RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
238. Nothings Gonna Change My Love For You


__ADS_3

Tubuh Aleesa terasa lemas ketika dokter mendiagnosa sakitnya. Beda halnya dengan Restu yang sudah tersenyum mendengarnya. Tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri tercinta.


Menuju rumah pun Aleesa hanya terdiam. Dia masih bergelut dengan sejuta pikirannya. Apakah iya? Atau ini hanya mimpi belaka.


"Mau makan dulu gak?"


Aleesa yang masih terbengong tak menjawab ucapan sang suami. Dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Hingga usapan lembut di punggung tangannya membuat dia menoleh. Sorot matanya penuh kepiluan.


"Kenapa?"


"Kenapa bisa secepat ini?"


Terlihat sangat frustasi wajah Aleesa. Sontak Restu menepikan mobilnya dan memeluk tubuh Aleesa.


"Maaf."


Aleesa menggeleng. Air matanya terjatuh dan tangannya pun sudah mulai memeluk tubuh sang suami.


"Ini salah aku. Kenapa aku bisa lupa."


Tangan Restu sudah mengusap lembut punggung Aleesa. Dia mencoba menenangkan sang istri tercinta.


"Ini rejeki, Mami." Restu mencoba untuk menghibur. "Sejago apapun kita menghindar, tapi kita tidak akan bisa menghindari ketentuan Tuhan yang sudah Tuhan persiapkan."


Mendengar ucapan itu Aleesa mulai mengendurkan pelukannya. Dia menatap sang suami dengan begitu dalam.


"Kita akan sangat berdosa jika menolak rejeki itu. Siap tidak siap, mau tidak mau, ketika Tuhan sudah menghendaki kita tidak akan bisa menghindari lagi."


Air mata Aleesa menetes begitu saja. Restu mengusap lembut air mata sang istri. Bukannya dia tidak bahagia dengan kenyataan ini, tapi ada dua alasan kenapa dia sedikit berat. Pertama, pendidikan. Kedua, putranya masih berusia enam bulan. Sedang lucu-lucunya.


"Perihal Abang Er, kita bisa sewa pengasuh." Aleesa menggeleng dengan cepat.


"Ya udah, kita minta bantuan Mamih dan Bubu aja biar ke kontrol sama kita juga." Aleesa pun setuju.


"Jangan sedih lagi, ya."


Sepanjang perjalanan, Restu terus menggenggam tangan sang istri. Restu berhenti di jajaran tukang jajanan pinggir jalan. Dia teringat jika di rumah sang mertua ada empat adik sepupu Aleesa yang tengah menjaga Abang Er.


"Kita beli telur gulung buat si kuartet."


Aleesa turun dengan menggunakan masker. Juga Restu yang menggunakan masker yang sama.


"Mami mau apa?"


Aleesa menunjuk ke arah jua sirsak juga asinan buah yang ada di sana. Restu tersenyum dan mengangguk. Dia tidak akan melarang Aleesa untuk makan apapun. Dia akan menuruti semua keinginan sang istri.


Wajah sumringah terlihat jelas. Aleesa terus bersenandung mengikuti lagi yang sedang Restu putar.


 


"Our dreams are young and we both know. They'll take us where we want to go. Hold me now, touch me now. I don't want to live without you."


Suara yang begitu merdu dan enak didengar membuat Restu tersenyum ketika dia melihat sang istri yang nampak bahagia sekali.


"Nothing's gonna change my love for you. You oughta know by now how much I love you One thing you can be sure of. I'll never ask for more than your love. Nothing's gonna change my love for you. You oughta know by now how much I love you. The world may change my whole life through. But nothing's gonna change my love for you."


Restu mengusap lembut rambut Aleesa hingga sang istri tersenyum bahagia. Dia menatap Restu dengan begitu dalam.


"Bagus gak suara Mami?"


"Banget."


.Aleesa memeluk tubuh Restu. Ketika Restu hendak mencium keningnya, Aleesa menolak.


"Perut Mami mual kalau Papi cium." Restu pun terkejut mendengarnya.


"So come with me and share the view. I'll help you see forever too. Hold me now, touch me now. I don't want to live without you." Aleesa malah asyik bersenandung lagi dan membiarkan suaminya menyiapkan seorang diri.


"Nothing's gonna change my love for you. You oughta know by now how much I love you. One thing you can be sure of. I'll never ask for more than your love."


"Nothing's gonna change my love for you. You oughta know by now how much I love you The world may change my whole life through. But nothing's gonna change my love for you."


Restu hanya terdiam ketika mendengar istrinya bernyanyi. Pikirannya masih tertuju pada perkataan Aleesa bahwa dia mual jika dicium oleh Restu.


"Mi, beneran Mami mual kalau Papi cium?"


Raut wajah sendu terlihat begitu jelas. Seketika Aleesa merasa sedih melihat suaminya.


"Tadi sih begitu, Pi."


Aleesa menjawab jujur, tapi tidak berani menatap suaminya yang tengah kecewa. Terdengar helaan napas yang sangat berat dan dalam.


"Tapi, Papi masih bisa peluk Mami, pegang Mami. Hanya tidak boleh cium."

__ADS_1


Tetap saja Restu merasa ada yang kurang. Dia pun hanya terdiam. Itu membuat Aleesa menatap dalam ke arahnya.


"Pi--"


Restu mencoba untuk tersenyum. Namun, senyum itu penuh kesedihan dan kekecewaan.


"Jangan begitu." Aleesa berhambur memeluk tubuh suaminya dari samping. "Papi jangan marah."


Manjanya masih sama seperti Aleesa dulu. Restu harus mengalah. Dia harus mengutamakan istrinya.


"Papi cuma agak syok aja."


Tibanya di rumah masih terdengar suara si kuartet. Kali ini, bukan hanya di kuartet yang ada di sana, mobil Agha pun sudah terparkir di depan.


"Pi, telor gulungnya cukup gak?"


Aleesa khawatir jika itu akan menjadi rebutan untuk adik-adik sepupunya.


"Banyak kok."


Kedatangan. Aleesa disambut oleh enam adik sepupunya. Sang putra pun nampak tertawa bahagia dengan mengangkat-angkat tangannya ingin digendong.


"Gak boleh digendong sama Mami dulu, ya." Restu segera mengangkat tubuh montok sang putra yang tertawa bahagia.


"Makanya jangan dihajar terus keponakan guanya."


Bukan hanya di kuartet yang ada di sana, kedua orang tuanya pun sudah ada di sana. Juga ada Aksa serta Riana.


"Seminggu tiga kali doang kok."


"Bukannya minum obat itu sehari tiga kali, ya." Anak bungsu Aska menimpali dan membuat semua orang tertawa.


Balqis kira yang tengah dibahas oleh ayah dan kakak sepupunya perihal obat. Padahal, mereka berdua tengah membahas obat ampuh penghilang cenat-cenut di kepala.


Abang Er sangat bahagia bermain dengan sang ayah. Rindra menatap putra pertamanya dengan begitu lekat. Ada rasa tak percaya yang dia lihat. Sang putra yang begitu tidak menyukai anak kecil kini berubah drastis. Restu begitu sangat menyayangi putranya. Terlebih, wajah sang putra sangat mirip dengannya.


Agha menawari Aleesa telur gulung di mana itu jajanan favorit cucu Rion Juanda. Baru sekali gigitan, Aleesa langsung menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi. Semua orang terheran-heran. Restu yang menggendong Abang Er pun segera menyusul sang istri dengan wajah yang cemas.


"Mi."


Restu memijat tengkuk leher sang istri. Abang Er nampak bingung melihat tangan ayahnya yang terus bergerak. Dia pun mulai ikut meletakkan tangannya di belakang leher sang ibu hingga Aleesa menoleh dan wajah bingung sang putra terlihat begitu jelas.


"Makasih ya, Abang Er."


"Ya Tuhan, kenapa Engkau memberikan rejeki tak terduga ini? Bukannya aku tidak bersyukur dan bahagia. Akan tetapi, aku takut putraku kurang kasih sayang dariku."


Keharuan menguar ketika Radit dan Echa menghampiri mereka. "Ada apa?" Itulah yang ditanyakan oleh Radit. Sebagai seorang ayah dia meraskan gelagat yang aneh dari anak dan menantunya.


"Abang Er sama Moma."


Echa mengambil alih Abang Er. Membiarkan Restu menangani sang putri.


"Sasa kenapa, Res?"


