RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
231. Suami Siaga


__ADS_3

Waktu terus berputar usia kandungan Aleesa semakin bertambah. Kini, sudah memasuki kehamilan bulan ketujuh. Seharusnya jenis kelamin dari anak yang dikandung oleh Aleesa sudah bisa dilihat, tapi anak itu seperti ingin memberikan kejutan kepada keluarga besar. Sama sekali tidak menunjukkan jenis kelamin.


“Apapun jenis kelaminnya yang penting sehat.”


Ayah dari Alyssa selalu berkata seperti itu. Radit tidak ingin melihat anaknya stress karena memikirkan jenis kelamin dari sang jabang bayi. Dia juga selalu memberikan nasihat-nasihat baik dan menenangkan untuk Aleesa agar putrinya tetap tenang dan happy. Ibu hamil tidak boleh berpikiran terlalu keras. Itu akan berdampak pada kesehatan janin dan juga sang ibu. Radit ingin anak dan calon cucunya sehat.


Restu pun terus memberikan perhatian lebih kepada sang istri. Setiap malam, selelah apapun dia ketika pulang bekerja, dia akan menyempatkan waktu untuk memijat kaki Aleesa. Sang istri sudah sering mengeluh, kakinya mulai pegal, bengkak dan lain sebagainya. Setiap Aleesa mengeluh, Restu akan siaga untuk membawanya ke dokter obgyn. Kepanikan Restu terkadang membuat Aleesa malu.


"Jangan panik, Pak. Seperti ini mah sudah biasa terjadi pada ibu hamil."


Aleesa menatap ke arah Restu yang nampak lega. Dia mengusap punggung tangan Restu dan membuat Restu menoleh. Aleesa tersenyum dan tangan Restu mengusap lembut perut Aleesa yang sudah membukit.


Aleesa akan tertawa ketika sang anak mulai bergerak-gerak. Setiap malam Restu menyuruh Aleesa untuk menaikkan baju yang digunakan agar dia bisa melihat bagaimana pergerakan sang buah hati.


“Gerak dong, Nak.”


Restu selalu berkata seperti itu. Gerakan kecil yang sang buah hati berikan akan membuat Restu bahagia sekali. Segala beban yang tengah dia emban terasa hilang begitu saja melihat pergerakan sang anak tercinta.


“Dia gerak, Bie.”


Wajah Restu akan berubah drastis ketika melihat itu. Si jabang bayi yang ada di dalam perut itu mulai bergerak ke kanan dan ke kiri. Itu membuat Restu hampir menitikan air mata setiap kali melihat hal itu. Bukan lebay, tapi ini adalah bentuk dari kebahagiaan yang telah Restu rasakan.


“Sakit nggak?”


Restu sudah menatap ke arah Alisa yang hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


“Sesakit apapun itu Aku tidak akan pernah mengatakan jika itu sakit demi anakku.”


Restu terharu mendengar ucapan dari Aleesa semakin ke sini sikap Aleesa semakin dewasa, umurnya baru saja hendak menginjak 21 tahun tapi pemikirannya sudah sangat dewasa dan di luar ekspektasinya sebelum menikahi Aleesa. Anak yang tomboy, songong, dan juga paling berani. Namun, masih manja bagai anak kecil.


“Kamu ingin anak kita berjenis kelamin apa?”


Restu sudah menatap ke arah Aleesa. Sebenarnya Aleesa tidak ingin mendengar pertanyaan itu, tapi suaminya seakan membutuhkan jawaban dari dirinya. Semakin ke sini dia tidak memikirkan perihal jenis kelamin sang anak.


“Apapun jenis kelaminnya aku tidak masalah. Yang terpenting dia sehat dan selamat. Juga sempurna, itu udah cukup untuk aku.”


Restu tidak bisa berkata, dia hanya bisa memeluk tubuh Aleesa dan juga mencium perut Aleesa yang sudah membukit.


“Makasih sudah menjadi istri aku.”


Kalimat tulus yang Restu ungkapkan kepada Aleesa. Ini bukan yang pertama, tapi Restu harus mengungkapkannya berkali-kali karena terlalu banyak kebaikan,terlalu banyak pelajaran dan terlalu banyak kasih sayang yang sudah Aleesa berikan kepadanya.


