RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 91. Semut-senut kecil


__ADS_3

Sebuah laporan yang membuat seorang dokter mengutus orang suruhannya untuk memberikan pertolongan pertama. Dia sangat yakin pertolongan itu akan membuat Restu cepat sadar dan pulih.


"Tetap waspada dan jangan biarkan orang lain curiga." Sebuah perintah yang dijawab anggukan oleh Gemke.


Rencana dokter Kaira sudah diketahui oleh dokter Rocki. Walaupun dia tidak bisa masuk ke dalam rumah sakit ataupun rumah madam Zenith, tapi dia memiliki semut-semut nakal yang akan membantunya.


"Pangeran tidur." Dokter Rocki hanya tersenyum. Ternyata apa yang dituliskan gadis tuna wicara itu benar. Dokter Rocki harus berterima kasih kepadanya. Gadis itu juga memberi tahukan di mana letak obat yang akan diberikan dokter Kaira kepada Restu.


"Siapa sebenarnya gadis itu?"


Namun, dokter Rocki harus fokus pada obat yang pastinya sangat membahayakan itu. Penjagaan di rumah besar sangatlah ketat, semut-semut kecil pun sedikit kesulitan untuk masuk.


"Cari celah dengan aman. Ambil satu dari obat tersebut dan saya ingin tahu apa saja kandungan di dalamnya."


Dokter Rocki menghubungi Rindra kembali. Kali ini Rindra sudah ada di rumah. Nesha tak henti menangis, begitu juga dengan Aleesa. Dia tidak menangis, tapi pandangannya begitu kosong.


"Iya, Dok." Radit yang menjawab. Sambungan telepon Radit ubah menjadi sambungan video. Dokter Rocki menghela napas kasar. Dia sangat tahu bagaimana kedua orang tua angkat Restu menyayangi Restu.


"Tenanglah! Saya akan berusaha semampu saya." Dokter Rocki mencoba untuk meyakinkan Rindra dan Nesha yang terlihat sangat terpukul.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?" Dokter Rocki tidak pernah melihat Rindra serapuh ini.


"Dia sudah bisa menangis." Wajah Rindra dan Nesha pun sedikit berubah. Begitu juga Aleesa.


"Bolehkah Sasa lihat, Om?" Dokter Rocki tersenyum ketika melihat kekasih Restu tersebut. "Sasa ingin tahu keadaan Kak Restu, Om. Sasa mohon." Dada dokter Rocki terasa sangat sakit ketika melihat Aleesa menangis.


"Akhirnya kamu bertemu dengan orang-orang yang tulus mencintai kamu, Restu. Apapun akan saya lakukan agar kamu bisa bersama mereka. Saya janji."


"Om--"


"Tidak sekarang, ya. Masuk ke ruangan itupun cukup sulit. Bersabar dulu, ya."


Dokter Rocki mengirim pesan kepada putra dari Rindra karena dia tidak ingin melihat semua orang panik di tengah keadaan Restu yang ada perubahan sedikit demi sedikit.


Rio mengerutkan dahi ketika membaca pesan tersebut. Namun, dia tahu dokter Kaira ikut dalam aksi ini.


"Kenapa dia bisa ke sana dan mengenal madam Zenith?" Rio tengah menerka-nerka di dalam hati. "Apa dia dendam karena Restu telah acuh padanya?"


Rio segera mengirimkan pesan tersebut kepada orang kepercayaan sang ayah. Mereka bilang secepatnya akan mengirimkan hasilnya. Rio hanya mengangguk. Doa berpesan juga jika ayahnya jangan sampai tahu akan hal ini. Ketika dalam keadaan terpuruk seperti ini ayahnya akan bisa bertindak gegabah.

__ADS_1


.


Ketiga Om Aleesa sudah berada di rumahnya. Aleesa memeluk tubuh Aksa dengan begitu erat.


"Sasa mohon, Uncle. Sasa tahu Uncle bisa melakukan apapun untuk keselamatan Kak Restu." Aleesa sudah merengek bagai anak kecil. Aksa ingin membantu, tapi dia masih dilarang oleh Radit dan Rindra. Bukan tanpa alasan, ini menyangkut keselamatan Restu.


"Sabar ya, Sa. Kita gak boleh gegabah."


Iyan, dia seperti melihat Restu didampingi oleh seorang gadis seusianya. Memakai dress putih dengan rambut digerai. Dia melihat jika gadis itu selalu melindungi Restu dari tangan jahat.


Gemke akan disuruh keluar oleh perawat ketika akan memeriksa Restu. Itu membuat Gemke murka dan marah, tapi sang madam langsung menghubunginya dan menyuruhnya untuk mengikuti prosedur yang ada. Janggal itulah yang Gemke rasakan. Hatinya benar-benar takut. Walaupun anak buah dokter Rocki sudah mengatakan bahwa progress Restu bagus, tetap saja itu tidak membuat lega. Apalagi, ketika perawat suruhan dokter Kaira datang.


"Tuhan, jaga Mr. R."


Iyan melihat seorang perawat akan menyuntikkan obat ke dalam infusan Restu. Gerak-geriknya sangat mencurigakan. Ketika obat sudah masuk ke dalam suntikan, dan hendak dia masukkan ke dalam infusan, tangan gadis itu memukul lengan sang perawat hingga suntikan itu terjatuh. Ketika dia hendak mengambilnya tubuhnya didorong hingga suntikan itu tertekan dan isinya keluar.


"Bagaimana ini?" Tidak ada cairan obat yang tersisa dari injeksi tersebut.


"*Siapa gadis itu?"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen atuh*


__ADS_2