RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 51. Kesal


__ADS_3

"Abis ngapain lu?" sergah Rio ketika Restu masuk ke kamarnya dengan basah kuyup. Hanya memakai kemeja putih dan celana hitam panjang. Jasnya sudah dia sampirkan. Tampang Rio sudah sangat garang. "Jangan bilang kalau lu abis test Drive."


Restu menggeplak kepala Rio. Dia menatap lebih tajam ke arah sepupu Aleesa.


"Gua gak sebejat itu!" Geram, itulah yang kini dirasakan Restu.


"Apa cuma icip-icip?" Rio masih melayangkan pertanyaan.


"Ya, gua icip-icip bibir Aleesa. PUAS!"


Decakan terdengar, Rio dan Restu pun menoleh. Ternyata Rindra sudah ada di sana.


"Mampoes!" bisik Rio kepada Restu.


Rindra melangkahkan kaki menuju Restu. Tatapannya sudah sangat tajam.


"Berengsek juga ternyata." Bogem mentah Rindra layangkan ke wajah Restu. Restu sama sekali tidak menghindar. Terasa sudut bibirnya panas dan ada darah di sana.


Rio terkejut dengan tindakan sang ayah. Dia benar-benar tidak menyangka jika ayahnya akan setega itu pada Restu. Kali ini, ayahnya sudah mencengkeram dagu Restu.


"Jangan pernah lepasin dia dan segera halalin dia." Rio tercengang. Sedangkan Restu tersenyum senang.


"Pasti itu, Pih."


Rio menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti jalan pikiran ayahnya. Dia anak kandung sang ayah, tapi kelakuan ayahnya sama percis dengan Restu.


"Papih tunggu kamu di bawah." Restu pun mengangguk. Namun, dia menuju kamar Aleesa terlebih dahulu.


Aleesa tengah terduduk dan sudah berganti pakaian. Restu tersenyum ke arahnya dan mode manja Aleesa tengah on. Tangannya sudah direntangkan dan membuat Restu tertawa.


"Tidur, ya." Restu memeluk tubuh Aleesa dan mulai mengusap lembut rambut sang kekasih. Aroma tubuh Restu juga pelukan Restu selalu membuat Aleesa nyaman dan terlelap dengan begitu mudahnya.


"Aku pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuh kamu walaupun sedikit. Jika, itu terjadi aku akan membunuhnya." Restu bergumam dengan begitu pelan. Kemudian, dia meninggalakan Aleesa dengan penjagaan yang ketat di luar.


Rindra sudah menyesap rokok di ruang tamu. Restu datang dan duduk di depan ayah angkatnya.


"Rokok? Wine?" tawar Rindra.


Restu mengambil rokok. Wine, dia memang suka minum, tapi rokok adalah sahabat sejatinya yang mampu menenangkan hati dan pikirannya.


"Apa rencana kamu?" Rindra sudah membuang asap rokok ke udara.


"Sebaiknya Papih dan Om Radit kembali ke Indonesia." Itulah kalimat yang keluar dari mulut Restu. Wajahnya pun nampak serius.


"Di sini mulai membahayakan Aleesa." Mimik wajahnya kini berubah menjadi cemas.


"Di Indonesia aku yakin semuanya akan menjaga Aleesa. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekalinya keluarga Wiguna menjentikkan jari, dia akan hancur."


"Apa kamu akan kembali ke sana?" Restu menyesap rokoknya dalam-dalam. Kemudian, membuang asapnya ke udara.

__ADS_1


"Tugasku di sini belum selesai, Pih." Rindra menghela napas kasar.


"Apa kamu tidak takut Aleesa dekat lagi dengan pacarnya itu?" Rindra mulai memancing.


"Aku percaya pada hati Aleesa. Tiga per empat dari hatinya untuk aku. Seperempat lagi untuk dia yang sebentar lagi akan Aleesa lupakan. dan namaku lah yang memenuhi harinya." Rindra tertawa mendengarnya. Restu sungguh percaya diri sekali.


Keesokan paginya, Aleesa baru saja terbangun. Dia mencari sosok Restu, tapi tidak ada. Dia mengecek ponselnya, tidak ada pesan maupun panggilan dari sang kekasih.


"Kebiasaan!" omel Aleesa.


Setelah segar Aleesa turun ke lantai bawah. Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga termasuk Rio.


"Sa, kemasi barang-barang kamu. Siang nanti kita kembali ke Jakarta." Terkejut, sudah pasti. Dia pun nampak kebingungan.


"Semua pekerjaan Baba, Bubu juga Uncle Papih sudah selesai semua. Sekarang, kami ditunggu pekerjaan yang ada di Jakarta."


Mendengar penjelasan sang ayah membuat hati Aleesa merasa sedih. Inginnya dia menghabiskan waktu esok bersama Restu sebelum kembali ke Jakarta.


"Apa perlu Bubu bantu?" Aleesa menggeleng. Terlihat jelas wajah sendunya.


"Sasa beresin barang dulu, ya."


"Sarapan dulu, Sa." Nesha sudah membuka suara.