Sikap tempramental yang Restu miliki, kini sedikit demi sedikit mulai berkurang. Itu semua berkat Aleesa. Dia akan berubah menjadi diam jika tengah ada masalah. Dia akan meneliti sebuah masalah, mencari tahu, barulah dia bertindak. Tidak grasak grusuk seperti dulu.


Memasuki bulan ke-9, Restu mulai menyiapkan semuanya. Dari baju dan printilan bayi sudah dia siapkan tanpa sepengetahuan Aleesa. Dia sudah memesan baju bayi dari umur 0 sampai satu tahun dari merk ternama yang harganya lumayan mahal.


“Bie, ini apa?”


Aleesa sudah menghubungi suaminya ketika ada satu kotak besar datang ke rumah.Di sana tertera nama sang suami. Aleesa tidak berani membuka dia memilih untuk menghubungi Restu terlebih dahulu.


“Buka aja."


Senyum mengembang di wajah Restu. Itu membuat Aleesa merasa sedikit lega.


“Kejutan?”


Restu malah tertawa. Terkadang sang istri terlalu polos. Apalagi Aleesa masih belum mau membuka kotak tersebut.


“Bukalah saja,” titah Restu. “Kalau kejutan untuk kamu nanti malam.”


Nada suara Restu membuat Aleesa berdecak kesal. Tatapannya begitu tajam ke arah sang suami yang sudah menunjukkan wajah genitnya.


“Udah gak bisa, Bie. Engap."


“Kan kamu di atas, Lovely.”


Aleesa berdecak dan itu membuat Restu tertawa. Wajah malasnya sudah Aleesa tunjukkan. Itu terlihat sangat lucu di mata Restu.


“Nanti malam aku bawakan kejutan buat kamu,tapi pakai ya."


“Enggak!”


.

__ADS_1


Mata Alyssa berbinar ketika melihat isi dari kotak besar tersebut. Baju-baju bayi dan printilannya yang sangat lucu sekali. Matanya mulai nanar dia merasa terharu atas apa yang diberikan oleh suaminya. Dia teringat ketika dia membicarakan perihal baju-baju untuk sang buah hati kepada Restu. Sang suami sama sekali tidak merespon dan itu membuat Alisa terdiam. Ingin dia mencari baju untuk calon buah hatinya, tapi dia tidak berani pergi sendiri. Aleesa sering mengalami kontraksi ringan dan tidak ingin membuat Restu marah dan juga khawatir kepadanya.


Tibanya Restu di rumah, Aleesa segera berhambur memeluk tubuh Sang suami. Air mata sudah tidak bisa dibendung lagi.


“Loh kenapa?”


Restu nampak bingung ketika Aleeaa malah menangis dipelukannya. Dahinya mengkerut mengingat-ingat apakah hari ini Dia berbuat salah kepada Aleesa?


“Kenapa beli baju bayi nggak bilang-bilang aku.”


Restu tersenyum dan dia mulai mengendurkan pelukan istrinya. Dia menatap Aleesa dengan begitu dalam dan begitu hangat.


“Aku tidak ingin kamu terlalu capek. Selagi aku bisa memesan baju kualitas baik untuk anak kita, kenapa tidak aku lakukan sendiri. Sudah cukup kamu lelah membawa anak kita sudah hampir 9 bulan ini. Sudah cukup kamu tersiksa karena sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan aku ingin di masa-masa menuju persalinan nanti kamu tidak memikirkan apa-apa. Kamu tidak capek dan aku yang akan mengurus semuanya.”


Semakin meleleh air mata Aleesa. Dia tidak menyangka jika suaminya bisa seromantis ini, seperhatian Ini dan selalu memberikan kejutan yang tidak dia duga.


“Dua minggu lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Jaga dia, jaga diri kamu dan kita berkumpul bersama.”


Aleesa menganggukkan kepala, dia tersenyum dan restu pun mencium kening alisnya dengan begitu dalam dan penuh cinta. Semakin hari rasa sayangnya semakin besar untuk sang istri.


.