"Aku kasih tahunya di dalam aja, ya."


Echa dan Radit semakin penasaran. Mereka berdua pun menunggu Aleesa dan Restu yang masih di kamar mandi.


"Kenapa? Muka tegang amat."


Aska yang memang peka dengan keadaan mulai bertanya kepada kedua kakaknya yang kini menjadi orang tua pengganti untukny dan juga sang Abang. Serta untuk Iyan dan juga Riana.


"Sasa," jawab lemah Echa yang memangku Abang Er.


Jika, menyangkut Aleesa semua pikiran jelek sudah berkelana. Wajah bahagia mereka kini berubah tegang.


"Kenapa dengan Sasa?" Riana sudah membuka suara.


Echa hanya menggelengkan kepala. Radit memang bersikap tenang, tapi ada gurat kekhawtiran yang terlihat di wajahnya. Rasa cemas itupun dirasakan oleh Rindra dan Nesha. Apalagi, melihat Abang Er yang masih sangat kecil.


Rindra menggelengkan kepala ketika ingatannya berputar ketika dia masih kecil. Dadanya mulai sesak ketika dia melihat Abang Er malah melihat Radit semasa kecil yang tak memiliki secuil kenangan pun bersama sang ibu.


"Tuhan, jangan biarkan nasib cucuku seperti itu."


Jeritan hati Rindra hanya bisa dirinya dan Tuhan dengar. Ketakutannya sangat luar biasa. Apalagi dia mendengar sendiri ketika dokter mengatakan Aritmia yang Aleesa derita bisa kambuh kapan saja.


Suasana hening kini berubah dengan tatapan ingin tahu ketika Aleesa dan Restu menghampiri mereka semua. Jelas sangat wajah Aleesa yang begitu pucat. Restu memanggil mbak yang ada di rumah itu dan menyuruhnya untuk membuatkan teh manis hangat untuk sang istri.


"Sebenarnya ada apa, Res?"


Wajah Echa sudah tidak bisa tenang. Begitu juga dengan Radit dan yang lainnya. Hingga para adik sepupu mereka pun ikut menyimak. Mereka tahu Aleesa memiliki penyakit.


Restu menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum berkata. Itu membuat semua orang semakin berspekulasi. Hingga dia mengambil tas kecil milik istrinya dan menyerahkan dua lembar foto. Semua orang terkejut dan mereka menutup mulut tak percaya.

__ADS_1


"Serius?" tanya Rindra.


Sebuah anggukan menjadi jawaban dan itu membuat semua orang mengucapkan Alhamdulillah.


"Kasusnya kayak gua ini mah," celetuk Aksara. Semua orang tertawa. Beda halnya dengan Restu dan Aleesa yang tak mengerti.


Ketik Agha masih berusia bulanan, Riana dinyatakan hamil kembali. Sontak semua orang menyalahkan Aksa karena tidak memberi jarak kepada istrinya. Namun, karena marahnya orang tua juga orang terdekat Aksa, janin itu tidak berkembang dan akhirnya gugur.


"Intinya kita harus bahagia ketika mendengar kabar baik. Jangan marah karena kemarahan dan ketidak terimaan kita akan menjadi Boomerang sendiri untuk kita." Echa mencoba untuk menjelaskan.


Radit mengusap lembut rambut sang putri yang tengah hamil anak kedua di usianya yang masih sangat muda. Abang Er pun masih berusia enam bulan.


"Jadilah ibu yang kuat ya, Sa. Semua ini adalah takdir baik dari Tuhan. Ketika Tuhan menitipkan janin di perut kamu lagi berarti Tuhan sudah percaya kepada kamu dan juga Restu. Kalian adalah orang tua yang hebat."


Rasa sedih yang sedang hinggap di hati Aleesa pun menguar begitu saja. Kalimat demi kalimat yang ayahny ucapkan sangat menenangkan dan membuat mindsetnya terbuka.


"Akhirnya kita gak akan rebutan Abang Er lagi."


Rindra berkata dengan begitu senangnya. Itu dapat Restu lihat dengan jelas. Aleesa pun menoleh ke arah sang suami yang tersenyum kepadanya.


"Apa yang Papi bilang, semuanya bahagia dengan kabar ini. Jadi, tidak ada alasan untuk kita bersedih. Papi janji, Papi akan selalu menjadi suami siaga untuk kamu dan juga anak-anak kita."


