
Rio menatap tajam ke arah Agha. Dia penasaran dengan remaja itu. Dari mana dia belajar meretas data orang lain?
"Circle Mas itu adalah pria berkompeten. Mas gaulnya sama anak buah Daddy, terutama Pak Joe. Sedikit banyak Mas diajarin yang kaya gituan. Malah, Pak Joe mengenalkan orang yang sangat ahli kepada Mas. Jadinya, Mas sedikit demi sedikit bisa meretas semuanya." Rio pun mengangguk. "Ada teman Mas yang sangat ahli meretas, tapi dia lagi di Jepang. Namanya Reksa." Agha menunjukkan foto temannya kepada Rio.
"Bad boy begitu," ejek Rio. Agha berdecih.
"Gantengan dia dibandingkan Kak Iyo mah," balas ejek Agha.
"Siyalan!"
.
Di lain tempat, pria yang tengah disekap malah asyik memakan buah-buahan. Sebuah tempat sekapan yang sangat memanjakan sekapannya. Dia pun tengah asyik berbincang dengan anak-anaknya melalui sambungan video.
"Ayah, kok Ayah gak bonyok sih?" Pertanyaan aneh yang keluar dari mulut si kuamplet nomor tiga, yakni Apang.
Plak!
Tampolan dari arah belakang membuat Apang mengaduh.
"Sembarangan nih anak kalau ngomong." Ahlam sudah menimpali.
"Atuh, Bang. Kapan lagi jadiin Ayah ladang duit buat kita. Kna lumayan satu luka seribu US dollar." Lagi dan lagi Apang ngeyel dan untuk kedua kalinya mendapat geplakan dari Ahlam.
__ADS_1
"Mas," rengek Apang kepada sang kakak pertama. Dalla tersenyum dan memeluk tubuh sang adik.
"Gak boleh gitu, Iam." Dalla membela Apang.
Aska hanya tertawa. Anak-anaknya memiliki karakter sendiri dan unik-unik. Dia tidak marah dengan perkataan dari sang putra. Malah itu menjadi hal yang menyenangkan untuknya. Di mana dia dianggap teman oleh keempat anak-anaknya.
.
Kembali ke Rumah Sakit di Zurich.
Aleesa dapat mendengar semuanya. Namun, matanya sulit untuk dibuka. Dia juga merasakan ada sesuatu yang menempel di pelipis samping dahinya. Benda yang begitu dingin. Genggaman erat seseorang yang ada di sampingnya membuat hatinya sedikit tenang. Namun, tetap saja ada rasa takut yang tak bisa dia utarakan. Dia ingin membuka mata, sulit sekali rasanya.
"Tuhan, jaga Aleesa ku."
Itulah yang dikatakan oleh Restu di dalam hati. Dia berpura-pura terpejam, tapi dia tengah menyusun strategi untuk menjatuhkan lawan. Dia tahu bahwa dua orang yang datang itu pasti membawa banyak pengawal.
Seringai Aksa sudah muncul. Jangan ditanya bagaimana wajah dokter Kaira yang terkejut begitu juga dengan madam Zenith yang nampak syok.
"A-ayah?" Aksa tertawa mendengar reaksi Zenith Andrea.
"Perkataan saya tidak salah 'kan jika sumbu otak Anda pendek." Zenith Andrea tidak bisa berkutik. Tubuhnya terasa lemah tak berdaya melihat kenyataan yang ada.
Kini, dia menatap ke arah dokter Kaira yang mati kutu. Aksa dan dokter Rocki menyunggingkan senyum ejekan.
"Anda boleh membodohi wanita itu, tapi tidak dengan saya dan keluarga saya." Tegas sekali ucapan dari Aksa tersebut.
Emosi dan marah yang memuncak di dada dokter Kaira membuatnya menjentikan jari. Pelatuk yang mengarah pada Aleesa sudah ditarik setengah, tapi gerakan cepat Restu mampu membuat pengawal yang membawa senjata itu tersungkur mundur. Darah sudah mengalir di punggung tangan Restu karena dia mencabut paksa jarum infusan di punggung tangannya.
__ADS_1
Pengawal yang satunya pun sudah lebih awal tersungkur. Gerakan Restu bagai kilat, sangat cepat. Pistol mereka berdua pun sudah di tangan Restu sekarang.
"JANGAN PERNAH MENYENTUH ALEESA!!"
Dokter Kaira dan madam Zenith pun melebarkan mata. Dia terkejut karena Restu sadar. Mereka berdua saling tatap.
"Kenapa? Anda terkejut?" Dokter Rocki kini sudah membuka suara. Dia tersenyum kecil. "Saya akan melindungi Restu hingga titik darah penghabisan karena saya tahu bagaimana perjuangan dia hingga dia berada pada titik sekarang. Jadi, jalan Anda untuk mendapatkan Restu sangat salah MADAM ZENITH."
Empat pengawal yang menodongkan senjata api ke arah empat pria tadi, Aksa, Gemke, dokter Rocki dan juga Iyan kini berbalik arah menodongkan senjata mereka ke arah madam Zenith dan juga dokter Kaira.
"Kalian salah!" pekik madam Zenith. Gemke malah tertawa.
"Mohon maaf, Madam. Mereka ada di kubu Mr. R." Gemke angkat bicara dengan tawa penuh kemenangan.
Aksa, Gemke, dan dokter Rocki melipat kedua tangan mereka di depan dada dan tersenyum menyeramkan. Restu ikut bergabung dan membuat Aksa tersenyum. Aksa segera menyerahkan rekaman video kepada Restu. Bukannya terkejut dia malah tertawa.
"Bunuh saja langsung." Mata dokter Kaira melebar begitu juga dengan dokter Kaira.
"JANGAN!" teriak dokter Kaira dengan begitu lantang. Dahi Restu mengkerut ketika melihat reaksi dokter Kaira.
"Kenapa kamu melarang Om ku untuk membunuhnya?" Ragu, itulah yang tengah dokter Kaira rasakan. Apakah dia harus menjawabnya?
Aksa dan dokter Rocki saling pandang. Menunggu jawaban dari seorang dokter Kaira. Madam Zenith pun ikut terdiam karena Restu belum tahu apapun.
"Pria itu ayahnya!"
Restu menoleh ke asal suara. Iyan sudah berjalan dengan seringai yang jelas itu bukan Iyan.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh ...