Peran GANDA

Peran GANDA
BAB 236 (Season 3)


__ADS_3

Awan mendung tidak sedikit pun menyurutkan binar kebahagiaan di keluarga besar Zulfan. Tepat hari ini di mansion utama tengah digelar perayaan hari jadi pernikahan ke tiga puluh tiga tahun putra sulung tetua.


Sang pemeran utama, Moana serta Farraz bak raja dan ratu sehari. Keduanya merasakan kembali suka cita layaknya pengantin baru.


Keluarga besar begitu senang menyambut pesta anniversary pasangan harmonis tersebut. Banyak sanak saudara, anak, cucu yang datang turut memeriahkan.


Tetua Zulfan pun terus menebar senyum senang bisa berkumpul bersama keluarga besarnya. Dawas, sebagai orang yang paling tua di sana menjadi figure paling disegani.


"Assalamu'alaikum, Mamah. Selamat hari jadi Mamah dan Ayah yang ke tiga puluh tiga tahun." Alina datang bersama Zaidan dan juga kedua anak mereka menyalami kedua mertuanya.


"Wa'alaikumsalam, sayang-sayangnya Mamah. MasyaAllah, terima kasih banyak Sayang," balas Moana sembari mengecup pipi kanan dan kiri sang menantu lalu beralih pada Raihan serta Zenia.


Ayana mengangguk dan kembali memandangi ibu mertuanya. "MasyaAllah, Mamah cantik sekali dengan hijab syar'inya. Iya kan, Mas?" Ia pun menoleh pada Zaidan yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Itu benar, Mamah cantik sekali setelah berhijab," puji sang anak membuat Moana tidak kuasa membendung kebahagiaan dengan menarik sudut bibir lebar.


"MasyaAllah, Alhamdulillah, kalian bisa saja. Ini juga berkat Alina." Moana mengusap lengan Alina lembut.


"Tidak, Mah. Justru berkat keyakinan serta kemantapan hati Mamah untuk berubah dan ... Allah yang memudahkan segalanya."


Moana mengangguk setuju, senang bisa mendapatkan menantu baik hati seperti Alina. Ia tidak salah menyetujui pernikahan mereka.


"Kalau begini ceritanya, Ayah bisa terus-terusan jatuh cinta pada Mamah  Iya kan Ayah?" Zaidan mencela sembari menatap Farraz yang memperhatikan mereka.


Pria paruh baya itu berdehem kasar dan memandang ke segala arah. Baik Zaidan, Alina, maupun Moana menahan senyum menyaksikan tingkah laku Farraz.


"Ayah memang tidak pernah romantis sama sekali, kenapa Mamah bisa menikah dengan pria seperti itu? Untung aku tidak seperti Ayah, yang-"


"Hei! Apa yang kamu katakan anak muda?" Farraz menggeplak belakang kepala sang buah hati pelan.


Zaidan tertawa kencang dan terus menghindar kala pukulan itu tidak datang hanya sekali. Ia pun melarikan diri dari sana, Farraz tidak membiarkannya dan mengejar sang anak.


Adegan kejar-kejaran itu pun menjadi pemandangan langka di sana. Biasanya keluarga Zulfan menjunjung tinggi tatakrama dan kesopanan.


Namun, entah kenapa hari ini Dawas pun ikut mengembangkan senyum menyaksikan anak serta cucunya saling kejar-kejaran.


"Mereka itu seperti anak kecil saja," ucap Moana membuat Alina kembali menoleh padanya.

__ADS_1


"Aku senang melihatnya, Mah. Hubungan mas Zaidan dan ayah menjadi sangat baik," balas Alina dijawab anggukan sang ibu mertua.


Dalam hati kecilnya, Alina merasakan perasaan asing yang tiba-tiba saja datang menerjang. Ia mencoba menepis, tetapi tetap bersemayam di sana.


"Apa yang aku pikirkan?" benaknya.


...***...


Acara pun berlangsung meriah, banyak teman-teman dari Moana maupun Farraz yang datang memenuhi undangan pesta mereka.


Kemeriahan semakin menjadi-jadi di sana, Alina yang tengah duduk memangku Zenia pun mengulas senyum manis.


Ada makna tersembunyi yang sedari tadi dicoba untuk ditepis. Di tengah lautan kebahagiaan keluarga Zulfan, diam-diam Alina memendam perasaan yang tidak bisa digambarkan.


