RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 155. Menangis Dengan Bibir Melengkungkan Senyum


__ADS_3

"Jangan! Jangan pergi Mimo!"


Kedatangan dokter dengan langkah lebar membuat Aleesa menyingkir dari sana. Dia bingung, apakah dia harus masuk?


"Masuklah, Sa."


Suara sang engkong terdengar. Dia tersenyum. Dia menarik tangan Aleesa masuk ke dalam ruangan. Langkah pelannya dengan mata yang nanar membuat Radit menoleh. Sang ayah menghampiri Aleesa dan merangkul pundak putri keduanya. Sorot mata Radit seakan menanyakan hal ini. Aleesa pun mengangguk.


Namun, pandangannya kini tertuju pada sang nenek. Ayanda menggenggam erat tangan Gio, tapi tubuhnya dipeluk oleh Echa. Tatapan kosong sang nenek perlihatkan. Aksa benar-benar cemas dan wajahnya terlihat menahan tangis.


Segala cara telah dokter lakukan. Namun, kuasa Tuhan lebih besar dan akhirnya dokter pun menyerah. Suara tangis pun pecah. Para cucu Gio yang tengah terlelap pun terbangun dan mereka ikut menangis karena sang pipo dinyatakan meninggal dunia.


"Pipo masih hidup!" Ghea berteriak.


"Pipo cuma tidur, Bunda. Sebentar lagi juga Pipo akan bangun. Percaya sama Aqis."


Mereka menolak menerima kenyataan yang sudah Tuhan tentukan. Aksa, dia hanya terdiam sembari menatap mereka yang menangisi tubuh yang terbaring di sana. Tubuh yang setiap detik semakin mengeras karena sudah tidak lagi bernapas.


Mencoba untuk terus berdiri tegap. Padahal semua tulang Aksa patah. Mencoba untuk tidak menangis padahal hatinya sangat amat teriris.


Aksa menghampiri sang ibu. Dia memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat. "Mommy tidak sendiri. Masih ada Abang yang akan menggantikan Daddy."


Pura-pura tegar dalam keadaan hancur berantakan. Dia teringat akan pesan sang ayah yang belum setengah jam diucapkan. Aksa bingung melihat sang ibu hanya menatap lekat jasad sang ayah yang belum ditutup selimut putih.


"Mom--"


"Jangan menangis, Bang. Ingatlah pesan Daddy." Suara Ayanda begitu lirih dengan tatapan yang begitu kosong.


"Jangan tangisi kepergian orang tuamu. Sesungguhnya mereka akan tetap selalu ada di hati kalian dan tak akan pergi dari sana sampai kapanpun."


Aksa mengira ibunya sangat tegar menghadapi cobaan ini. Setidaknya ada alasan untuk dirinya kuat di saat kakak dan adiknya menangisi kepergian ayahnya. Pria yang sangat banyak mengajarkan ilmu kehidupan pada mereka bertiga. Tibalah sudah jasad ayahanda ditutup selimut dan akan dibawa ke ruang jenazah. Tangis semakin pecah dari mereka semua.


"Bapak silahkan urus semuanya dulu dan almarhum akan kami bawa ke ruang jenazah." Aksa mengangguk. Baru saja para perawat mendorong bed berisi jasad Giondra, tubuh Ayanda limbung seketika dan membuat semua orang berteriak.


"Jangan bawa Mimo juga!" Teriakan spontan Aleesa membuat semua orang menatap ke arah Aleesa. Air mata mengalir deras di wajah Aleesa. Tubuhnya luruh ke lantai dan kepalanya menunduk dalam.

__ADS_1


Kedua saudaranya juga Agha menghampiri Aleesa dan memeluk tubuh Aleesa. Namun, pelukan itu tak membuat air matanya surut.


"Ulurlah waktunya," ucap lirih Aleesa.


Radit segera mengecek denyut nadi sang ibu mertua yang sudah Aksa gendong. Kali ini, tubuhnya menegang dengan hebat.


"Gimana, Ndit?" Aksa sudah cemas.


"Kita bawa ke ruang emergency."


Aksa menggendong tubuh sang ibu dengan berlari. Tak terasa bulir bening menetes begitu saja ketika melihat wajah ibunya yang pucat dan mata yang terpejam dengan begitu rapat.


"Apapun akan Abang lakukan untuk membahagiakan Mommy."


Di ruang Emergency, Radit sudah bersandar di dinding dengan mata yang terpejam. Echa sudah menghampiri suaminya dengan air mata yang belum surut.


"Ba--"


Radit memeluk tubuh Echa. Dia tak bisa menjelaskan apapun karena ini pasti akan membuat istrinya sangat sedih dan terluka.


Belum juga menjawab, dokter sudah keluar dari ruangan. Mereka bergegas menghampiri dengan hati yang tak kalah bergemuruh hebat.


"Maaf." Sebuah kata yang mereka sudah tahu akan berakhir ke mana.


"Tolong cek kembali, Dok. Anda pasti salah. Ibu saya hanya syok dan kelelahan." Aksa berikukuh menyuruh dokter memeriksa ulang. Namun, sang dokter menggelengkan kepala.


