkan mata sekilas dan menyesap minumannya lagi. "Terima kasih."
"Aku benar-benar minta maaf sudah menyakitimu selama ini," ucap Zara menyesal.
"Tidak apa-apa, berkat bantuan kamu juga aku tahu bagaimana kelakuan mas Azam di belakangku. Terima kasih," balas Alina. Zara mengangguk pelan dan meminum minumannya.
Mereka pun menghabiskan siang hari bertukar banyak cerita di kafe. Alina berpikir jika Zara tidak seburuk itu dalam pertemanan. Ia bisa menjadi pendengar yang baik, terlebih perjalanan rumah tangga keduanya hampir sama. Alina merasa mendapatkan seorang teman yang mengerti keadaannya.
Malam menjemput senja untuk berganti tugas. Keheningan menyapa menemani setiap insan untuk terlelap. Namun, tidak bagi Alina yang kembali menemui kedua rekannya.
Sepulang dari kafe, ia mendapatkan panggilan mendesak dari Angga. Setelah kedua anaknya terlelap ia bergegas datang ke tempat pertemuan tanpa menunggu kepulangan Azam. Ia sudah tahu jika sang suami tengah berada di tempat Yasmin.
"Jadi, apa yang ingin Mas Angga katakan?" ucap Alina setibanya di gudang tua tersebut.
Angga mengeluarkan dua dokumen berwarna biru dongker ke hadapannya. Alina mengerutkan dahi tidak mengerti kala Sarah pun menyodorkan laptop padanya.
__ADS_1
"Apa ini? Apa yang kalian dapatkan lagi sekarang?" tanyanya tidak mengerti.
"Kamu bisa membacanya lebih dahulu dan analisa sendiri," balas Angga.
Alina menghela napas dan mulai membuka dua dokumen di depannya. "Baiklah aku tidak bisa terus mengandalkan kalian dan akan mencari tahunya sendiri. Kalian, kan tahu jika aku-" ucapannya terputus di tengah jalan saat manik jelaganya membaca dan menyimbangkan tulisan yang tertuang di dua kertas tersebut.
"Ini?" Alina mendongak bersitatap langsung dengan sang dokter.
Pria berkacamata itu mengangguk pelan mengiyakan apa yang ada dalam pikiran Alina. "Ja-jadi-"
"Selanjutnya Teteh bisa lihat rekaman ini," titah Sarah lalu menekan tombol enter di keyboard laptop.
Seketika video di depannya menayangkan sebuah rekaman yang membuat perhatian Alina terfokuskan. Ia mengerutkan dahi dalam saat melihat tayangan tersebut.
"Ini rekaman CCTV di rumah sakit?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Itu benar," jawab Angga.
Detik demi detik berlalu, Alina terus memperhatian setiap pergerakan orang yang berada dalam rekaman. Di awal video memperlihatkan satu orang yang tengah berjalan di lorong dan pada saat ke tengah terdapat dua orang mendorong salah satu ranjang rumah sakit keluar.
Di atas berankar terdapat pasien yang tidak sadarkan diri. Alina membekap mulut menganganya tidak percaya. Punggung kecilnya terkulai lemas dan bersandar di kepala kursi, perlahan iris cokelat bening itu menatap Angga dan Sarah bergantian.
Seakan mengerti apa yang tengah Alina pikirkan, mereka mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Dua orang ini?" lirih Alina.
"Iya, mereka adalah dokter dan perawat di rumah sakit tempatku bekerja," jelas Angga membuatnya tidak percaya.