
Sepasang anak manusia tengah disidang oleh kedua orang tuanya siapa lagi jika bukan Restu dan juga Aleesa. Rindra dan Nesha sudah menatap tajam ke arah sepasang tunangan tersebut. Begitu juga dengan Radit dan juga Echa mereka menatap tajam ke arah putrinya dan juga anak angkat dari sang kakak..
"Kenapa kalian kompak merahasiakan ini semua?" Pertanyaan yang begitu serius yang keluar dari mulut Rindra Addhitama. Aleesa melirik ke arah tulangannya yang nampak biasa saja.
"Ini sudah biasa 'kan," jawabnya. Namun, jawaban dari Restu membuat Rindra naik pitam.
"Apa tidak ada jawaban lain?" Pertanyaan yang begitu tajam. Sergahan Yang begitu menohok. Sedangkan Restu hanya menghembuskan nafas kasar. Dia menatap ke arah ayahnya begitu dalam.
"Aku diam karena aku tahu suatu saat nanti semuanya akan terbuka dengan sendirinya," jawab Restu tanpa ragu.
"Tapi kamu berhak untuk bicara, Nak." Nesha sudah membuka suara. Respon Restu hanya tersenyum seraya menggeleng pelan.
"Aku bukanlah orang yang kejam, Pih. Aku hanya orang baru sedangkan kalian sudaa berada dalam satu keluarga sedari lama. Apakah kalian akan mempercayai apa yang aku ucapkan? Kemungkinan besar tidak. Jadi, sengaja aku tahan. Aku kuatkan karena aku yakin semuanya akan terbongkar atas seijin Tuhan." Nesha terenyuh mendengar ucapan Restu kali ini.
"Apa ini salah satu alasan kenapa kamu terlihat menyimpan dendam kepada Kalfa?" Rindra masih mencoba mengorek apa yang terjadi dengan Sang putra. Restu malah tertawa.
"Dendamku kepada Kalfa karena aku pernah direndahkan oleh seorang anak yang statusnya sama seperti aku. Hanya anak angkat. Ketika aku butuh bantuan, wajahku malah dilempar dengan Uang di depan teman-teman. Apakah aku harus diam?" Rindra terkejut. Begitu juga dengan Nesha. Raditi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia melihat bagaimana mimik wajah Restu ketika menjelaskan semuanya. Aleesa pun nampak terkejut dia tidak tahu masalah ini.
"Kenapa kamu tidak bilang?" Lagi-lagi sangat ayah bertanya seperti itu. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran sang putra.
__ADS_1
"Tidak, Pih. Aku bukan anak yang suka bersembunyi dibalik ketek ayahku. Apalagi ayahku adalah orang besar. Aku tidak ingin memanfaatkan keadaan ini. Aku ingin menjadi anak yang mandiri anak yang berdiri di atas kakiku sendiri. Aku akan mengulurkan tanganku meminta bantuan kepada kalian ketika aku memang membutuhkannya, tapi ketika aku masih bisa melakukannya sendiri aku tidak akan pernah menyusahkan kalian. Aku juga sadar siapa aku. Aku bukan Rio." Nesha menggeleng pelan. Restu selalu saja berkata seperti itu.
"Setelah apa yang dilakukan Kalfa, tuidak mungkin kamu tidak tinggal diam 'kan?" Restu tertawa. Dia memejamkan matanya sejenak mengingat kejadian pada waktu itu. Kejadian yang sangat begitu cepat. Emosinya sudah tidak terkontrol.
"Tentu saja tidak, Pih. Aku memukul wajahnya hingga hidungnya mengeluarkan darah." Bukannya merasa bersalah dia malah tertawa jika mengingat kejadian itu.
"Bagaimana dengan Kalfa?"
"Papih masih ingat gak ketika aku diskorsing tiga hari, dan aku mengaku jika aku melakukan tawuran. Padahal, aku telah menonjok Kalfa. Papih ingat itu kan? Dan aku berbohong kepada Papih dan Mamih jika aku sudah dihantam oleh anak dari sekolah lain ketika sudut bibirku robek. Padahal itu tindakan dari ayahnya Kalfa." Mata Rindra melebar ketika mendengar semuanya.
"Apa sih yang ada di pikiran kamu, Nak?" Nesha tidak habis pikir dengan pola pikir Restu. Selalu menyembunyikan kesakitannya seorang diri. Selalu menyembunyikan apa yang dia rasakan sendiri.
