
"Ada tugas penting untuk kamu." Wajah Rindra sudah menghiasi layar
ponsel dan suara khasnya Sudan mampu Restu dengar.
"Tugas apa, Om?" Restu bertanya dan mampu membuat Rindra berdecak.
"Sejak kapan kamu menjadi anak yang banyak bertanya?" Restu pun terdiam. Dia menunduk seraya mengucapkan kata maaf. Biasanya, apa yang dikatakan oleh Rindra akan segera dia laksanakan.
"Datanglah ke rumah. Sekarang juga." Sebuah perintah yang tak bisa dibantah.
"Aku lagi ada tugas, Om. Posisiku sekarang sama rumah Om lumayan jauh." Restu menjelaskan semuanya. Dia menyebutkan di mana dia berada dan sedang bertugas mengawal siapa.
"Jadi, kamu gak bisa?" Rindra bertanya dengan penuh ketegasan.
"Bisa," jawab Restu. "Beri aku waktu dua jam."
"Oke. Kalau sampai lewat dari dua jam, kamu tahu 'kan konsekuensinya." Restu pun mengangguk.
Rindra menyunggingkan senyum penuh arti ketika sambungan video terputus. Pemuda yang sudah dia anggap sebagai putra pertamanya kini sudah sangat berubah. Dia begitu gagah dan kharismanya luar biasa terpancar. Mengirim Restu ke negara ini sangatlah tepat.
"Menyesallah kalian yang sudah membuang permata hitam itu." Seringai sudah Rindra tunjukkan.
.
Dua jam adalah waktu yang singkat dan Restu harus menggunakannya sebaik mungkin. Satu jam Restu gunakan untuk menunggu seseorang yang dia kawal karena sudah sedari pagi dia berada di tempat itu. Juga satu jam dia gunakan untuk mengendara menuju tempat Rindra berada. Pria di samping Restu terus berteriak ketika Restu mengemudi dengan kecepatan kencang. Dia tengah memburu waktu. Dia juga penasaran tugas apa yang ayah sahabatnya itu berikan.
Tiba di sebuah restoran yang sudah Rindra share lokasi. Dia berjalan dengan tergesa karena waktunya sudah hampir habis. Ketika tiba di dekat meja Rindra, tubuhnya menegang ketika mendengar suara Aleesa yang begitu lembut.
"Memangnya siapa yang akan menjadi pengawal Sasa? Sepertinya Uncle Papih sangat mengenalnya."
"Selamat siang, Om, Tante."
Suara itu membuat Aleesa segera menoleh dan dia terkejut akan kehadiran seseorang yang sudah seminggu ini berada di pikirannya. Pria itu sekarang nampak gagah dengan setelan tak biasa. Restu pun seakan tengah melepas rindu dengan pandangan yang terus tertuju pada Aleesa.
"Restu!" Panggilan dari Radit membuat pandangannya teralihkan. Ayah dari Aleesa nampak bahagia ketika bertemu dengan Restu. Begitu juga dengan Echa.
"Makin ganteng dan gagah aja kamu," puji Echa ketika Restu mencium tangannya. Restu hanya tersenyum. Kini, dia berada di sisi Aleesa.
"Apa kabar, Sa?" Restu bersikap biasa. Namun, Aleesa masih membeku. Dia masih terkejut sekaligus terpana melihat Restu sekarang.
__ADS_1
"Kamu gak kangen sama Mamih?" Restu tertawa dan menghampiri Nesha.
"Jangan ditanya bagaimana rindu aku pada Tante." Nesha tersenyum dan mengusap lembut wajah Restu.
"Selalu jaga diri kamu, ya. Jangan buat Mamih cemas."
"Iya, Tante."
Nesha sudah menyuruh Restu untuk memanggilnya Mamih. Namun, Restu tidak mau. Dia merasa tidak enak. Dia bukan anak kandung Nesha, tapi dia sudah menganggap Nesha juga Rindra sebagai ayahnya.
"Restu yang akan ngawal Aleesa?"
Restu terkejut mendengar perkataan dari Radit dan kini dia sudah menatap ke arah Rindra. Kakak dari Radit itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
Kini, Aleesa dan Restu yang saling pandang. Hanya kecanggungan yang ada karena sudah lama tak berjumpa.
"Kamu jaga Aleesa dan temani Aleesa di rumah. Kalau mau keluar juga boleh, tapi kamu tetap berada di samping Aleesa terus." Tugas yang musti Restu jalankan.
