RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 207. Dua Belas Tahun


__ADS_3

Kepala Aleesa mulai berdenyut. Dia benar-benar pusing dengan tingkah laku adiknya. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa.


"Kamu jangan banyak pikiran, ya." Restu mengusap lembut ujung kepala Aleesa. "Aku udah biasa dibenci orang." Aleesa langsung menoleh. Dia menggelengkan kepala.


"Jangan bicara seperti itu." Tangan Aleesa sudah mulai melingkar di pinggang Restu. "Aleeya sudah banyak berubah tidak seperti Aleeya yang dulu aku kenal."


"Manusia itu biasanya mengikuti arus. Jika, dia terus terbawa oleh arus tidak benar secara tidak langsung otaknya pun bisa tercuci." Aleesa tidak menjawab. Dia malah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Kamu istirahat lagi, ya." Aleesa menggeleng.


"Aku ingin main lato-lato." Restu tersenyum dan tanpa ampun menyerang istrinya yang baru kali ini meminta duluan.


.


Pagi ini, Restu sudah mulai ke kantor Zenth Corporation. Dia meninggalkan sang istri di rumah miliknya yang pada waktu itu dihuni oleh Aleesa dan juga kedua orang tuanya serta kedua orang tua angkat Restu. Aleesa tidak berdaya karena lebih dari lima jam mereka bergelut dalam kenikmatan hingga kakinya tak bisa digerakkan.


"Lovely, makanan udah ada di meja samping tempat tidur, ya. Aku akan terus mengawasi kamu melalui cctv."


Sebuah pesan yang dikirim oleh Restu kepada sang istri yang masih terlelap. Tubuhnya bagai ayam tulang lunak. Tidak bisa untuk digerakkan.


"Lu gak takut berita lu akan naik lagi ke media?" Pertanyaan Rio membuat Restu menukikkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Papih bilang, jika Opa Satria sudah menyewa para pengacara handal untuk melawan lu. Menepis kabar yang dia bilang hoax."


Restu hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan rapat.


"Gua gak takut."


Rio membuang napas kasar. Dia sudah tahu bahwa itu yang akan menjadi jawaban dari Restu. Si manusia yang tidak punya rasa takut dan pantang mundur jika sudah ada yang menantangnya.


Rindra sudah mewanti-wanti supaya Restu bersiap untuk menghadapi Satria karena di tua Bangka itu akan bersiap melawan Restu. Bukannya Restu tidak tahu, tapi pelurunya masih sangat aman. Jadi, lebih. baik dia fokus pada Zenth Corporation supaya lebih maju lagi. Dia juga harus membuktikan bahwa namanya bersih dan tidak terpengaruh pada berita yang tersebar di luaran.


.


"Uang dari mana?" Begitulah batin Rindra Addhitama.


Dia tahu betul bagaimana kondisi keuangan Satria. Perusahannya banyak mengalami gulung tikar dan banyak juga yang tak jalan, tapi kenapa dia berani mengambil langkah salah. Menang jadi arang dan kalah jadi abu.


.


Kalfa, dia menghubungi Aleeya dengan berderai air mata. Dia benar-benar hancur. Dia benar-benar tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Hanya Aleeya yang mau menjadi pendengar setianya.


"Aku udah marahin Kak Restu, Fa." Begitulah yang Aleeya katakan. "Gara-gara dia semuanya kayak gini." Aleeya berkata dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya. Aku yakin ini bukan berita benar."


Khairan yang melewati kamar Aleeya yang tidak tertutup menghentikan langkahnya ketika mendengar Aleeya tengah berbincang dengan seseorang yang berada di baik sambungan telepon. Kepala Khai menggeleng ketika mendengar kalimat demi kalimat yang Aleeya ucapkan.


"Tuh anak matanya kudu dicongkel pake obeng." Khai mengomel sendiri.


Dia yang hanya orang lain saja bisa menilai bagaimana Restu dan juga Kalfa. Bukan karena Kalfa mantan kekasih Aleena, tapi dari sikapnya Khai bisa menilai. Restu terbilang manusia yang tegas dan sangat. Di balik sikapnya tersebut ada ketulusan yang luar biasa yang Restu miliki. Berbeda dengan Kalfa.


.


Aleesa yang baru bangun tidur ketika hampir makan siang mulai mendudukkan tubuhnya. Dia meraih ponsel dan senyumnya melengkung dengan sempurna ketika membaca pesan dari sang suami.


"Iya, Bie. Aku baru bangun banget." Itulah pesan balasan untuk Restu.


Bukan hanya Restu yang mengirim pesan kepada Aleesa. Aleeya sang adik mengirimkan link kepadanya. Rasa penasaran yang ada di hati Aleesa meronta. Dia segera membuka link tersebut. Seketika matanya melebar.


"Klien saya tidak akan pernah diam dalam kasus ini. Kami juga akan terus menindaklanjuti karena ini sudah masuk dua pasal. Pertama, pencemaran nama baik dan yang kedua penyebaran berita hoax. Masing-masing pasal harus dibui selama enam tahun. Jadi, total keseluruhan dua belas tahun penjara yang sudah menanti saudara Restu Ranendra."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2