"Kamu anggap apa Mamih? Kamu anggap ap Papih dan Rio?" Suara Nesha bergetar. Restu turun dari sofa dan berjalan dengan menggunakan lututnya menuju sang ibu. Dia menggenggam tangan Nesha dengan begitu erat. Menatapnya dengan begitu lekat.
Ungkapan hati terdalam dari seorang Restu Ranendra membuat Nesha dan Rendra tak kuasa menahan haru. Mereka merasa betapa tulusnya ungkapan hati seorang Restu yang selama ini tak pernah mengungkapkan isi hatinya kepada mereka berdua. Orang tua angkat yang sudah mengurusnya selama delapan belas tahun. Restu menunduk dalam di pangkuan sang ibu seperti orang yang tengah sungkeman untuk meminta restu.
"Maafkan aku, Pih. Kalau selama ini aku banyak berbohong sama kalian. Aku selalu membuat kalian stress. Aku hanya membuat kalian sedih. Maafkan Aku, tapi aku janji aku akan selalu membuat kalian bahagia. Apapun yang kalian minta pasti akan aku turuti selagi aku mampu. Aku akan selalu ada untuk kalian sama seperti kalian yang selalu ada untuk aku. Walaupun aku bukan anak kandung kalian. Terima kasih atas segala kasih sayang dan cinta yang kalian berikan. I love you Mamih. I love you Papih."
Aleesa ikut menangis melihat keharuan yang terjadi. Banyak hal yang dia tidak tahu perihal tunangannya. Ternyata Restu tidak sekuat yang dia kira. Hanya perawakannya saja yang besar, tetap saja hatinya lemah. Dia hanya berpura-pura kuat agar semua orang tidak tahu bagaimana sedihnya menjadi dirinya.
__ADS_1
"Papi boleh minta satu hal sama kamu?" Restu menjawab dengan angkutan yang mantap..
"Apapun aku akan mewujudkan keinginan Papih." Begitu yakin Restu dengan ucapannya.
"Bekerjalah di perusahaan Papih. Biarkanlah sahammu tetap mengalir di sana karena Papih tidak mau kamu jauh dari Papih. Papih ingin kita terus bersama. Papih, Mamih, kamu, Rio dan juga istri-istri kakain serta cucu-cucu Papih dan Mamih kalian. Hanya kalian harta yang paling berharga yang Papih dan Mamih miliki di dunia ini."
Restu tidak bisa berkata mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya. Pria itu begitu tulus menyayanginya. Di balik kesangaran yang wajahnya tunjukkan, ada kasih sayang yang hanya dia berikan kepada seorang Restu dan Rio. Restu tidak mungkin bisa membalas semua kasih sayang yang ayahnya berikan kepadanya dengan apapun. Kasih sayang yang mengalir dengan begitu deras dan tak pernah berhenti untuk dirinya dan juga sang adik.
"Iya, Pih. Besok aku mulai kerja di tempat papi," jawabnya. "Tapi, aku tidak ingin Papih langsung mengangkatku menjadi karyawan dengan jabatan tinggi di sana. Perlakukan aku sebagaimana papi memperlakukan karyawan baru. Aku butuh ilmu Bukan butuh uang. Ketika aku berilmu uang pasti akan turut menyertaiku."
"Gaji karyawan magang kecil. Untuk membeli skincare istri kamu saja pasti tidak cukup." Aleesa pun tertawa mendengar sindiran sang paman yang lucu.
"Enggak apa-apa uncle Papih. Nanti Sasa beli skincare yang murah aja." Keharuan pun berubah menjadi tawa kebahagiaan.
Kehadiran Restu memang membawa dampak yang sangat berarti untuk Rindra dan juga keluarganya. Mengubah hubungannya dengan sang istri. Di mana Rindra memang bukanlah orang yang baik. Bukan orang yang suci, tapi dengan hadirnya Restu dia menjadi pria yang benar-benar bertanggung jawab, pria yang begitu tegas yang mampu mengayomi anak-anaknya dan juga melindungi keluarganya. Restu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan kepada mereka berdua.
Selamanya Restu akan menjadi anak mereka. Rindra tidak peduli bagaimana latar belakang keluarga Restu. Rindra pun tidak peduli bagaimana masa lalu Restu, yang dia pedulikan sekarang adalah bagaimana didikannya berhasil dan menjadikan Restu menjadi emas yang berharga..
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...
.