RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 50. Kembali (Zurich)


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Restu sudah menyumpahi pria paruh baya yang harusnya sudah dikerumuni belatung. Dia sangat murka ketika Aleesa terseret dalam hal ini.


Dia terus terhubung ke kamar Aleesa karena tanpa Aleesa tahu kamarnya dipasang cctv oleh Restu. Dia hanya memastikan bahwa kekasihnya baik-baik saja.


Hujan deras terus dia terabas. Dia bukan hanya ingin menyelamatkan madam Zenith. Dia juga ingin memastikan jika Aleesa baik-baik saja.


Pengawalan yang begitu rapat membuat musuh tak bisa masuk. Restu memang berakal cerdik. Dia pun mampu mengecoh musuh.


"Mr. R," panggil madam Zenith.


"Kita akan baik-baik saja." Jawaban Restu terdengar sangat yakin. Sedari tadi pun telinganya terus terhubung dengan seseorang.


Jam dua dini hari madam Zenith dan Restu tiba di kediaman madam Zenith. Hanya di Kota Zurich madam Zenith aman karena dia dijaga oleh banyak orang yang ada di setiap sudut jalan. Beda halnya jika dia berkunjung ke negara orang.


"Semuanya sudah aman, Madam. Saya pastikan mereka tidak akan bisa masuk ke Kota Zurich." Madam Zenith pun mengangguk. Di rumah besarnya pun banyak sekali pengawal.


"Saya permisi pulang, Madam." Restu nampak buru-buru.


"Bermalamlah di sini, Mr. R. Di luar tengah hujan deras dan petir sangat keras." Madam Zenith tak memperbolehkan Restu pulang. Namun, Restu tetap pada pendiriannya.


"Terima kasih atas tawarannya." Restu memilih pulang dan bukan apartment yang dia tuju. Melainkan kediaman Rindra.

__ADS_1


Mobil melaju sangat kencang dan Restu berjanji kepada dirinya sendiri untuk membunuh iblis berkedok manusia itu dengan tangannya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Aleesa.


Di sepanjang perjalanan pun dia terus terhubung dengan seseorang. Intinya, dia tidak ingin kecolongan. Hujan yang begitu deras tak ayal membuatnya melajukan mobil dengan kecepatan rendah. Dia terus mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata.


Mobil sudah memasuki area rumah Rindra. Restu turun dan membiarkan tubuhnya kehujanan. Dia juga masih mengenakan pakaian dinas. Menuju kamar Aleesa seperti maling padahal dia bisa mengetuk pintu rumah. Begitulah Restu.


Anak buahnya yang berjaga disuruh mundur oleh Restu. Begitu juga dengan Rio yang sudah keluar dari kamar Aleesa ketika mendengar suara mesin mobil di bawah.


Restu menghubungi Aleesa. Percuma jika dia mengetuk pintu kaca tidak akan terdengar karena derasnya hujan yang turun. Merasakan getaran ponsel membuat Aleesa terbangun. Matanya memicing ketika my brandal calling.


"Hallo, Kaka--"


"Aku di balkon." Aleesa terkejut dan dia segera turun dari atas tempat tidur membuka gorden yang menutupi pintu kaca. Seseorang sudah basah kuyup di luar sana.



"Aku mengkhawatirkan kamu." Tangan Restu membalas erat pelukan Aleesa.


"Aku lebih mengkhawatirkan kamu, Lovely."qq


Lama berpelukan Restu baru tersadar jika sang kekasih sudah ikut basah. Dia mengendurkan pelukannya dan membawa Aleesa masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu basah, Lovely." Restu menarik tangan Aleesa ke dalam kamar mandi dan mengeringkan tubuh Aleesa dengan handuk yang menggantung di sana.


"Kenapa Kakak selalu memperdulikan orang lain, padahal tubuh Kakak sendiri lebih basah dari aku." Tangan Restu pun berhenti mengeringkan tubuh Aleesa. Dia menatap sangat dalam wajah sang kekasih.


"Kepedulian aku pada seseorang melebihi pada diriku sendiri menandakan bahwa aku sangat mencintainya juga menyayanginya." Aleesa terdiam. Mata mereka sudah saling mengunci.


"Pedulinya aku karena aku sayang dan cinta sama kamu, Aleesa."


Perlahan kaki Aleesa berjinjit dan mengecup bibir Restu yang sedikit membiru karena kedinginan. Terkejut sudah pasti hingga Restu mulai menikmati dan juga membalas. Tubuhnya yang dingin tiba-tiba menghangat. Tangannya sudah menghidupkan shower yang memang tepat berada di kepala.



Tenggelam dalam sesapan yang memabukkan seakan mereka sudah lama berpuasa dan tak melakukannya.


"Love you, my Lovely."


"Love you too, Bie."


Pagutan itu berlanjut kembali dan semakin mesra. Seakan mereka tidak akan pernah bisa mengulangnya lagi.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ... Makin sepi aja sih 😔


Yang gak suka part ini skip aja, ya.


__ADS_2