Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 50


__ADS_3

Setelah sekian lama mereka saling menyalurkan perasaan, Alina pun melepaskan pautannya. Dahi lebar itu pun bersandar di kening sang suami. Kedua tangan menangkup wajahnya mengalirkan kehangatan dan kekuatan.


Pandangan mereka saling bertemu, senyum pun mengambang di bibir tebal keduanya. Tanpa ada kata terucap Alina maupun Azam mengerti apa yang dirasakan. Kelegaan pun menjalar membentuk rona merah di pipi masing-masing.


Bak pengantin baru Alina dan Azam malu-malu setelah apa yang terjadi. "Kamu tidak pernah berubah, masih manis seperti dulu."


Alina semakin melebarkan lengkungan bulan sabitnya kala mendengar penuturan Azam. "Begitu pun denganmu," balasnya.


"Aku harap bisa selamanya bersamamu. Aku sangat mencintaimu, Alina."


Seperkian kian detik Alina pun menjauhkan diri mengejutkan sang suami. Ia memandang lurus ke depan di mana beberapa tangkai bunga tengah menari tertiup angin. Azam dibuat cemas melihat istrinya yang tiba-tiba saja diam. Ketakutan merundung cepat dan segera menggenggam tangannya erat.


"Alina aku ..."


"Mas sudah tahu bagaimana perasaanku, kan? Dari dulu sampai sekarang perasaanku tidak berubah ..." jeda sejenak Alina menoleh kembali membuat Azam kebingungan. "Aku sangat mencintaimu, Mas Azam satu-satunya pria yang kucintai. Dari kecil sampai dewasa Mas Azam yang selalu aku kagumi. Mas seperti sosok sahabat, saudara, ayah yang luar biasa. Mana mungkin aku bisa melupakan perasaan ini begitu saja?"


Azam termangu mendengar kata demi kata terlontar jelas dari mulut sang istri. Ia terpaku dan terpesona dengan keindahan yang sudah Allah hadirkan tepat di depan kedua matanya. Ia terharu sungguh tidak menyangka bisa menyaksikan sendiri pengakuan tersebut.


"Aku pria paling beruntung di dunia ini dan juga pria terbodoh. Bagaimana bisa aku menyianyiakan wanita sebaik dan setulus dirimu, Alina. Aku sangat menyesal dan aku minta maaf atas semua yang sudah diperbuat. Aku ..."


Alina menggeleng menghentikan ucapannya. "Mas tidak usah berkata seperti itu. Masa lalu bairkanlah berjalan di belakang. Kita masih punya masa depan di sana," katanya lalu memandang lurus ke depan.

__ADS_1


Azam pun mengikuti arah pandangannya dan menyaksikan langit berubah gelap. Satu persatu bintang bermunculan dan cahaya bulan menyinari alam. "Mas melihat bulan di atas sana?" tanya Alina seraya mendongak.


Azam lagi-lagi mengikutinya, "iya, aku melihatnya."


"Cahaya bulan akan terlihat di kegelapan malam, meskipun tidak ada yang melihatnya ia tetap memberikan keindahannya. Terkadang bulan juga menampakan diri di siang hari, tetapi sang raja siang mengalihkan cahayanya. Kita hanya butuh berada di tempat yang tepat untuk melihat seberapa hebat diri kita. Karena bulan dan matahari mempunyai jam kerjanya masing-masing, tetapi bulan akan hadir di siang hari untuk bertemu matahari. Meskipun matahari tidak bisa hadir di malam hari, bulan akan tetap setia menunggu waktu siangnya."


Azam terharu dan mengerti ke mana arah pembicaraan tersebut. Alina tengah menggambarkan tentang mereka, di mana sosok Azam seperti matahari yang selalu menmpilkan keceriaan untuk semua orang, sedangkan Alina hanya bisa terdiam dan menyembunyikan diri. Namun, diamnya tersebut menyimpan sejuta perasaan untuk satu pria yang dikaguminya.


Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi cinta harus dilepaskan sebelum adanya ikatan. Serahkan semua perasaan itu pada yang di Atas, sebab Allah tahu mana yang terbaik. Sampai pada akhirnya skenario Allah berbicara, dipersatuakan atau malah sebaliknya itu sudah menjadi jalan cerita yang direncanakan.


...***...


