RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 88. Kecewa


__ADS_3

"Kok aku merasa cemburu?"


Mendengar Restu yang berbicara kepada Aleesa dengan begitu perhatian membuat dirinya ingin diperhatikan juga. Hatinya sangat yakin jika Restu adalah Raje.


Rasa tidak nyaman semakin Restu nampakkan. Bukan tanpa alasan, sikap madam yang aneh yang selalu mendekat kepadanya membuatnya merasa risih. Juga, setiap kali dia menghubungi keluarganya, madam seakan ingin tahu lebih dalam.


"Aku tutup ya, Mih. Aku janji aku akan pulang dengan selamat dan akan tinggal bersama Mamih dan Papih. Aku akan menuruti apa keinginan Papih."


Hati madam Zenith sangat sakit mendengarnya. Dia merasa seperti dikhianati oleh Restu. Betapa manisnya Restu berbicara kepada Nesha sedangkan kepada dirinya, dia semakin dingin.


"Aku tutup ya, Mih. Nanti aku hubungi lagi. Jaga kesehatan Mamih dan Papih."


Sang atasan memang tidak mendekat, tapi Restu memiliki insting yang kuat. Ekor matanya sangat tajam dan mampu melihat jika madam Zenith tengah memperhatikan.


Ketika Restu baru saja menguarkan ponsel, suara madam Zenith terdengar.


"Saya akan mengubah peraturan sekarang." Bukan hanya Restu yang menoleh, pengawal yang lain pun ikut menatap madam Zenith yang baru saja datang.


"Jangan bermain ponsel selama hari kerja. Cukup di akhir pekan saja. Saya membayar kalian sangat mahal."


Restu berdecih kesal. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Tidak ada pengecualian, leader pun sama." Madam Zenith menatap ke arah Restu dan dibalas tatapan jengah olehnya.


Seorang Restu masih bisa sabar, tapi ketika kesabarannya sudah habis pemberontakan dia akan lebih sadis. Tak Restu sangka, ponselnya yang pertama kali diambil oleh madam Zenith.


"Leader first." Tak ada jawaban dari Restu. Wajahnya masih sangat datar. Tatapan penuh ketidaksukaan sangat terlihat jelas.


Rasa curiga semakin bersarang di dada. Kepada Gemke pun dia menaruh curiga yang mendalam. Namun, dia masih menutupi semua rasa itu dengan diamnya.


Hari pertama menjalankan peraturan baru. Restu yang akan menjadi pengawal utama madam. Dia tidak banyak bicara. Menyapa madam pun tanpa suara. Ketika di perjalanan menuju salah satu tempat pertemuan, terdengar getaran ponsel di saku Gemke. Ekor mata Restu melirik tajam ke arah Gemke yang terlihat salah tingkah.


Masih diam, itulah yang Restu lakukan di hari ketiga menjalankan peraturan. Setiap malam yang bisa dia lakukan hanya menikmati rokok dengan pikiran yang berkelana jauh. Memikirkan orang-orang yang dia sayang, terutama Aleesa.

__ADS_1


"Maafkan aku, Lovely. Pasti kamu cemas." Dia mengepulkan asap rokok ke udara. Namun, matanya memicing ketika melihat ada mobil asing yang baru saja tiba. Dia mulai bersembunyi karena dia memang tengah berada di balkon lantai dua.


Matanya semakin tajam memicing ketika dia tahu siapa wanita itu. "Ada hubungan apa dengan Madam?"


Ketidakadilan yang tengah dia rasakan membuatnya harus ekstra hati-hati dari pengawal lain. Dia menyelinap menuju ruangan di mana tamu itu berada. Matanya melebar ketika ada Gemke di sana. Hanya sebuah senyum sinis yang dia ukirkan.


"Jangan lepaskan, Nyonya. Selamanya Anda tidak akan memilikinya. Dia akam menjauhi Anda dan tidak akan pernah kembali kepada Anda." Restu masih setia mendengarkan.


"Keluarganya sangat licik. Ingin memanfaatkannya. Begitu juga dengan keluarga kekasihnya. Lebih rela merestui anaknya dengan selingkuhannya dibandingkan dengan kekasihnya yang sebenarnya. Ada udang di balik batu dengan apa yang terjadi di dalam kebaikan keluarga angkatnya."


Restu geram sekali mendengarnya. Dia sangat yakin perempuan itu sedang membicarakannya. Lalu, kenapa madam Zenith ingin memilikinya? Itulah pertanyaan yang tengah bersarang di kepala Restu.


"Siapa madam Zenith sesungguhnya?"


Di hari selanjutnya Restu mencoba untuk tetap seperti biasa. Sangat kebetulan hari itu akhir pekan. Dia mendatangi ruangan madam Zenith dengan wajah datar. Senyum tulus madam Zenith berikan kepada Restu.