H-7 sebelum persalinan, Aleesa meminta kepada Restu untuk melahirkan secara normal. Restu tidak setuju. Begitu juga dengan keluarga Aleesa. Bukan tanpa sebab, mereka tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Aleesa dikarenakan usia Aleesa yang masih sangat muda. Baik Radit maupun Restu sudah setuju dengan operasi caeaar yang terbaru. Operasi yang tidak membuat sakit yang pernah dilakukan oleh Riana.


“Kalau bisa normal Kenapa harus sesar, Bie? Aku ingin menjadi Ibu yang sempurna. Ibu yang seutuhnya. Bisa merasakan bagaimana sakitnya berjuang untuk melahirkan anakku."


Suami Mana yang tidak sedih mendengar ucapan yang begitu tulus yang keluar dari mulut istri tercinta. Restu menatap dalam ke arah Aleesa. Mata Restu nanar. Tangan Aleesa mulai mengusap lembut pipi Restu.


“Boleh kan aku mencobanya, Bie? Jika, aku tidak berhasil dam Tuhan menghendaki aku untuk melakukan operasi sesar Aku pasrah, Bie. Tapi izinkan aku untuk berusaha terlebih dahulu..


Aku mohon.”


Restu tidak bisa menolak dia hanya mengiyakan kemudian dia membicarakan perihal ini kepada keluarga besarnya, yakni kepada ayah mertua, ibu mertua dan juga kedua orang tuanya.


“Jika, itu keinginan Aleesa lakukanlah dan kabulkanlah. Berikan dokter terbaik untuk mendampingi Aleesa dan juga mengarahkan Aleesa untuk melahirkan secara normal.”


Radit sudah berbicara seperti itu. Rindra hanya mengikuti saja, Nesha dan Echa tidak bisa melarang,


itu adalah hak dari Putri mereka berdua. Mereka menyerahkan semuanya kepada Restu dan juga Aleesa.


Aleesa merasa sangat bersyukur ketika mengetahui suaminya mengambil cuti demi untuk menemani sang istri menikmati rasa yang luar biasa yang nantinya akan Aleesa alami.


“Ada yang dirasa gak, Lovely.”


Aleesa yang baru duduk di atas tempat tidur menggelengkan kepala. Dia terlihat membuang napas pelan.


“Jangan bohongi aku.” Restu nampak cemas.


“Aku enggak apa-apa, Bie.”


Restu membantu menaikkan kaki Aleesa ke tempat tidur. Dia memijat lembut kaki dari sang istri. Terlihat kaki Aleesa bengkak.


“Ini sakit, gak?” Alesa menggeleng sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar.


Restu mulai mendekatkan wajahnya ke arah perut buncit Aleesa. Dia menyingkap daster di atas lutut yang Aleesa gunakan.


“Jangan nakal ya, Nak. Kalau mau keluar jangan buat Mami kesakitan. Harus jadi anak baik.”


Bayi yang ada di dalam perut Aleesa merespon dan itu membuat Restu tertawa bahagia. Dia mencium perut Aleesa dengan penuh cinta.


“Boleh gak sebelum kamu hadir ke dunia Papi jenguk kamu di dalam.” Seketika mata Aleesa melebar dan rasa sakit mulai menjalar.


“Aw!”


Restu terkejut dan menatap ke arah sang istri yang meringis kesakitan.


“Lovely, kamu gak apa-apa?”


“Anak kita kayaknya gak mau dijenguk.” Wajah kesakitan itu tidak bohong.


Restu hanya mendesah kesal dan itu membuat Aleesa tersenyum. Restu malah tidur di samping perut sang istri dan terus menciuminya. Namun, tangannya sesekali menelusup ke arah kain segitiga yang ada di bawah perut buncit Aleesa.


“Bie.”

__ADS_1


“Aku ingin, Lovely.”


Restu mendongak ke arah sang istri dengan wajah memelas. Aleesa tidak tega dan akhirnya dia mengijinkan.


“Pelan-pelan ya, Bie.”


Restu yang masih asyik bermain di area segitiga nikmat mengangguk. Aleesa pun sudah tidak tahan karena permainan yang tidak pernah berubah dari sang suami tercinta.


