RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
220. Menggali Bangkai


__ADS_3

Aleesa dapat bernapas lega ketika sang suami sudah keluar dari rumah Satria. Aleesa segera memeluk tubuh Restu. Sang suami hanya tersenyum.


"Aku takut."


"Aku tidak apa-apa." Restu mengecup kening sang istri dengan begitu dalam.


"Tuh anak kabur?" Rio sudah membuka suara.


"Anak mana yang tidak kecewa jika selama ini dia dibohongi oleh ayah kandungnya sendiri."


Rio setuju dengan apa yang dikatakan oleh Restu. Kalfa pasti sangat hancur. Tadi dia dapat melihat jelas wajah penuh kekecewaan yang Kalfa tunjukkam.


"Mental dibalas dengan mental."


Aleesa hanya menghela napas kasar. Dia merasa kasihan kepada Kalfa, dia pasti sangat hancur sekarang. Namun, dia juga masih kesal kepada laki-laki yang direbutkan oleh kedua saudarnya.


"Biar dia ngerasain bagaimana diserang mental kayak Kakak Na."


Restu tersenyum mendengar ucpan dari istrinya. Sungguh istrinya kini berubah menjadi manusi tak memiliki hati.


"Itu baru istri aku."


Aleesa tak menjawab. Dia memeluk pinggang Restu dan membuat Rio berdecak kesal.


"Gini amat ya jomblo berkawan dengan pengantin baru. Kesiksa banget mata gua."


Restu dan Aleesa tertawa. Sedangkan Rio terus bersungut ria. Itu membuat pasangan suami-istri baru itu semakin tertawa.


.


Rindra terkejut ketika dia menerima surat penangkapan atas nama Restu Ranendra. Tubuhnya menegang.


"Putra saya tidak ada. Dia sedang berada di Zurich."


"Putra Anda sudah berada di Indonesia. Saya sudah mendapat kabar dari pelapor."

__ADS_1


Dahi Rindra pun mengkerut. Apa yang dikatakan pihak keamanan ini benar adanya? Atau hanya akal-akalan saja? Dia sangat tahu pengacara yang mendampingi Satria memiliki ikatan spesial dengan pihak kepolisian.


"Jangan menghalangi proses penangkapan saudara Restu Ranendra." Petugas berkata dengan sangat tegas.


"Silahkan cari! Putra saya tidak ada."


Nesha sudah menunjukkan wajah cemas dan khawatir. Rindra menenangkan sang istri dengan mengusap lembut pundaknya. Dia membiarkan petugas memeriksa rumahnya.


"Bagaimana?" Rindra sudah menatap ke arah dua petugas yang bersikukuh. Mereka hanya menggelengkan kepala.


"Saya tidak bohong 'kan."


"Tadi kami mendapat kabar jika saudara Restu Ranendra sudah ada di Indonesia dan sudah ke rumah Pak Satria."


Rindra sedikit terkejut dengan ucapan dari petugas. Dia menatap ke arah Nesha yang juga menggelengkan kepala menandakan dia tidak tahu.


"Jika, begitu kami pamit. Permisi."


Rindra segera menghubungi sang putra ketika petugas sudah pergi. Nomor luar Rio sudah tidak aktif dan dia mencoba menghubungi nomor lokal putranya ternyata sudah aktif. Rindra benar-benar terkejut. Sayangnya, Rio tidak menjawab panggilannya.


"Di mana mereka?"


.


"Papih udah tahu," ujar Rio. Restu tak merespon apapun. Dia masih asyik mengusap lembut rambut Aleesa yang masih melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


"Kapan ke rumah Papih?" Aleesa mulai membuka suara.


"Entar malam aja, gimana?" Saran Rio. Restu masih belum membuka suara.


"Gimana, Bie?" tanya Aleesa. Sedari tadi suaminya diam saja.


"Terserah kalian aja."


Perihal surat penangkapan Restu sudah tahu. Namun, dia takut jika istrinya akan sedih mendengar kabar ini. Bagi Restu itu adalah hal biasa. Dia tidak akan gentar. Dia juga tidak akan takut.

__ADS_1


Ketika malam tiba, Rindra dikejutkan dengan kedatangan dua putranya. Bukannya menyambut, Rindra malah meninju perut kedua anaknya.


"Sakit, Pih," keluh Rio. Sedangkan Restu hanya tersenyum.


"Anak durhaka!" Restu malah tertawa.


Aleesa sudah memeluk sang mertua yang tak lain adalah tantenya. Dua bermanja dengan Nesha.


"Mau rujak mangga asem, Mih."


Nesha menatap penuh tanya ke arah sang menantu. Dia mnukikkan kedua alisnya.


"Kamu ngidam?"


Aleesa malah tertawa. Baru seminggu menikah, tidak mungkin langsung jadi.


"Enggak. Sasa 'kan suka sama mangga masam, tapi semenjak menjalin hubungan dengan Kak Restu sampai sekarang belum pernah makan itu lagi. Dia melarang."


Aleesa berterus terang kepada sang mertua. Nesha hanya tersenyum dan mengusap lembut lengan Aleesa.


"Restu tidak ingin kamu sakit. Selain mangga masam pasti sambal yang kamu inginkan super pedas 'kan." Aleesa tertawa renyah. Nesha menggelengkan kepala.


"Jangan buat Mamih dimarahin suami kamu." Nesha meninggalkan sang menantu dan mampu membuat Alees merajuk.


"Mamih!"


Di halaman samping, Restu sudah menyalakan sebatang rokok. Begitu juga dengan Rindra dan Rio.


"Aku udah tahu." Santai dan tak da ketakutan dari wajah Restu.


"Kata Radit juga tadi petugas datang ke rumahnya nyari kamu."


Restu membuang asap rokok ke udara. Dia juga tidak menjawab apapun laporan dari sang ayah.


"Papih tenang aja," ujar Restu dengan sangat santai. "Ada waktunya kita berkumpul semua dan menggali bangkai yang sudah lama tua Bangka itu simpan."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Kalau bosan skip aja ya. Jangan lupa komen ...


__ADS_2