"Jika aku memiliki keluarga seperti ini ... apa aku? Eh tunggu-tunggu ... apa yang kamu pikirkan Alina?" benaknya meracau.


"Jujur, aku memang penasaran siapa orang tua kandungku sebenarnya. Kenapa mereka menyimpan ku di panti asuhan? Apa mereka tidak bisa membesarkan ku? Atau yang lebih parah ... apa mereka tidak menginginkan kelahiranku? Jika memang seperti itu kenapa aku dilahirkan? Aku-"


"Sayang!" tepukan ringan serta panggilan sedikit kencang membuat Alina tersentak dan menghentikan racauan dalam benak.


"Kenapa kamu ada di sini? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya khawatir.


Alina menggeleng singkat lalu memberikan senyum menutupi perasaan terdalam.


"Tidak ada, aku tadi habis menyusui Zenia jadi menepi di sini. Mamah juga kelihatan senang sekali, lihat itu Ayah juga tersenyum malu-malu," ucap Alina menatap ke depan di mana kedua mertuanya tengah berbaur bersama teman serta keluarga.


Zaidan terus memperhatikan sang istri begitu dalam. Ia tahu saat ini Alina tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Setelah hidup bersama hampir empat tahun, Zaidan mengerti jika Alina terkadang memendam sebuah rahasia agar keluarga kecil mereka baik-baik saja.


"Apa yang kali ini kamu sembunyikan, Sayang?" benaknya cemas.


Di saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Alina dan Zaidan pun menginap di mansion. Kedua anak mereka sudah terlelap di kamar sebelah bersama kakek dan neneknya.


Alina masih terjaga dan sedang menikmati pemandangan malam di balik jendela besar terbuka. Ia terkejut saat sang suami memeluknya dari belakang.


Ia terlena akan sentuhan-sentuhan ringan yang diberikan Zaidan. Kelopak mata itu menutup secara perlahan menyelami aroma harum menguar dari tubuh pasangan halalnya.

__ADS_1


"Sayang." Panggil Zaidan meletakkan dagu di puncak kepala sang istri.


"Hm?" jawab Alina singkat.


"Apa kamu merindukan orang tua kandungmu?"


Pertanyaan itu seketika membekukan diri. Alina diam bak patung, tidak mengatakan sepatah kata atau memberikan pergerakan berarti.


Zaidan menyadari perubahan itu lalu membalikan Alina untuk berhadapan dengannya. Ia menangkup hangat pipi putih sang pujaan sembari merunduk menatap langsung ke dalam manik jelaganya.


"Apa aku benar?" tanyanya lagi.


Tanpa sadar air mata meluncur begitu saja. Alina menangis dalam diam seraya menunduk. Zaidan langsung membawanya ke pelukan sembari memberikan elusan lembut di punggungnya.


"Aku minta maaf jika sudah menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan," ucap Zaidan menyesal.


Di balik dada kekarnya, Alina menggeleng beberapa kali.


"Tidak, Mas tidak usah minta maaf, memang seperti itulah kenyataannya. Aku ... merindukan mereka yang tidak pernah aku ketahui. Maaf ... aku menyembunyikannya darimu," balasnya dengan suara gemetar.


Zaidan melepaskan rengkuhannya lalu mengusap cairan bening di wajah cantik Alina. Ia membubuhkan kecupan ringan di sana berkali-kali.


"Aku mengerti, tetapi kamu jangan sedih lagi, Sayang. Karena ada aku di sini ... aku ini suamimu yang bisa kamu andalkan untuk berbagi kesedihan, tidak hanya kesenangan saja. Jangan menangis lagi, yah," ungkap Zaidan.


Alina tidak kuasa membendung air mata. Ia terus menangis dan menangis dan kembali memeluk suaminya erat.


Kedua tangannya mencengkram jas abu Zaidan kuat menyalurkan pengap dalam dada.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." Alina terus mengucapkan kata maaf, Zaidan pun kembali mengecup lembut puncak kepalanya.


Ia mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini. Ia tahu jika dari kecil hingga dewasa Alina hidup di panti asuhan tanpa tahu siapa orang tuanya.


Selama ini mereka tidak pernah membahas ataupun menyinggung mengenai ayah dan ibu Alina. Namun, entah kenapa sekarang perasaan emosional tersebut mendatanginya.


Alina tiba-tiba saja merasa merindukan mereka. Ia juga ingin tahu bagaimana rupa mereka yang selama hidupnya tidak pernah diketahui.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2