
Pemuda tampan yang sudah menyampirkan tas ransel di bahunya tiba di Bandara Adisutjipto. Dia kembali ke tempat di mana dia bertugas. Bibirnya mampu tersenyum, tapi sorot matanya tidak bisa berdusta.
"Maaf, Rangga. Hatiku sudah tertutup rapat untuk siapapun. Aku belum ingin membuka hati lagi."
Lagi-lagi pemuda yang bernama Rangga Ardana itu tersenyum pahit. Ini kali kedua dia ditolak oleh perempuan yang sama. Perempuan yang masih memenuhi hatinya. Rasa lelah tak dia hiraukan. Tak sampai dua puluh empat jam dia berada di Singapura, dan sekarang sudah berada di negara asalnya. Mengejar cinta yang ternyata tak ada balasannya.
"Apa diiriku ini belum pantas mendapatkannya?" gumam Rangga seraya duduk di tepian tempat tidur..Hembusan napas kasar dia keluarkan. Rangga beranjak dari duduknya. Dia mulai berdiri di depan cermin. Melihat dirinya dari bawah hingga atas.
"Dulu, aku ditolak karena memang aku belum menjadi apa-apa, tapi ketika aku sudah menjadi seseorang seperti ini masih juga ditolak. Miris." Ada senyum penuh luka yang Rangga tunjukkan.
Dia melihat ke arah samping cermin di mana ada meja kecil di sana. Di atasnya ada sebuah pesawat kertas yang sudah menguning. Dia mengambilnya dan lagi-lagi dia tersenyum. Perlahan dia buka pesawat kertas itu dan ada dua poin penting yang dia tuliskan di sana.
My dream.
1. Pilot
Aku ingin menunjukkan pada ayah dan ibuku jika aku bisa terbang membawa banyak orang dengan selamat. Hanya terbang ke angkasa dan tidak bisa menuju surga menemui kalian yang sudah bahagia di sana.
2. Mengudara Bersama Aleena
__ADS_1
Setelah mimpiku yang pertama tercapai, aku ingin membawa Aleena mengudara bersamaku melihat indahnya angkasa luas.
Rangga hanya bisa tersenyum. Dia melipat kembali kertas itu hingga membentuk pesawat seperti semula.
"My dream," ulangnya dengan nada lemah.
Rangga meletakkan pesawat kertas itu kembali ke tempatnya. Dia masih meyakini jika mimpinya yang kedua bisa dia gapai walaupun tidak sekarang.
Ketika dia sedang kecewa, ada sebuah rindu yang bersarang dada. Rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Rindu yang sulit untuk diobati. Rindu kepada orang yang sudah tiada untuk selama-lamanya.
"Pah ... Mah ... jika aku diijinkan memutar waktu oleh Tuhan, aku ingin tetap bersama kalian. Ikut pergi bersama kalian pun aku mau." Isi hati yang selalu dia pendam sendirian dan baru kini bisa dia ungkapkan. Rangga masih tersenyum, tapi air mata menetes begitu saja.
Rangga akui, kesuksesannya dalam menggapai mimpi karena ada campur tangan Aksara, ayah angkat dari Rangga. Walaupun Aksa tidak mengadopsi Rangga secara resmi, tapi Rangga selalu Aksa anggap seperti putra pertamanya. Hanya Rangga yang bisa meredamkan emosi seorang Ghassan Aksara Wiguna. Jika, diibaratkan Rangga adalah air dan Aksa adalah api.
Pemuda itu masih menatap ke arah langit di mana banyak bintang di sana. Ada satu bintang yang sangat terang, dan bibir pemuda itu lagi tersenyum.
"Bintang itu kamu, Na. Cantik, bersinar, tapi sulit aku gapai."
Memendam kesedihan dan membalutnya dengan sebuah senyuman itu sudah menjadi kewajiban untuk Rangga, si anak yatim piatu. Anak yang selalu tersenyum dan ramah kepada semua orang, tapi tidak dengan hatinya. Hanya adiknya, Gavin Agha Wiguna yang tak lain adalah putra kandung Ghassan Aksara Wiguna yang tahu apa yang dia rasakan tanpa dia harus mengatakan.
Benar saja, Agha menghubungi Rangga yang sedang bergelut dengan angannya. Ponselnya dia tinggalkan di atas tempat tidur dan tanpa suara. Hanya getar saja.
__ADS_1
Satu jam berselang, Rangga baru masuk ke kamar dan dia melihat betapa banyak panggilan dari Agha. Baik sambungan telepon maupun video.
"Kak."
"Kenapa gak jawab telepon Mas?"
"Kakak gak kenapa-kenapa 'kan?"
Seperhatian itu Agha pada Rangga. Itulah yang membuat Rangga memiliki keluarga sesungguhnya. Ditambah kedua orang Agha pun selalu memperhatikannya. Baik pendidikan ataupun pekerjaannya sekarang.
.
Ritual seorang Rangga Ardana sebelum pergi mengudara adalah berpamitan kepada kedua orang tua angkatnya melalui sambungan video.
"Udah ganteng anaknya Mommy." Begitulah Riana berkata. Rangga hanya tersenyum.
"Kak, bawa oleh-oleh ya. Paketin aja oleh-olehnya." Siapa lagi jika bukan Ghea. Adik bungsunya.
"Safe flight, Ngga. Jangan lupa kabarin Daddy kalau udah sampe tempat tujuan." Aksa akan menjadi seorang ayah yang hangat jika sudah bicara dengan ketiga anak-anaknya.
"Tentu, Dad."
__ADS_1