RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
218. Video Pelipur Rindu


__ADS_3

Kalfa menggelengkan kepala mendengar wanita itu menyebut dirinya sebagai ibunya. Air matanya sudah menetes. Antara senang, sedih, kecewa dan gak percaya.


"Ibuku sudah meninggal dan aku melihat sendiri." Suara Kalfa bergetar.


"Kamu adalah bayi yang ditemukan oleh sepasang suami istri yang berprofesi sebagai pemulung. Mereka berdua memang belum memiliki anak. Jadi, mereka sangat bahagia ketika menemukan kamu."


Kalfa menoleh ke asal suara. Bukan hanya Kalfa, semua orang yang ada di sana mencari asal suara. Mata Ratu Karina melebar ketika melihat siapa yang datang. Raja Karanda, dia adalah kembaran Ratu.


"Ra-raja." Suara Ratu bergetar. "Bukannya kamu--"


"Aku masih hidup, Ratu." Kini, pandangannya tertuju pada Satria.


"Bagaimana? Jantung Anda masih aman?" Raja sudah tersenyum tipis ke arah Satria yang sudah memegang dadanya.


"A-apa maksudnya ini?" Kalfa masih nampak bingung. Terlalu banyak orang baru yang tidak dia ketahui.


Raja menyerahkan sebuah video yang masih dia simpan dengan aman. Video yang membuat Satria murka, dan berakhir mencelakainya.

__ADS_1


Kalfa mengambil flashdisk dan segera mengambil laptop di kamarnya. Dia memasang flasdisk tersebut dan mengikuti arahan dari Raja. Dia menontonnya dengan sangat serius hingga matanya mulai berembun. Ternyata video itu adalah video di mana Ratu mengandung Kalfa, di mana ibu muda itu selalu ke dokter kandungan sendiri dan melahirkan hanya ditemani oleh Raja. Tubuhnya menegang ketika dia mendengar suara seorang pria.


"Buang anak itu!"


Uang dengan jumlah banyak dilempar ke tubuh Ratu yang tengah menggendong Kalfa. Untung Raja sigap menghalanginya.


"Saya tidak mau tahu, enyahkan anak itu dari hadapan saya. Jangan pernah mengganggu ketentraman hidup saya. Apalagi berani mengadu kepada kakak saya, sudah dipastikan kalian berdua akan mati tanpa jejak."


Kalfa hafal dengan suara itu. Namun, di dalam video tak menunjukkan wajah orangnya. Dia pun menggeleng pelan. Dia hanya takut ini fitnah belaka. Seketika tubuh Kalfa menegang ketika pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Ratu yang tengah duduk di kursi plastik. Dia melihat jelas jika itu wajah ayahnya ketika muda.


"Pa-pih."


"Saya tidak bohong. Video itu sengaja saya ambil untuk dokumentasi karena saya sangat yakin jika nanti kakak saya akan merindukan kamu. Setidaknya ini akan menjadi pelipur rindunya."


Kalfa menatap ke arah Raja. Pria yang mirip dengan wanita di kursi roda itu berkata dengan begitu tenang dan dengan kesungguhan.


"Namun, Tuhan sangat baik. Sekarang, kalian dipertemukan melalui tangan orang baik." Raja menatap ke arah Restu yang disambut senyuman.

__ADS_1


Kalfa menatap ke arah Satria yang sedari tadi tak bersuara. Pria itupun tidak mau melihat ke arah Kalfa dan itu membuat Kalfa tersenyum perih. Dia menghela napas berat.


"Pih, katakan padaku yang sejujurnya. Apa benar aku ini anak kandung Papih?" Kalfa sudah menatap sang ayah dengan penuh permohonan. Keadaan pun mendadak hening.


Dia mulai berdiri. Menghampiri ayahnya dengan wajah sendu dan sembab.


"Katakan padaku, Pih. Aku butuh kejujuran." Kalfa berkata dengan begitu lembut. Tanpa emosi.


Satria tidak bisa menegakkan kepalanya. Mendengar pertanyaan Kalfa saja hatinya sangat sakit.


"Aku mohon, Pih."


Semua mata melebar ketika Kalfa bersujud di depan kaki Satria.


"Jujurlah padaku, Pih. Apa memang benar aku ini anak Papih? Aku mohon, Pih."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2