Abang Er yang tengah dipangku sang nenek mengulurkan tangannya ke arah perut sang ibu, mengusapnya seakan dia tahu ada adiknya di dalam sana.


"Abang tahu di dalam sini ada adik Abang?"


Anak itu tersenyum dan meletakkan kepalanya di perut sang mami. Sungguh hati Aleesa mencelos begitu juga dengan yang lainnya yang tersenyum bahagia.


"Tua nih bocah," ejek Agha yang melihat kelakuan Erzan.


Restu yang tak terima mendengarnya melempat Agha dengan banyak sofa hingga Agha mengumpat kesal.


"Mainnya kekerasan," omel Agha.


"Lu mainnya Bullyan."


Agha dan Restu itu tidak pernah bisa akur jika sudah seperti ini. Semua orang tidak akan melerai karena mereka tengah melihat pertarungan yang sangat sengit antara dua laki-laki beda umur. Laki-laki bermulut pedas denah laki-laki yang sangat kejam.


.


Setelah dimumkannya kehamilan Aleesa, ada perubahan dari bayi berusia enam bulan itu. Dia tidak akan pernah rewel jik ingin tidur. Diberi susu langsung tidur sambil memeluk guling kecil yang diberikan oleh Rio.


"Soleh banget sih anak Mami."


Aleesa mengusap lembut rambut Abang Er ketika dia sudah terlelap dengan nyenyak. Botol susu yang sudah terlepas pun sudah Aleesa ambil.


"Makasih ya, Bang. Udah mengerti kondisi Mami." Kecupan hangat Aleesa berikan di kening sang putra.


Suara pintu terbuka terdengar. Aleesa menoleh dan sang suami baru saja pulang. Senyum mengembang di wajah Aleesa ketika melihat wajah Restu yang nampak lelah. Banyak orang bilang jika seorang istri menyambut suami yang lelah bekerja dengan senyuman akan membuat mood suami berubah drastis, dan itu terbukti. Restu menuju sang istri dengan langkah lebar dan memeluknya.


"Capek banget kayaknya." Aleesa berkata dengan masih memeluk tubuh Restu.


"Boleh ya, Papi peluk lebih lama." Aleesa mengangguk.


Tangannya semakin erat memeluk pinggang Aleesa dan dibalas dengan tak kalah erat oleh Aleesa. Bagi Restu, Aleesa adalah obat mujarab yang akan selalu menghilangkan rasa pusing dan penat setiap kali pulang bekerja.


"Mami buatin cokelat panas, ya. Biar pusingnya hilang."


Restu yang sudah melepaskan pelukan Aleesa menggeleng dengan pelan. Dia sebanenya ingin mencoba cokelat panas yang Aleesa buat, tapi dia tidak ingin istrinya turun tangga hanya untuk menyiapkan cokelat panas untuknya.


"Mami boleh menyiapkan apapun untuk Papi, tapi setelah mini pantry hadir di kamar kita."


Keesokan harinya Restu langsung menyuruh tukang untuk membuat mini pantry di kamarnya. Aleesa menggelengkan kepalanya tak percaya. Suaminya ini bukan orang yang banyak bicara, tapi orang yang sat set dalam bertindak.


"Aku gak ingin istriku turun-naik tangga." Dia berkata kepada Radit dan Echa di meja makan.


"Selama kamar belum rampung, aku akan tinggal di rumah Mamih dulu."


Echa dan Radit tidak memaksa. Mereka sudah membuat kesepakatan jika Aleesa dan Restu akan tinggak bergantian di rumah Rindra dan juga Radit.


Kehadiran Abang Er disambut suka cita oleh Opa dan Omanya. Ada juga Rio di sana.


"Lancar bener lu bikin anaknya. Belum ada setahun udah otewe lagi." Ucapan Rio membuat Rindra dan Nesha tertawa.


"Kak Iyo," panggil Aleesa tiba-tiba.


Rio yang sedang menggoda Abang Er menoleh. Dia menukikkan kedua alisnya ketika mendapatkan tatapan seperti itu.


"Sasa ingin sate lilit khas Bali."


"Jangan bilang belinya kudu berangkat ke Bali."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2