
"Pih, sebelum Restu menikah alangkah baiknya dia meminta ijin dulu kepada ibu kandungnya."
Perkataan Nesha membuat Rindra menatap tajam ke arah sang istri. Rindra tidak suka mendengarnya.
"Sejahat-jahatnya ibu kandung Restu, dia tetap wanita yang sudah melahirkan Restu. Tanpa dia kita tidak akan bisa merawat Restu."
Nesha berkata dengan begitu lembut. Tidak ada yang salah dengan perkataan Nesha. Apa yang dikatakan Nesha pun benar. Hanya saja Rindra sudah sangat benci dengan sikap Zenith Andrea. Iblis yang berkedok ibu kandung.
"Tidak ada mantan antara ibu dan anak, begitu juga ayah dan anak."
.
Mimik wajah Restu sudah sangat berubah ketika mendengar Aleesa berkata perihal ibu kandungnya. Dia malah menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Bie," panggil Aleesa. Dia mengusap lembut pipi Restu.
"Aku udah menganggap dia mati." Ucapan yang begitu ketus yang keluar dari mulut Restu.
"Baik buruknya ibu kamu, dia tetaplah wanita yang sudah melahirkan kamu. Tanpa dia kamu dan aku tidak akan pernah bisa bertemu, Bie." Aleesa menatap lekat wajah Restu.
"Apa kau tidak ingat ketika dia ingin membunuh kamu?" Restu mencoba mengingatkan Aleesa akan kejahatan ibu kandungnya.
"Bukannya aku tidak ingat, tapi aku mencoba untuk memaafkan. Aku mencoba untuk berdamai." Aleesa menangkup wajah Restu yang terlihat sangat badmood.
"Tinggal satu langkah lagi, Bie. Minta ijin kepada ibu kandung kamu supaya pernikahan kita berkah." Aleesa masih berusaha untuk meyakinkan pria di depannya.
"Tanpa ijin dari dia kita masih bisa menikah dan pernikahan kita akan bahagia. Aku sudah menjadi anak Papih Rindra secara hukum."
Aleesa pun tersenyum mendengarnya. Restu tetaplah si kepala batu.
"Ya udah kalau begitu, aku gak mau menikah dengan kamu." Mata Restu melebar dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Aleesa. Wanita yang ada di pangkuannya mulai turun dan itu membuat Restu kelabakan.
"Lovely," panggil Restu sambil menangkap tubuh Aleesa dari belakang sambil memeluk Aleesa.
"Menemui ibu kandung kamu atau kita batal menikah." Pilihan yang diberikan oleh Aleesa sangatlah sulit. Tak ingin Restu memilih keduanya.
"Ya udah, kalau kamu gak bisa jawab. Aku simpulkan kamu ingin membatalkan pernikahan kita."
"Enggak gitu," sahut Restu.
"Lalu?" Aleesa terus mendesak.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Pria keras kepala itupun akhirnya menyerah. Dia tidak ingin ancaman Aleesa jadi kenyataan.
"Ya udah, aku ikutin mau kamu." Aleesa pun tersenyum mendengarnya.
"Tapi, kalau iblis betina itu tidak merestui hubungan kita bagaimana?" Restu sudah membalikkan tubuh Aleesa dan menatapnya lebih dalam.
__ADS_1
"Mau dia merestui atau enggak, aku akan tetap menjadi mempelai wanita di pernikahan kita." Lengkungan senyum terukir di wajah Restu.
"Kapan kita berangkat?" Restu sudah merengkuh pinggang Aleesa.
"Terserah kamu. Aku ikut aja."
Mereka pun mulai mempersiapkan syarat-syarat untuk menikah. Dari mencetak foto dan sebagainya. Sengaja Restu mengajak Aleesa ke sebuah mall. Dia menyuruh Aleesa untuk memilih barang yang dia inginkan untuk dibawa ketika seserahan.
"Emang harus, ya?" tanya Aleesa dengan begitu polos.
"Ya iya atuh. Masa aku dan keluarga datang dengan tangan hampa." Aleesa malah tertawa.
Dari sini Restu mulai tahu benda apa yang biasa Aleesa pakai. Dari skincare hingga pakaian. Ternyata semuanya tidak murah. Untung saja kartu Restu sudah hitam. Dia tidak akan mempernaslahkan tentang harga.
Aleesa sudah mengeluarkan kartu pemberian dari Restu, tapi Restu larang. Dia yang akan membayar semuanya. Namun, dia tidak menggunakan kartu ajaib sekarang. Dia tidak ingin seserahan yang dia berikan kepada Aleesa dibayar kredit.