"Saya mau meminta ponsel saya." Tidak ada basa-basi yang Restu katakan. Namun, dia melihat madam Zenith akan berkilah.


Mulut madam Zenith kelu mendengar ucapan dari Restu. Apalagi wajah Restu sudah terlihat murka. Dari mana Restu tahu akan hal itu?


"Anda jahat kepada saya, saya pun bisa lebih jahat dari Anda." Sebuah ancaman yang keluar dari mulut Restu. Terlihat madam Zenith terkejut. Dia pun akhirnya menyerahkan ponsel milik Restu.


Ketika ponsel miliknya Restu nyalakan, matanya melebar dengan apa yang dia lihat di dalam ponselnya. Tidak ada satupun kontak di sana. Begitu juga dengan galeri fotonya yang sudah bersih. Tatapan Restu sangatlah tajam. Dia mendekat ke arah atasan dengan wajah yang sudah merah.


"Apa maksudnya?" Nadanya masih biasa, tapi penuh dengan penekanan. Madam Zenith membeku. Dia melihat betapa marahnya Restu.


Dia sudah berada di samping madam Zenith sekarang. Raut kemarahannya semakin menjadi.


"APA MAKSUDNYA?" Bentakan Restu mampu membuat pengawal yang lain termasuk Gemke masuk ke ruangan. Restu sudah mendekatakan wajahnya ke arah madam Zenith dengan sorot mata berapi-api.


"Mr. R--"

__ADS_1


"Diam!" Restu menatap tajam ke arah Gemke. Tubuh Gemke pun menegang.


"Seminggu ini saya berusaha untuk diam, tapi Anda malah semakin menjadi dan Anda sudah lancang mengotak-atik benda yang menjadi privasi untuk saya." Untuk kedua kalinya Restu berteriak. Bagi madam Zenith sangat sakit mendengarnya.


"Jika, Anda memiliki masalah pribadi dengan saya, jangan pernah libatkan kedua orang tua saya. Begitu juga jika Anda memiliki masalah dengan keluarga saya, berarti Anda memiliki masalah juga dengan saya. Tak akan pernah saya biarkan siapapun menyakiti kedua orang tua saya dan juga orang yang saya cintai. Termasuk Anda." Ancaman yang begitu berani yang keluar dari mulut Restu. Madam Zenith terdiam dengan air mata yang sudah menggenang.


"Bukan hanya kepada musuh, saya bisa bersikap kejam. Kepada Anda pun saya bisa bersikap lebih kejam." Restu meninggalkan ruangan madam Zenith dengan raut penuh kemarahan. Tubuh Gemke pun sengaja dia tabrak hingga Gemke tersungkur ke belakang.


Madam Zenith, air matanya sudah menetes. Selama bekerja dengan Restu dia tidak pernah melihat Restu semarah hingga dia dibentak, dan yang lebih sakitnya dia membela orang tua angkatnya yang jelas-jelas bukan orang yang mengandungnya dan melahirkannya.


Restu mengerang keras ketika berada di kamarnya. Napasnya masih turun-naik dengan cepat.


"Insting gua benar 'kan." Tanpa berpikir panjang, dia pun segera mengambil keputusan.


Sebuah amplop panjang sudah dia pegang. Tanpa menghiraukan Gemke dan pengawal lain dia masuk ke ruangan madam Zenith. Dia melihat mata madam Zenith sembab. Tidak ada rasa iba sama sekali juga tidak ada rasa bersalah pada diri Restu. Wanita paruh baya itu mengira jika Restu akan meminta maaf kepadanya. Namun, itu semua salah. Restu menyerahkan amplop putih panjang yang dia bawa dengan tatapan datar.


"Apa ini?" Madam Zenith sudah menatap Restu. Tidak ada jawaban dari pria itu, akhirnya dia membuka amplop panjang tersebut. Dadanya terasa sesak ketika membacanya.


"Pengunduran diri--"


"Saya sangat kecewa bekerja sama dengan Anda. Privasi saya sudah Anda obrak-abrik, dan itu sudah sangat fatal." Jantung madam Zenith seperti berhenti berdetak mendengarnya. Apalagi Restu yang sudah balik kanan untuk meninggalkannya.


"Kamu tahu 'kan jika kamu membatalkan pekerjaan, kamu akan didenda lima kali lipat dari bayaran yang sudah saya berikan?" Peluru mematikan yang madam Zenith miliki. Benar saja, langkah Restu terhenti.


Tanpa madam Zenith ketahui senyum tipis terukir di wajah Restu. Dia pun membalikkan tubuhnya lagi. Tanpa mendekat dan masih berada di tempatnya berada. Madam Zenith sudah menaikkan alis kirinya.


"Jika, tidak mampu kamu ha--"


"Berapa nomor reekening Anda?" Mata Madam Zenith melebar. "Jangankan lima kali lipat, sepuluh kali lipat pun masih mampu untuk saya bayar."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen atuh ...


__ADS_2