RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 27. Alasan Kuat


__ADS_3

Di lain negara, Restu Ranendra terus memandangi wajah Aleesa Addhitama. Sedari tadi matanya enggan terpejam. Dia takut terjadi apa-apa dengan Aleesa. Walaupun ayah dari Aleesa sudah mengatakan Aleesa tidak akan kenapa-kenapa. Tetap saja, hati Restu terus dilanda kegelisahan juga kekhawatiran.


Tangannya masih menggenggam erat tangan Aleesa. Dia pun masih betah memandangi wajah Aleesa yang masih terlihat sembab.


"Kamu sakit apa sih, Sa?" Nada dengan penuh kecemasan.


Restu mengambil obat yang tadi Aleesa minum. Dia mulai mencari tahu dan duduk di depan laptop. Dahinya mengkerut ketika apa yang mesin pencari katakan.


"Enggak, gak mungkin." Restu menggelengkan kepalanya pelan.


Dia segera meraih ponselnya. Menghubungi nomor dokter yang biasa menanganinya jika dia terluka. Juga yang selalu rutin mengecek kesehatannya. Restu mendengarkan dengan serius. Apa yang dikatakan oleh dokter sama dengan yang ditunjukkan mesin pencari. Restu menatap sendu ke arah Aleesa yang terlelap dengan begitu damai karena pengaruh obat. Restu masuk ke kamar mandi dan dia pun mengerang sekuat tenaga. Dia mengacak-acak rambutnya dan melihat dirinya dari pantulan cermin.


"Kenapa kalian gak bilang dari awal?" Urat-urat kemarahannya muncul. Malam ini juga Restu harus menyelesaikannya.


Restu sudah menunggu keluarga Aleesa di unit apartment yang dia huni. Dia masih berada di samping Aleesa hingga suara bel terdengar.


"Mana Aleesa." Wajah cemas dari wanita yang melahirkan Aleesa nampak begitu jelas. Echa menerobos masuk dan segera melihat sang putri. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Echa hanya menitikan air mata tanpa bersuara.


"Bu," panggil sang suami. Echa pun pergi dari sana dan ikut duduk bersama suaminya.


Bukan hanya Echa dan Radit yang datang, Rindra, Nesha dan Rio pun sudah ada di sana. Wajah Restu sudah sangat serius. Dia pun menyerahkan obat yang Aleesa konsumsi kepada Radit.

__ADS_1


"Jelaskan, Om! Kenapa Aleesa mengkonsumsi obat jantung." Ingin rasanya Restu berteriak, tapi dia tidak ingin membuat Aleesa terbangun.


Semua orang yang ada di sana hanya saling tatap. Termasuk Rio.


"Kenapa lu gak bilang?" Wajah Restu sudah sangat murka kepada Rio. Menatapnya penuh emosi.


"Sabar dulu, Nak." Nesha sudah menenangkan anak angkatnya itu. "Dengar penjelasan Om Radit dulu."


Radit tersenyum ke arah Restu yang nampak menunggu penjelasan darinya.


"Putri kedua saya memang menderita Aritmia dari kecil." Restu benar-benar terkejut mendengarnya.


"Ketika Aleesa berusia dua tahunan, dia pernah sangat drop sekali dan dinyatakan meninggal oleh dokter." Restu membeku, hatinya teramat sakit ketika mendengar penjelasan dari ayah Aleesa.


"Dinyatakan sembuh total oleh dokter ternyata tidak seratus persen sembuh. Setelah lulus SMA Aritmia yang Aleesa derita mulai sering hadir. Inilah alasan kenapa saya membawa Aleesa ke Swiss. Saya tengah menjalankan serangkaian pengobatan untuk kesembuhan Aleesa."


"Kenapa Om gak bilang dari awal? Aku kenal Om, kenal Aleesa udah lama. Kenapa kalian tidak memberitahuku?"


"Kami semua tidak ingin melihat Aleesa dikasihani. Kami ingin Aleesa tumbuh seperti anak pada umumnya. Cukup keluarga saja yang tahu perihal sakitnya Aleesa." Rindra lah yang menjelaskan.


Ini semua memang keputusan dari tiga keluarga, Wiguna, Addhitama dan Rion Juanda. Mereka terus menutup mulut agar Aleesa bisa tumbuh dengan semestinya. Teman-teman Aleesa pun tidak ada yang tahu, keculai Yansen.

__ADS_1


Restu pun kini membisu. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia melihat jelas ketika Aritmia Aleesa kambuh. Perempuan yang sudah tahu akan perasaannya itu sangat kesulitan bernapas.


"Sekarang, semuanya saya kembalikan kepada kamu." Kini, tubuh Restu yang menegang.


"Putri saya memiliki kekurangan. Putri saya tidak sesehat wanita lain. Jika, kamu tidak mau menerima kekurangan Aleesa, akan saya tarik putri saya karena saya tidak ingin putri saya terluka untuk kedua kalinya. Luka pertamanya saja belum sembuh."


Restu terdiam. Rindra dan Nesha tidak akan memaksa. Begitu juga dengan Rio. Mereka ingin Aleesa mendapat pria yang memang benar-benar tulus mencintainya.


"Saya tidak mau ke depannya anak saya menjadi beban untuk kamu."


Suasana pun mendadak hening. Hanya suara jarum jam dinding yang berdetak yang terdengar.


"Aku tidak akan melepaskan Aleesa, Om," jawab tegas Restu. "Sejatinya, manusia itu tidak ada yang sempurna."


Nesha tersenyum ke arah sang putra angkat. Dia merasa sangat bangga kepada Restu.


"Mendengar sakit Aleesa membuat aku semakin tidak ingin jauh dari Aleesa. Aku ingin menjaganya, aku ingin tetap berada di sampingnya. Bukan karena iba karena aku memang cinta." Rindra tersenyum mendengar penuturan Restu.


"Aleesa adalah alasan terkuatku untuk tetap hidup. Aku ingin Aleesa juga menjadikanku alasan yang kuat untuknya tetap sehat dan sembuh karena aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


Maaf ya, UP-nya tengah malam.


__ADS_2