"Mau ke mana lagi?" Hari ini Restu benar-benar menikmati waktu berdua dan memanjakan Aleesa. Dia pun terus mengikuti ke mana Aleesa mengajaknya. Momen langka dan sangat mahal. Tentu saja tangan Restu tak pernah terlepas dari tangan Aleesa.
Lelah berbelanja untuk seserahan, akhirnya mereka berdua duduk manis di sebuah restoran yang ada di dalam mall.
"Happy?" Restu sudah menatap ke arah Aleesa.
"Banget." Wajah berbinar Aleesa menghilangkan rasa pegal di kakinya.
Di meja kini hanya ada Aleesa. Restu tengah ke toilet. Asyik menikmati choco ice seorang pria menghampiri Aleesa dan bersikap sok akrab.
"Masih ingat aku gak?" Aleesa menggeleng. Betapa jujurnya dia. Raut kecewa sedikit terlihat di wajah pria itu.
"Aku manager di perusahaan Om kamu, Pak Rindra." Dengan bangga dia menyebutkan jabatannya.
"Oh." Hanya kata itu yang menjadi jawaban dari Aleesa. "Aku tetap gak ingat."
Niat hati ingin mengambil hati seorang Aleesa Addhitama, keponakan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Sayangnya, Aleesa nampak acuh.
"Kamu mau pesan apa?"
"Makasih. Aku udah pesan kok." Aleesa menjawab pertanyaan pria itu tanpa menoleh. Dia asyik dengan benda pipihnya. Hingga kecupan di ujung kepala membuat Aleesa menegakkan kepalanya. Melihat ke arah siapa yang menciumnya.
Mata pria yang mengaku sebagai manager itupun melebar dengan sempurna. Apalagi melihat Aleesa yang tersenyum begitu manis. Tatapan tajam Restu berikan kepada rekan kerjanya itu.
"Lu bolos?" sergah pria yang bernama Andi.
Restu hanya diam dan tidak menggubris ucapan dari Andi. Aleesa menatap tajam ke arah Restu yang sudah terlihat tidak nyaman.
"Cobain ini deh." Aleesa memberikan gelas berisi choco ice kepada Restu untuk dia minum. Restu yang tidak suka cokelat terpaksa meminumnya dan itu membuat hati Andi panas karena bisa minum dengan sedotan bekas Aleesa.
"Akan gua laporin lu ke atas biar dipecat."
__ADS_1
Andi geram karena sedari tadi Restu terus bersikap dingin kepadanya. Tak menjawab barang satu katapun. Ditambah Aleesa yang terlihat begitu dekat dengan Restu.
"Berengsek!" geram Andi sambil berjalan menjauhi meja Aleesa dan Restu.
"Kamu gak takut diancam begitu?" Aleesa mulai mengejek Restu.
"Peduli amat."
.
Rio mengerang kesal di dalam hati karena banyak karyawan yang bersikap sok manis di depannya. Pantas saja Restu terus-terusan mengeluh dan kesal. Kini, dia merasakan hal yang sama.
"Pak, kok mau sih disuruh gantiin kerjaannya anak magang itu," ujar salah seorang karyawan perempuan.
"Emang ada yang salah?" Rio masih fokus pada layar segiempat di depannya.
"Ya enggak sih, harusnya Pak Rio yang ngawasin dia bukan turun tangan seperti ini."
"Sekarang gua tahu gimana rasanya jadi lu, Res. Kuping gua panas dari tadi diajak ghibah Mulu."
"Eh gila nih anak magang!" Salah seorang karyawan berkata dengan suara lantang. Itu tak luput dari pendengaran Rio.
Semua karyawan pun mendekat dan mata mereka melebar dengan sempurna melihat foto yang Andi kirimkan.
"Ternyata bolos dia," ujar karyawan yang lain.
Salah seorang karyawan merebut ponsel tersebut dan menunjukkan gambar yang dikirimkan oleh Andi.
"Lihat, Pak!"
Rio melihatnya hanya sekilas dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Beraninya ngajak jalan sepupu Pak Rio ini loh." Karyawan lain menambahkan.
"Gak ngukur diri, ya. Dia itu bagai langit dan bumi sama Aleesa."
"Mana mau juga adiknya Pak Rindra punya menantu bukan level keluarganya." Restu yang direndahkan tensi Rio yang mulai naik. Dia mulai menatap ke arah para karyawan lain.
"Kata siapa?" tanya Rio. Para karyawan itupun kompak menatap ke arah Rio.
"Mereka berdua akan menikah."
...***To Be Continue***...
Komen dong, makin sedikit amat sih komennya.
Oh iya, yang udah ke planet F aku mohon tolong baca ceritanya dari awal sampai tamat, ya. Biar Rangga dan Aleena bisa mengahsilkan pundi-pundi dollar. Yang belum ke sana, aku tunggu ya. ðŸ¤
__ADS_1