"Nanti aja, Aunty Mamih." Aleesa pun pergi dengan langkah gontai.


Aleesa hanya terduduk di tepian tempat tidur dengan ponsel di tangan. Pria yang semalam menciumnya dengan puas kini tak ada kabar.


Selama membereskan barang bawaan, Aleesa berharap Restu datang dan memeluknya dari samping. Namun, sampai Aleesa selesai merapihkan barang-barangnya Restu tidak muncul.


"Kamu ke mana?"


Aleesa mulai mengirimkan pesan dan mengatakan bahwa dia akan kembali ke Jakarta. Namun, pesan itu bekum dibaca juga belum dibalas oleh Restu. Padahal sudah satu setengah jam berlalu.


Tiba sudah waktunya mereka berangkat. Rasa kecewa mulai hadir di hati Aleesa karena orang yang dia cintai sama sekali tak merespon.


"Serahlah!!" Dia geram sendiri dan mulai menyeret koper ke lantai bawah.


"Ada yang tertinggal gak, Sa?" Aleesa menggeleng. Wajahnya nampak muram.


"Mobil yang akan membawa kamu sudah di depan. Kamu berangkat duluan ke Bandara. Baba, Bubu, Uncle Papih dan Aunty Mamih sama Rio ada di mobil belakang." Aleesa hanya mengangguk.


Radit membantu putrinya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Bukan hanya koper Aleesa, koper Rio pun ikut berada di sana.


"Kita bertemu di tempat makan, ya." Aleesa mengangguk.


"Entu sopir tahu kok di restoran mana." Rio mulai menimpali. Dia juga berucap dengan sangat keras dan mampu membuat manusia yang berada di balik kemudi berdecak kesal.


Radit sudah membukakan pintu mobil belakang. Menyuruh Aleesa untuk masuk.

__ADS_1


"Pak sopir, jangan ngebut-ngebut. Bawa anak perawan soalnya." Radit hanya tertawa mendengar celotehan Rio.


"Baba gak akan lama 'kan?"


"Enggak, Sayang. Mobil yang jemput Baba dan Uncle Papih nanti juga sampai." Aleesa hanya mengangguk.


Setelah pintu mobil ditutup, Aleesa menghembuskan napas kasar. Dia mencoba mengecek ponsel dan sungguh sepi seperti pemakaman China.


"Mau jalan sekarang?" Suara seseorang membuat Aleesa menegakkan kepalanya. Seorang pria dari balik kemudi menoleh padanya dengan mengenakan pakaian dinas dan kaca mata hitam.



Tak lama pria itu tersenyum ke arahnya, tapi mendapat tatapan teramat sinis dari Aleesa. Rasa kesal sudah menjalar di hatinya. Tangannya hendak membuka pintu mobil, tapi dengan cekatan pria itu mengunci semuanya.


"Buka!"


"Enggak!"


Restu menghampiri Aleesa di kursi penumpang melalui celah kursi mobil depan dan membuat Aleesa berdecak kesal. Wajah Aleesa sudah ditekuk sedemikian rupa.


"Hei!" Restu mencoba untuk menyentuh Aleesa. Namun, perempuan itu terus menghindar.


"Aku hanya ingin membuat kejutan, Lovely."


"Kamu tuh selalu buat aku kesal!" Mata Aleesa sudah berair mengatakannya dan membuat Restu merasa bersalah. Dia segera memeluk tubuh Aleesa walaupun Aleesa tidak membalasnya.


"Maaf."


Hanya isakan yang terdengar dan membuat hati Restu merasa pedih. Tak ada balasan dari Aleesa membuat Restu mengendurkan pelukannya. Dia menggenggam tangan Aleesa dan menatap wajah perempuan yang dia cintai.


"Jangan nangis, Lovely."


"Kamu jahat, Bie! Jahat! Aku benci kamu!" Aleesa memukul dada Restu. Inilah bentuk rasa kesal Aleesa kepada pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.


Restu sudah meraih tangan Aleesa. Dia menatapnya dengan begitu dalam.


"Bukan hanya kamu yang sedih karena kita akan dipisahkan oleh jarak. Aku juga sedih, Lovely." Aleesa mulai menatap Restu.


"Dua jam ini aku akan mengukir kenangan manis bersama kamu. Membuat kamu terus dekat dengan aku walaupun esok sampai waktu yang belum ditentukan kita akan menjalani hubungan jarak jauh." Tangan Restu sudah mengusap lembut air mata Aleesa. Tangannya pun mulai menyentuh bibir Aleesa. Sorot matanya seakan meminta persetujuan.


Restu sudah mulai mendekatkan wajahnya. Bibir Aleesa menjadi candu untuknya. Terus ingin mengulang walau napas sudah tak beraturan.


Tinggal beberapa mili lagi berpagut, suara dari alat yang terpasang di telinga Restu terdengar.


"Jangan coba icip-icip. Bukan hanya tangan Papih yang akan buat lu bonyok. Uncle Radit dan gua pun akan buat lu berubah menjadi bodyguard buruk rupa."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2