Dapur yang selama lima bulan ditinggalkan kini berada dalam penanganannya lagi. Ia berdiri di sana dan memandangi seluruh penjuru ruangan yang terlihat jelas. Senyum pun mengembang teringat hari-hari telah berlalu, banyak kenangan tercipta di sana. Asam, manis, pahit cinta sudah dirasakan, kini di rumah itu hanya ia satu-satunya istri dari Rusdyan Azam Zabran.


Seketika lengkungan dikedua celah bibirnya pudar kala bayangan Yasmin hinggap dalam ingatan. Ia menunduk menyembunyikan kegelisahan dan kesedihan datang bersamaan. Bagaimanapun juga pernikahannya tidak akan terjadi tanpa keinginan istri pertama.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang?" ucapan lembut seketiga menggelitik pendengaran.


Sepasangan lengan kekar pun melingkar erat di perut ratanya. Alina melihatnya lekat dan merengkuhnya erat. Kebersamaan itu sudah lama ia idamkan, kini waktu kembali mempersatukan dalam keadaan runyam.


"Senang mendengarmu memanggilku itu lagi, terima kasih," kata Alina.

__ADS_1


Azam langsung membalikannya membuat mereka saling berhadapan. Pandangan keduanya saling bertemu menyelam ke dalam iris bening masing-masing. Alina masih setia mengembangkan senyum manis menyapu wajah tampan sang suami.


Tanpa aba-aba Azam seketika membungkam bibir ranum sang istri cepat. Alina kaget setengah mati dengan melebarkan pandangan sempurna. Penyatuan yang dilakukan suaminya begitu mendadak dan gerakannya semakin kuat.


Alina kewalahan dan mengalungkan kedua tangan di leher jenjang Azam. Tubuh mereka saling mendekap satu sama lain merasakan kehangatan yang sudah lama menghilang. Kerinduan pun tersalurkan lewat bahasa tubuh, gerakan impulsif tersebut semakin menambah kenyamanan.


Setelah sekian menit Azam pun menjauhkan diri dengan lengan kekarnya masih melingkar di pinggang Alina posesif. Pandangan hangat masih terpaku pada pasangan halalnya dengan deru napas saling memburu hebat. Rona merah hadir di wajah mereka menggambarkan kebahagiaan.


"Aku senang kamu ada ke rumah ini lagi, terima kasih sudah bersedia kembali bersamaku. Sayang, aku sangat mencintaimu," ungkap Azam lalu mengusap puncak kepala sang istri.


Alina terpaku, perlakuan hangat suaminya begitu menusuk sanubari. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia pria yang ia cintai berbalas mencintainya. "Aku ada di sini bukan menggantikan posisi mbak Yasmin, tapi aku di sini sebagai istrimu satu-satunya," ucap Alina lembut.


Azam mengangguk singkat dan membubuhkan kecupan hangat di dahi lebarnya. Perlahan kelopak mata Alina menutup merasakan kehangatan yang kembali menjalar. Ia bahagia sungguh bahagia bisa menjalani rumah tangga sebagaimana mestinya.


Ombak terjal sudah dilalui, badai telah berlalu dan kepedihan hanya tinggal kenangan. Kini hanya ada kisah mereka berdua yang akan mewarnai masa-masa kelam kemarin. Namun, tidak menutup kemungkinan kenangan Yasmin di tengah-tengah mereka pasti akan membayangi.


Alina mengerti, tidak mudah melupakan cinta pertama begitu saja. Ia pun pernah berada di posisi itu saat hendak melepaskannya. Namun, tanpa ia sadari takdir menggiringnya untuk bersama Azam. Pernikahan dan menjadi istri kedua tidak pernah terbayangkan, tetapi itulah yang harus ia jalani.


Peran ganda yang di jalaninya mengantarkan kepada kebahagiaan. Sekarang peran itu benar-benar melekat pada dirinya, menjadi istri dan ibu sesungguhnya untuk Azam serta kedua anak mereka. Ia pun memeluk suaminya erat dan menghirup aroma mint yang menguar dalam tubuh tegap Azam.


"Aku sangat mencintaimu ... sangat sangat mencintaimu," ungkap Alina. Azam tersenyum dan membalas pelukannya tak kalah erat.

__ADS_1


__ADS_2