"Ibu Anda sudah meninggal."


Hati ketiga anak Gio dan Ayanda hancur berantakan. Tubuh Aska sudah luruh ke lantai dan Echa sudah tak sadarkan diri. Siapa yang sanggup menerima kabar duka dalam waktu yang sangat berdekatan. Meninggalnya ayah dan ibu dari mereka dalam waktu yang hampir bersamaan.


Aksa, dia hanya bersandar di dinding dengan tatapan yang begitu kosong. Dia sudah kehilangan arah. Tubuhnya sudah sangat lemah dan pikirannya sudah tak tentu arah. Riana memeluk tubuh Aksa yang membeku bagai patung bernapas. Helaan napas yang begitu dalam dan berat menandakan terlalu berat beban yang hari ini harus dia pikul. Betapa rencana Tuhan sangat mengejutkan hingga membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


"Dad," panggil Riana.


"Kalau Daddy rapuh, siapa yang akan menguatkan mereka?" Suara yang begitu dalam dan penuh dengan paksaan. Benar kata ayahnya, pundaknya harus kuat untuk Kakak dan adiknya.

__ADS_1


Aksa memeluk tubuh Aska yang menangis bagai anak kecil di lantai. Istrinya pun tidak bisa menenangkan Aska.


"Bang, Daddy ... Mommy...."


Aksa mengusap lembut punggung Aska. Bukan hanya adiknya yang terpukul, dia sendiri pun ikut terpukul dengan kepergian dua orang yang sangat berarti untuknya.


"Ke mana kita harus mengadu? Ke mana lagi kita harus bermanja?" Hati Aksa sangat sakit ketika mendengar suara yang begitu lirih dan berat. Suara yang sedikit lagi akan serak.


"Semuanya akan baik-baik saja, Dek. Hanya tubuh Mommy dan Daddy yang pergi, tidak dengan cinta mereka yang akan selalu hidup di hati kita. Mereka tidak meninggalkan kita, mereka hanya tak akan menampakkan wujudnya kepada kita. Kasih sayang dan cintanya akan selalu tercurah untuk kita. Percaya sama Abang."


Akting Aksa sangatlah bagus. Dia sangat menjiwai perannya menjadi manusia pura-pura kuat dan tegar. Aksa pun menyuruh Aska untuk berdiri.


"Kalau kamu rapuh, kaki Abang akan pincang sebelah. Kita harus menjaga Kakak."


Walaupun Echa dengan si kembar Aksa dan Aska beda ayah, tapi kasih sayang mereka sangat kentara. Kedua adiknya sangat menyayangi Echa.


"Kita laki-laki harus kuat dan menjadi kaki untuk Kak Echa berdiri."


Riana menatap sedih ke arah sang suami yang terus mencoba untuk tegar. Menyemangati dua saudaranya padahal dia sendiri tengah hancur berkeping-keping.


Aksa terus berbicara lembut kepada Echa yang memang masih dirundung duka. Belum juga tiga tahun kepergian sang ayah, kini dia dihadapkan oleh kepergian sang ibu juga ayah sambung rasa ayah kandung. Itu sangat menyakitkan untuk Echa. Itu sangat membuat dunia Echa hancur.


Saling menguatkan sudah mereka lakukan. Sekarang, mereka berdiri di depan dua jenazah yang sangat mereka sayangi. Echa sudah menunduk dalam dan Aska menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tak terjatuh.


Sedangkan Aksa, dia sudah meletakkan kedua tangannya tepat di bawah perut. Dia menatap dalam wajah pucat kedua orang tuanya yang ditakdirkan menjadi cinta sejati dari dunia hingga ke surga.


"Mommy, Daddy ... sebenarnya pundak Abang tak sanggup menahan beban yang begitu berat ini. Beban yang tak tahu sampai kapan harus Abang bawa sendirian. Beban yang mengharuskan Abang menjadi pembohong besar. Di mana air mata yang harusnya menetes harus Abang tahan agar Abang terlihat kuat dan baik-baik saja padahal Abang sudah tidak tahan. Abang ingin menjerit kencang. Abang ingin menangis sambil memeluk tubuh Mommy dan Daddy untuk terakhir kalinya. Jujur, Abang sangat rapih dan hancur. Abang seperti orang yang kehilangan arah tanpa kalian. Abang ingin menangis, Mom. Abang ingin menjerit, Dad. Kenapa Tuhan mengambil kalian berdua dalam waktu yang berdekatan? Kenapa Tuhan tak mengijinkan Abang untuk membahagiakan kalian lebih lama lagi? Kenapa? Dunia Abang telah hancur. Masih sanggupkah Abang berdiri tegak tanpa kalian di belakang Abang? Masih sangupkah ...."


Pertahanan Aksa pun roboh. Air mata membanjiri wajah tampannya yang kini sangat sendu. Menangis dengan bibir yang melengkungkan senyum.


"Maafkan Abang, Mom, Dad."


...***To Be Continue***...


Komen atuh ih ...

__ADS_1


__ADS_2