“Nak, maaf Papi memaksa untuk menjenguk kamu.”


Suara setan pun mulai terdengar. Denyitan peraduan kulit mulai terdengar dan suara-suara yang membuat bulu kuduk meremang hadir di kamar. Oli kental berwarna putih pun keluar dan membuat goa terasa hangat bukan main. Restu mengecup perut Aleesa dan berkata, “Papi sudah membuka jalan untuk kamu keluar. Semoga lancar dan gak ada hambatan, ya.” Senyum pun mengembang di wajah Aleesa yang kelelahan.


“Makasih ya, Lovely.” Sebuah kecupan hangat Restu berikan di kening Aleesa.


Jam enam pagi, Aleesa dan Restu sudah siap untuk jalan keliling komplek rumah. Restu memakai celana pendek dan kaos oblong berwarna hitam dan juga Aleesa memakai dress selutut.


“Kalau capek bilang, ya.”


Restu dan Aleesa jalan bergandengan. Tangan Restu terus menggenggam tangan sang istri tercinta. Mereka berbincang santai dan terkadang tawa lepas tercipta di wajah Aleesa. Itu membuat Restu merasa sangat senang.


Banyak yang menyapa Aleesa. Aleesa hanya tersenyum dengan langkah tertatih. Restu pun selalu ada di samping Aleesa menggandengnya.


"Mau minum?" Aleesa mengangguk. Restu menjadi suami siaga. Dari membukakan botol air mineral hingga mengelap keringat di dahi sang istri.


"Baru jalan lima belas menit aja capek banget," keluh Aleesa. Restu hanya teesnyum sembari mengusap keringat di wajah Aleesa.


"Wajar, Lovely. Kamu 'kan gak sendiri."


Restu benar-benar menjadi suami yang sangat siaga. Dia semakin protect kepada sang istri perihal nutrisi yang dia makan.


"Bie, aku mau makan bubur."


Restu akan menuruti apa yang istrinya mau. Restu memesan apa yang istrinya inginkan. Dia sudah hafal dengan apa


yang diinginkan istrinya. Aleesa hanya tinggal duduk manis saja.


Pesanan yang Aleesa inginkan sudah datang. Bibirnya tersenyum ketika sang suami mengambilnya banyak telur puyuh kesukaaannya.


"Makasih, Bie."


Restu kini hanya bisa menatap sang istri yang sangat lahap memakan bubur. Selama hampir satu tahun menikah Restu baru merasakan betapa bahagianya melakukan hal sederhana. Apalagi, melihat istrinya tersenyum bahagia.


"Mau nambah lagi?"


Aleesa menggeleng dan meminta minuman yang Restu bawa. Air yang Aleesa minum pun air sehat. Itu atas rekomendasi dokter.


Tibanya di rumah, Restu yang sudah membersihkan tubuh dan berganti pakaian turun ke dapur. Dia membuatkan jus untuk Aleesa. Semua makanan yang akan dimakan oleh Aleesa dia sendiri yang menyiapkan.


"Biar Bubu saja." Echa masuk ke dapur dan melihat sang menantu tengah sibuk membuat jus dan makanan.


"Gak usah, Bu. Aku gak keberatan kok."


Senyum bahagia terukir di wajah Echa. Dia memiliki menantu yang luar biasa, seperti Restu. Menjadikan Aleesa di dalam rumah tangga..


"Tuhan, jika aku boleh memohon ... berilah suami seperti Restu kepada kedua anakku yang lain. Suami yang Soleh dan menyayangi putri-pitriku dengan tulus."


Di dalam kamar, Aleesa merasakan sakit di perutnya. Dia mulai meringis dan mengusap lembut perutnya yang semakin ke bawah.


"Nak, jangan nakal, ya."


Seketika sakitnya menghilang dan Aleesa dapat bernapas lega. Namun, gak berselang lama sakit itu kembali hadir dan lebih sakit dari sebelumnya.


"Bie!"


Aleesa sudah memanggil Restu.


"Bie!"


Sakit di perut Aleesa sudah semakin menjadi. Dia sudah tidak tahan.


"Bie!".


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2