"Udah telat, yuk kita berangkat." Rindra sudah berujar dan semua orang pun mengangguk setuju.
"Bubu berangkat dulu, ya. Harus terus bersama Restu." Aleesa hanya terdiam ketika empat orang dewasa ini selalu menyuruhnya dekat dengan Restu.
"Habiskan makannya!" Restu pun beranjak, tapi Aleesa menarik ujung jas Restu hingga dia pun menoleh.
"Mau ke mana?" Aleesa sudah menatap ke arah Restu yang juga tengah menatapnya.
"Toilet."
"Jangan lama-lama." Aleesa menunjukkan wajah tidak nyaman. Apalagi sekarang di restoran itu sudah sepi dan hanya ada beberapa meja yang diisi oleh para pria yang menatap genit kepadanya.
"Ya udah, gak jadi." Aleesa tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Restu. Pria itupun duduk kembali. Aleesa menatap bingung ke arah Restu.
"Cepat habiskan makannya," titah Restu.
"Kakak juga makan."
"Udah makan siang tadi.".
"Ya udah, mending kita pulang." Kini, Restu yang menatap ke arah Aleesa. Sikap anak ini masih saja sama.
__ADS_1
"Ya udah." Restu mengusap lembut ujung kepala Aleesa dan membuat Aleesa menoleh ke arah Restu yang tersenyum kepadanya.
Setan apa yang merasuki Aleesa hingga dia berani mencium pipi Restu dan membuat tubuh Restu menegang seketika.
"Miss you."
"Miss you more." Restu menarik tangan Aleesa ke dalam pelukannya. Aleesa pun melingkarkan tangannya di pinggang Restu. Tidak ada obrolan apapun. Mereka hanya tengah melepas rindu.
Puas melepas rindu, mereka memutuskan untuk pergi dari restoran. Mereka berjalan berdampingan hingga Restu mulai manautkan tangannya kepada tangan Aleesa. Sontak Aleesa menoleh ke arah bawah. Kemudian, dia menoleh ke arah samping di mana Restu sudah berjalan dengan begitu gagah.
"Mau langsung pulang, atau--"
"Pulang aja." Restu pun mengangguk.
Tibanya di rumah Aleesa terkejut ketika Restu mengantongi kunci rumah itu. Dia pun membuka pintu rumah dan mempersilahkan Aleesa masuk.
"Mau minum apa?" Aleesa hendak pergi ke dapur, tapi Restu mencekal tangannya. Dia membawa Aleesa ke lantai atas di mana kamarnya berada.
"Kak--" Aleesa sudah ketakutan ketika Restu sudah mengunci kamar dan mengantongi kunci tersebut.
"Aku hanya ingin memeluk kamu sepanjang hari ini." Kini, Restu memeluk tubuh Aleesa dari belakang dan membuat Aleesa merasa tenang. Dekapan hangatnya sangat melindungi membuat Aleesa terbuai dan menyandarkan belakang kepalanya ke dada bidang Restu.
Pelukan itu harus berkahir ketika ponsel Restu berdering. Restu mulai mengendurkan tangan yang berada di pinggang Aleesa. Dia berbicara begitu serius dengan bahasa yang tidak Aleesa mengerti. Aleesa mendongak ke arah Restu dan disambut senyuman manis walaupun ponsel masih di telinga.
Aleesa memilih menjauh, tapi lagi-lagi Restu mampu menarik tangannya hingga dia terjatuh ke dalam pelukan Restu. Wajahnya kini menempel di dada Restu.
"Kenapa rasa nyaman ini sama seperti ketika aku tertidur dan bermimpi dipeluk olehnya? Apa memang Kak Restu yang memeluk tubuhku selama seminggu itu?"
Sore menjelang, Aleesa mengerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya. Satu nama yang dia sebut, Restu. Perempuan itu segera turun ke lantai bawah dan sudah ada ibu juga sang tante di sana.
"Kak Restu."
"Dia sudah pulang. Kamu tidur terlalu nyenyak hingga Restu tidak tega membangunkan kamu."
Mendengar ucapan itu, tubuh Aleesa terasa lemas. Mimik wajahnya sudah sangat berubah. Langkahnya membawanya kembali ke kamar. Ketika dia duduk di samping tempat tidur, ada secarik kertas di sana.
"Aku pergi sebentar ya, Sa. Aku janji, aku akan segera kembali dan memeluk kamu lagi."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Banyakin atuh komennya biar aku UP lagi.