
Keluarga Nathalie sudah berada di kediaman Yansen. Nathalie pun terlihat cantik dalam balutan kebaya modern berwarna navy. Senada dengan baju yang akan dikenakan oleh Yansen nanti.
Sedangkan Yansen sudah berpikir untuk kabur dari sana. Dia tidak ingin menyakiti Aleesa. Namun, dia juga tahu dia tidak akan pernah bisa keluar dari sana karena penjagaan di luar begitu ketat. Banyak orang berbaju hitam berdiri di bawah sana.
Jalan satu-satunya, yakni meminta bantuan kepada teman-temannya yang tak terlihat. Untung saja mereka mau membantu. Mereka seakan menutup mata para penjaga juga pihak keamanan yang berjaga di sana hingga pada akhirnya Yansen bisa keluar.
Hembusan napas lega keluar dari mulut Yansen. Hanya menggunakan celana pendek juga sandal jepit dia berlari menyusuri jalan. Nama Aleesa, Aleesa dan Aleesa yang ada di kepalanya sekarang.
"Aku gak ingin sakiti Sasa. Aku ingin memberikannya kebahagiaan."
Ketika pikirannya melanglang buana, tubuhnya terserempet motor besar yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga dia pun tersungkur.
"Tuhan, sebelum aku pergi tolong pertemukan aku dengan Aleesa." Matanya tiba-tiba kabur dan seketika matanya tertutup rapat.
Di kediaman Yansen, Grace sedikit panik ketika melihat Yansen tidak ada di kamar. Dia juga tidak bisa menghubungi Yansen karena ponsel adiknya berada di tangan Grace.
"Ke mana kamu, Sen?" Jangan buat Kakak malu."
Grace tidak tinggal diam. Dia menyuruh penjaga yang bertugas di sana untuk mencari Yansen. Tak berselang lama Grace mendapat kabar jikalau Yansen berada di rumah sakit. Sontak keluarga Nathalie pun terkejut. Mereka segera ke sana dengan air mata Nathalie yang terus tertahan. Apalagi, dia mendengar jikalau Yansen sempat tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tibanya di rumah sakit, Grace segera menuju ruang IGD. Dia melihat adiknya yang sudah siuman dan malah menatapnya dengan sangat tajam.
"Pintar, ya, dan sekarang kamu ketulah sendiri." Grace berbicara dengan penuh penekanan.
Nathalie pun ikut masuk dan dia segera memeluk tubuh Yansen dengan air mata yang sudah tidak tertahan.
"Aku takut kamu pergi, Kak. Aku menyayangi kamu."
Suara yang begitu tulus yang mampu Yansen dengar. Nathalie memang anak baik. Hanya saja Yansen tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Nathalie membuat Yansen terus menghindari wanita yang satu agama dengannya.
"Pertunangan ini akan tetap terjadi walaupum di rumah sakit." Grace berkata dengan sangat tegas dan tak terbantahkan.
.
Ilmu maling pun dia keluarkan dan tubuhnya menegang ketika melihat Aleesa yang masih sesenggukan dengan kepala menunduk di atas lutut.
"Sebegitu cintanya kamu sama dia?" batinnya.
Ingin dia pergi, tapi dia tidak tega. Nalurinya membawanya menuju Aleesa. Langkahnya teramat pelan hingga Aleesa rak menyadari kedatangan Restu. Usapan lembut di kepala membuat Aleesa menoleh. Restu sudah ada di sana.
__ADS_1
Wajah Aleesa sudah basah karena air mata yang tak pernah surut. Pecahnya figura tadi membawa firasat buruk, dan sekarang hatinya terasa nyeri walaupun dia belum tahu apa yang akan terjadi.
"Aku gak suka kamu menangis."
Restu sudah mendudukkan tubuhnya di depan Aleesa. Menatap dalam wajah yang ada di depannya. Tangannya mulai mengusap lembut wajah Aleesa yang basah dan dia pun masih memandang wajah Restu yang terlihat lebih sendu dari biasanya.
"Lupakan dia sekarang karena aku tidak suka kamu mengingat laki-laki lain ketika aku berada di samping kamu."
Perlahan dan pasti, Restu mulai mendekatkan wajahnya kembali. Restu mulai mengecup bibir Aleesa untuk ketiga kalinya di malam ini. Bibir itu seperti menjadi candu untuknya. Menyesapnya dengan begitu lembut membuat Aleesa memejamkan mata dan merasakan kehangatan yang Restu berikan. Air matanya surut seketika.
Kecupan itu tidak berakhir, hanya sesekali mereka menarik napas. Kemudian, melanjutkan kembali. Tanpa Aleesa sadari tangannya sudah merangkul leher Restu dan membalas sesapan yang Restu berikan.
Restu tersenyum ketika melihat Aleesa perlahan membuka mata. Dia mengusap lembut bibir Aleesa yang basah karena ulahnya.
"Jangan pikirkan orang lain ketika aku berada di samping kamu. Cukup aku, cukup aku yang kamu pikirkan. Aku akan bertanggung jawab atas luka yang kamu derita. Aku mencintai kamu, Aleesa."
...***To Be Continue***...
Komen tembus 50 Up lagi.
__ADS_1